Revalina

Revalina
Reva mulai tau



"Bukannya kamu kuliahnya siang, Rev, kok udah siap?" tanya Rai saat mendapati istrinya tengah memakai sepatu.


"Astagfirullah, aku lupa bilang sama kamu, aku mau mampir kerumah om Malik dulu, nanti aku sama Silvi bareng ke kampus," Reva berniat memperbaiki hubungannya dengan Silvi. Dirinya mulai sadar, tidak baik terus menerus hubungannya dengan Silvi sedingin ini, lagipula semuanya sudah terjadi, tak ada yang bisa dirubah lagi. Sekarang, Reva juga berusaha untuk mencintai Rai.


"Yaudah. Kita bareng aja, sekalian aku ke kantor,"


"Serius!" Rai mengangguk, lalu menarik tangan Reva menuju mobilnya membuat senyum merekah dibibir Reva. Entah mengapa Reva begitu bahagia hanya dengan hal kecil itu.


"Makasih yah Rai," ujar Reva ketika sudah sampai didepan rumah Malik.


"Hati-hati nanti kekampus nya," Reva mengangguk. "Salam buat tante Sarah, om Malik dan Silvi," lanjut Rai berucap.


"Siap," kata Reva sembari tangannya hormat kepada Rai membuat Rai tersenyum kecil, lalu Reva pun keluar dari mobil Rai.


Perlahan mobil Rai meninggalkan rumah Malik diiringi lambaian tangan dari Reva. Setelah mobil Rai tak terlihat lagi, Reva melangkah perlahan memasuki rumah Malik.


"Assalamualaikum," Sarah yang sedang menyapu ruang tamu, seketika melihat kearah pintu yang memang terbuka dan senyumnya langsung terpasang saat melihat Reva disana.


"Reva!" Sarah dan Reva sontak saja berpelukan.


"Reva rindu sama tante,"


"Tante kira kamu udah lupa sama tante," ujar Sarah bercanda.


"Nggak lah tante, itu nggak mungkin,"


"Reva!" Reva dan Sarah melihat kearah sumber suara itu, sontak saja Reva langsung berhambur ke pelukan Malik yang berjalan kearahnya.


"Apa kabar nak?" tanya Malik.


"Alhamdulillah baik, om,"


"Diantar siapa kesini?" tanya Malik lagi.


"Tadi diantar Rai, tapi Rai nya langsung kekantor, dia ada meeting. Rai juga titip salam buat om sama tante,"


"Salam balik, sampaikan nanti sama Rai,"


"Siap komandan. Ohya om, tante, Silvi mana?" ucap Reva.


Saat masuk kekamar Silvi ternyata tak ada yang berubah, masih sama seperti saat Reva masih tinggal dirumah ini. Dan kebiasaan Silvi juga masih sama, tidak pernah mengunci pintu kamar. Reva yakin, Silvi ada dikamar mandi, sebab sepupunya itu tak ada dikamar, dan terdengar suara air dari kamar mandi.


Reva memilih duduk diatas ranjang menunggu Silvi selesai mandi, dia memikirkan kata-kata untuk Silvi nanti.


"Gue udah maafin lo Sil, kita perbaiki semuanya yah..." ujar Reva seorang diri. "Aisss kayaknya jelek deh kalau kayak gitu. Gue nanti bilang apa yah sama Silvi,"


Salah satu kebiasaan Silvi itu lama dikamar mandi, dan Reva yang selalu menjadi korbannya. Apalagi saat mereka masih berangkat kampus bersama, mereka harus bangun pagi sekali, sebab Silvi yang lama dalam segala hal, mulai dari mandi, pakai baju, dandan, dan lain-lain.


Reva yang mulai bosan menunggu Silvi memilih membuka laci meja, dia berniat mengambil buku novelnya dilaci itu, dirinya juga baru teringat akan buku novel itu yang dia beli sehari sebelum Nathan datang melamar Silvi.


Namun saat laci meja terbuka, Reva melihat sebuah undangan pernikahan disana, tertulis nama Rai Oliver dan Bia Afshana.


Tiba-tiba ingatan Reva kembali pada saat Silvi menangis karena mendapat undangan pernikahan dari pria yang dia sukai.


Ya Tuhan, tolong jangan Rai, orang yang dicintai Silvi, batin Reva.


"Lo disini Rev?" Reva terkejut dengan suara yang tiba-tiba masuk ke indera pendengarannya, segera dia menutup kembali laci meja itu dengan novel yang sudah diambilnya, yang sekarang berada di tangannya.


"I..ya Sil," Silvi tersenyum lalu berlari memeluk tubuh Reva, Reva ingin membalas pelukan Silvi, namun tangannya serasa enggan membalas pelukan itu.


"Lo udah lama disini?" tanya Silvi setelah melepaskan pelukannya pada Reva, lalu segera berjalan menuju lemari untuk memilih pakaian yang akan dia kenakan.


"Lumayan lama," ucap Reva.


"Gue senang lo kesini, Rev. Sumpah, sepi banget semenjak lo nggak ada," ujar Silvi tanpa memandang kearah Reva.


"Sil, gue mau tanya sesuatu," ujar Reva ragu membuat Silvi sontak mengarah kearahnya.


"Tanya apa?"


"Cowok yang lo suka itu Rai kan?"


Deg.


Pakaian yang Silvi sedang pegang sontak terjatuh. Dari mana Reva bisa tau?