
Reva memasuki kampusnya, sebenarnya hari ini dia tak ingin datang kekampus karena dia belum mendapat pekerjaan dan rumah, tapi jika tidak masuk dia takut akan ketinggalan begitu banyak pelajaran, jadi setelah dari kampus baru dia pergi mencari rumah dan pekerjaan.
"Kenapa nggak datang kemarin, Rev?" tanya Nathan yang berpapasan dengan Reva didepan pintu ruang kelas.
"Hmm lagi nggak enak badan," ujar Reva lalu berjalan memasuki kelas dan dia tak mendapati Silvi didalam kelas. "Nath, Silvi belum datang yah?"
"Iya nih, gue telfon tapi nggak diangkat, nggak tau deh kenapa,"
"Lo nggak berniat kerumahnya gitu kalau dia nggak datang beneran nanti?" tanya Reva dan Nathan berfikir sejenak.
"Kayaknya gue bakal kesana deh"
"Gue ikut," Nathan sontak menatap Reva. Dia kembali melihat sifat Reva kepada Silvi saat pertama kali dirinya masuk ke kampus ini, sifat yang perhatian.
"Tumben perduli sama Silvi, semenjak lo nikah lo udah nggak perduli lagi sama dia bahkan membenci dia, kenapa sekarang berubah lagi?"
"Gue hanya mau berdamai sama diri gue sendiri dan keaadan," Reva memilih memasuki kelas dan duduk di bangkunya, dia merasa tak nyaman ditanya seperti itu oleh Nathan.
Setelah seluruh mata kuliah hari ini selesai, Nathan bersama dengan Reva segera menuju kerumah Silvi. Sesampainya mereka disana, Reva dapat melihat mobil Rai terparkir didepan rumah Silvi.
"Kenapa nggak masuk, Rev?" tanya Nathan sembari mengikuti arah tatapan Reva. "Oh, Rai ada disini juga?"
"Gue kayaknya nggak jadi masuk deh Nath, gue lupa udah ada janji sama orang lain, gue duluan," Nathan segera mencekal tangan Reva membuat langkah Reva terhenti.
"Lo kenapa sih Rev? aneh banget tau nggak," Reva menarik paksa tangannya dari cekalan Nathan.
"Sampaikan salam gue aja sama Silvi" Reva pun segera berlari pergi dari sana, dia belum mau bertemu Rai, Reva masih dalam tahap penyembuhan, jadi dia tak ingin usahanya dua hari ini untuk sembuh dan berdamai dengan keadaan itu sia-sia hanya karena menatap mata Rai nantinya.
Sudah setengah menit Reva berjalan kaki dari rumah Silvi, kakinya sudah cukup lelah sehingga dia memutuskan untuk berhenti di sebuah kursi dipinggir jalan.
"Reva!" suara itu, suara orang yang paling ingin Reva hindari, Reva menutup matanya tak ingin melihat siapa yang berdiri disampingnya saat ini, dapat dirasakan oleh Reva orang itu duduk disampingnya. "Apa sebenci itu kamu sama aku sampai lihat aku aja kamu udah nggak mau?"
"Tinggalin aku sendiri!" kata Reva.
"Aku akan pergi dengan kamu,"
"Rai please, jangan buat keadaan ini semakin sulit buat aku," kata Reva masih dengan menutup matanya.
"Dua hari aku biarin kamu pergi, biarin kamu menenangkan diri kamu dulu, tapi sekarang aku rasa udah waktunya kamu kembali," ujar Rai membuat Reva menatap lelaki itu.
Sejenak pandangan mereka bertemu, lalu Reva memutuskan pandangan itu.
"Aku benar-benar mau kita pisah Rai, jadi tolong jangan ganggu aku," Reva berdiri hendak pergi, namun langkahnya terhenti kala Rai memeluk tubuhnya dari belakang.
"Kalau aku bilang aku mencintai kamu apa kamu bakal tetap pergi," Reva terdiam, pikirannya kembali saat dia masih berada dirumah Rai. Setelah mengingat semua kejadian itu, Reva menjadi yakin, Rai mengatakan hal itu hanya untuk membujuk nya pulang.
"Rai, tolong lepasin," ujar Reva sembari melepaskan pelukan Rai dari tubuhnya dan menjaga jarak dari lelaki itu. "Apa kamu nggak capek bohongin perasaan kamu sendiri nantinya. Rai, jangan buat aku berharap lebih lagi sama kamu, kamu jelas tau itu menyakitkan buat aku," Reva berlari pergi dari hadapan Rai degan kakinya yang pegal karena berjalan tadi.
Baru beberapa menit Reva berlari, dia pun terjatuh, kakinya benar-benar sudah tidak bisa diajak berjalan lagi, dia pun memilih memesan taxi online. Sebenarnya Reva tak punya banyak uang, namun dia tak punya pilihan lain selain memesan taxi.
Satu yang ada di pikiran Reva saat ini, Menjauh dari Rai Oliver.