
"Masuk Sil, Reva ada di kamar mungkin," ujar Rai. Tadi Silvi dan Rai bertemu didepan rumah. Silvi tau kalau Reva sedang sakit makanya dia datang menjenguk gadis itu, dan Rai baru saja pulang dari kantor.
"Kamu udah pulang?" tanya Reva sembari tersenyum dari arah dapur berjalan kearah Rai, namun senyumannya pudar kala melihat Silvi disamping Rai.
"Kok nggak istirahat?" Reva masih saja terdiam, pandangannya beradu dengan pandangan Silvi seolah mereka berdua tengah berbicara lewat tatapan mata. "Reva!"
"Iya,"
"Kenapa nggak istirahat?"
"Aku bos...bosan dikamar, jadi aku bantuin mama siapin makan malam,"
"Padahal tadi mama udah larang, tapi istri kamu ini ngeyel pengen bantuin mama," ujar Indah sembari merangkul Reva.
"Tapi kamu nggak papa kan?" Indah tersenyum melihat kekhawatiran diwajah Rai ketika menatap Reva, dia selalu berdoa semoga pernikahan anaknya selalu bahagia, semoga Rai menerima Reva bukan hanya karena jantung Bia ada pada gadis itu.
"I'am okay Rai," Rai mengangguk lega. "Kok kamu bisa bareng Silvi?" tanya Reva.
"Kami nggak sengaja ketemu didepan," ujar Silvi tak ingin Reva salah paham.
"Yaudah, kamu ngobrol gih sama Silvi, aku keatas dulu mau bersih-bersih," ujar Rai lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, Indah pun juga pamit untuk menelfon Bryan yang pergi berkumpul bersama rekan-rekan bisnisnya untuk pulang karena sudah mau Maghrib.
"Kita bicara di ruang tamu aja," Silvi mengangguk lalu mengikuti langkah Reva ke ruang tamu, dan duduk disebelah Reva. "Mau ngapain kesini?" tanya datar Reva.
"Maafin gue Rev, soal kemarin," Reva terseyum sinis, dia berusaha melupakan kejadian kemarin, namun Silvi malah mengingatkannya kembali.
"Gue udah lupa,"
"Dengar yah Sil, kemarin gue datang ke rumah lo untuk perbaikin hubungan kita, gue pengen hubungan ini kayak dulu lagi, tapi kayaknya emang nggak akan bisa kayak dulu lagi," Silvi menutup matanya merasakan sakit dihatinya kala mendengar perkataan Reva. Dia sudah berusaha untuk melupakan Rai, bahkan sampai detik ini dia masih berusaha.
"Bisa Rev. Gue tau gue banyak salah sama lo, gue minta maaf,"
"Lo tau kalau gue sakit kan Sil? datang kesini buat jenguk kan? bukan buat gue tambah sakit, jadi stop bahas ini," ujar Reva.
"Sebenarnya kita impas Rev, gue suka sama Rai dan dia nikah sama lo, dan lo yang suka sama Nathan tapi gue terima lamarannya. Kita udah impas, jadi gue mohon, hubungan kita bisa seasik dulu lagi," Reva menggeleng tak percaya, Silvi mengatakan hal itu, dan apa katanya, impas, bagi Reva tidak. Jelas-jelas Reva tidak tau kalau Silvi menyukai Rai, dan Silvi jelas-jelas dia tau kalau Reva menyukai Nathan.
"Apa lo bil..." ucapan Reva terhenti kala dia melihat Rai turun dari tangga dan berjalan kearah mereka, Rai tidak boleh tau tentang masalahnya dengan Silvi. "Gue buatin minuman dulu Sil," lanjut Reva berucap seraya berjalan menuju dapur.
"Mau kemana Rev?" tanya Rai dan Reva menunjuk dapur membuat lelaki itu mengangguk paham. Rai pun duduk disalah satu sofa diruang tamu itu.
Untung aja Reva langsung potong omongannya, dia pasti sama, sama gue, nggak pengen Rai tau tentang hal ini, apalagi masalah perasaan gue, batin Silvi.
"Sil, kok ngelamun?" Silvi sontak menatap Rai.
"Ha, oh, gue...gue nggak ngelamun kok, tadi kepikiran aja sama tugas kampus yang banyak banget akhir-akhir ini,"
"Sabar aja Sil, lo kan juga udah mau lulus, bentar lagi plong," Silvi mengangguk seraya tersenyum. "Gue rindu deh masa-masa SMA kita, saat masih ada Bia,"
"Iya, gue juga rindu. Cara Bia cairin suasana itu yang paling gue rinduin sih," keadaan menjadi sedih seketika, kehilangan Bia adalah salah satu hal yang paling menyedihkan buat Silvi.
"Gue rindu semua hal tentang Bia, sulit banget ngelewatin hari tanpa gue ngeliat lagi tawa dia, ngelihat tawa Bia itu yang buat gue semangat jalanin hari," Reva mendengar ucapan Rai itu, seketika tangannya melemas, untung saja nampan berisi gelas ditangannya tak terjatuh, dia pun kembali ke dapur untuk menetralkan perasaannya terlebih dahulu.
Aku kira kita sama-sama membuka hati agar kita bisa saling mencintai, namun nyatanya, hanya aku yang membuka hati. Kamu masih memikirkan dia yang kusebut masa lalu. Aku kalah Rai, selalu kalah dengan orang yang kau cintai, batin Reva dengan air mata yang perlahan menetes.