Revalina

Revalina
Sholat subuh bersama



Malam ini Reva bingung, bingung harus tidur dimana, apakah Rai sudi berbagi ranjang dengannya. Reva sering membaca novel dan kebanyakan lelaki tak akan mau tidur dengan perempuan yang tidak dicintainya apalagi jika diposisi seperti Rai.


"Kenapa belum tidur?" suara itu membuyarkan lamunan Reva yang tengah terduduk disofa kamar Rai.


"Hmm...hmm..aku..kita tidur seranjang?" Rai mendekat kearah Reva disertai senyuman diwajahnya, melihat senyuman itu jantung Reva berdetak lebih kencang dari biasanya, entah itu karena perasaan Reva sendiri atau karena jantung Bia yang ada pada dirinya.


"Sekarang status kita apa?" tanya balik Rai.


"Suami-istri,"


"Nah itu kamu tau, kita suami-istri pasti akan tidur seranjang, jangankan berbagi ranjang, berbagi segalanya juga aku mau," Reva tersenyum mendengar perkataan Rai, hatinya menghangat, dia merasa seperti dicintai, sungguh beruntung Bia dicintai oleh lelaki seperti Rai.


Mereka akhirnya tidur bersama dengan guling ditengah-tengah. Namun saat tengah malam, Reva terbangun karena haus dan merasa jika suaminya tak ada disampingnya. Saat gadis itu membuka mata, benar saja, Rai tak ada disampingnya, Reva segera melihat jam yang ada di hpnya dan ini baru pukul satu malam, kemana suaminya itu?


Mata Reva menangkap sosok pria yang tertidur disofa, itu adalah Rai, entah mengapa Reva menjadi berfikiran yang tidak-tidak.


"Apa Rai tidur disofa karena tak ingin seranjang denganku?" gumam Reva pada dirinya sendiri. Air matanya perlahan jatuh, jika memang dugaannya benar, kasihan Rai, dia pasti tersiksa dengan semua ini.


Reva mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Rai, lalu memandang sebentar wajah lelaki itu, Rai terlihat lucu saat tidur, tanpa sadar bibir Reva mengangkat senyuman.


"Kamu lelaki yang baik Rai, takdir ini nggak adil buat kamu," Reva kembali ke ranjang, dia mengurungkan niatnya untuk mengambil minum di dapur.


"Rai, aku masih ngantuk, sebentar lagi yah,"


"Kalau kamu tetap tidur dan tanpa diminta-minta kamu meninggal, lalu bagaimana?" Reva sontak membulatkan matanya dan langsung berbalik menatap Rai dengan takut.


"Ngeri banget sih, kamu doain aku meninggal?!"


"Bukan mendoakan, aku juga tidak mau menjadi duda. Hanya saja memperingatkan kamu untuk tidak menunda sholat karena kita tidak tau kapan kematian itu datang. Dulu aku dan Bia juga sering sholat di akhir waktu, kami asik menghabiskan waktu bersama, sampai saat dia meninggal dan aku begitu terpuruk, baru aku tersadar kematian tidak ada yang tau. Dosaku banyak Rev, belum sanggup berhadapan langsung sama Allah, aku malu,"


Lagi dan lagi Reva terkagum-kagum dengan cara berfikir Rai, tak ada alasan kan untuk tidak mencintai lelaki sebaik itu, apalagi suaminya yang jelas-jelas sudah sepatutnya dia cintai. Hanya saja Reva takut akan satu hal, takut terluka lagi ketika sudah jatuh terlalu dalam.


Untuk pertama kalinya Reva diimami sholat oleh Rai, rasanya sangat menyejukkan hati, apalagi mendengar lantunan-lantunan ayat yang Rai baca. Setelah sholat, Reva mencium punggung tangan Rai dan dibalas usapan lembut dikepala gadis itu. Sampai saat ini Rai belum bisa menyentuh Reva lebih intens lagi, bayang-bayang akan Bia selalu menghantuinya.


"Tidak baik tidur setelah subuh!" kata Rai saat melihat istrinya itu hendak tidur kembali.


"Tapi aku ngantuk Rai, boleh yah?" Rai menggeleng, tidak baik untuk kesehatan jika tidur setelah subuh.


"Kamu cari kesibukan lain diluar kamar supaya tidak mengantuk,"


"Ini kode yah, kamu mau kan aku masak dan beres-beres rumah bukan malah tidur, pake acara bilang tidur setelah subuh nggak baik lagi," Rai menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Reva, gadis itu salah paham akan kata-katanya. Kan bisa Reva jogging atau senam, itu akan sangat baik untuk kesehatan dan melatih otot-ototnya, itulah kesibukan diluar kamar yang Rai maksud, bukan beres-beres dan segala macamnya.