Revalina

Revalina
Bukan aku



"Lo kenapa sih Sil, cemberut mulu," kata Reva sembari menoel dagu Silvi yang tengah menonton drama Korea di laptopnya.


"Gue bilang jangan ganggu gue, gue lagi ngambek sama lo," Silvi ngambek padanya sudah dari kemarin dan Reva sendiri tidak tau apa penyebabnya.


"Why?. Kenapa lo ngambek sama gue?"


"Semenjak ada Nathan, lo itu jadi sering banget keluar Rev, udah nggak perduliin gue lagi," satu bulan belakangan ini memang Reva sering pergi sama Nathan, entah itu pagi atau malam. Andai bukan Nathan orangnya, mungkin Silvi tak akan seperti ini.


"Sorry deh Sil, lo kan tau ini pertama kalinya gue jatuh cinta," Reva sudah mengatakan bahwa dia mencintai Nathan satu Minggu yang lalu dan itu cukup membuat Silvi kepikiran, karena dua hari yang lalu saat Silvi bertanya tentang perasaan Nathan padanya, Nathan masih mengatakan dia mencintai Silvi.


"Iya, iya, tapi nggak harus lupa sama gue juga Rev!"


"Gue nggak lupa sama lo Sil. Lo juga kan yang selalu nolak kalau gue ajak jalan bertiga sama Nathan," yakali Silvi mau, berpapasan dengan Nathan saja dia tidak mau, tapi pastilah mereka berpapasan karena satu kelas.


"Udalah nggak usah dibahas, gue mau asik nonton drakor aja, supaya lo juga tau gimana rasanya dicuekin," Reva sontak memeluk erat tubuh Silvi, dan pada akhirnya terjadilah aksi perang-perangan bantal diantara mereka, sehingga Silvi lupa dengan drakor yang tengah ditontonnya.


Pagi ini lagi-lagi Reva dandan dengan sangat lama, dia harus kelihatan cantik didepan Nathan, berulang kali juga Silvi mengajaknya berangkat, namun gadis itu selalu bilang sebentar.


"Hy Nath," sapa Reva yang dibalas senyuman oleh Nathan.


"Tumben lama banget datang ke kampusnya, gue udah nungguin lo tau Rev, mau ngajak lo ke perpus lagi, tapi bentar lagi dosennya masuk,"


"Sorry Nat, ini tadi Silvi dandannya lama," Silvi sontak membulatkan matanya kearah Reva, baru saja gadis itu ingin protes, dosen sudah masuk lebih dulu.


"Gue cuman bercanda Sil, jangan marah yah," bisik Reva yang dibalas tatapan malas dari Silvi.


"Nat, gue ke toilet sebentar, kebelet banget," Nathan mengangguk sambil tersenyum, lelaki itu memang selalu senyum didepan Reva, hal itu juga yang selalu buat gadis itu kegeeran.


Baru satu menit Reva pergi, Silvi datang menghampiri Nathan yang tengah bermain hp diatas motor.


"Jauhin Reva, Nat, udah berapa kali gue bilang!!" kata Silvi kesal.


"Hanya Reva yang paling dekat sama gue di kampus ini, sorry, tapi nggak bisa!"


"Kenapa nggak cari teman cowok aja sih?, kenapa harus Reva?" Nathan turun dari atas motornya dan berdiri tepat didepan Silvi.


"Karena Reva sepupu lo Sil, orang yang paling banyak tau tentang lo," Nathan terdiam sesaat, rasanya susah sekali mendapatkan cinta Silvi. "Jujur, gue deketin Reva supaya gue bisa dekat sama lo lagi, gue deketin Reva untuk tau hal-hal apa yang berubah dari lo setelah pindah, gue ngelakuin semua itu karena cinta sama lo Sil, tapi apa! lo nggak pernah ngehargain usaha gue sedikitpun,"


"Gue sama seperti lo Nat, yang belum bisa moveon sampai sekarang, bedanya gue nggak nyakitin siapapun dengan perasaan ini, tapi lo, lo nyakitin Reva,"


"Gue nggak pernah ada niatan buat nyakitin cewek sebaik Reva,"


"Dengan lo ngasih dia perhatian lebih, ngasih dia harapan, itu sudah cukup buat dia sakit hati. Gue duluan Nat," Silvi melangkah pergi berpapasan dengan jatuhnya air matanya.


Jadi, selama ini aku yang kegeeran, Nathan ternyata mencintai Silvi, bukan aku, batin Reva.


Tanpa Silvi dan Nathan sadari, Reva mendengar percakapan mereka. Tadi saat gadis itu hendak ke toilet, ditengah jalan, dia merasa sudah tidak ingin buang air kecil, mungkin karena kelamaan ditahannya.


Reva kembali ke parkiran, namun dia terkejut mendengar percakapan Silvi dan Nathan. Rasanya Reva ingin teriak, mengatakan pada dunia betapa bodoh dirinya, namun semua itu tertahan dan dia lampiaskan pada air matanya yang sudah terjatuh, semakin lama, air mata itu semakin deras keluar dari mata indahnya.