
Reva memasuki gerbang kampusnya, entah kenapa dia mulai merasa takut. Di dunia ini tak ada lagi tempat yang membuatnya nyaman.
"Hy Rev," sapa Silvi saat Reva memasuki kelas, Reva hanya membalasnya dengan senyuman kecil lalu duduk di bangkunya. Setelah keduanya tak akur, Silvi dan Reva memang sudah berbeda tempat duduk.
"Duduk bareng gue lagi yuk, Rev," ajak Silvi sembari duduk disamping Reva.
"Gue disini aja, Sil,"
"Lo masih marah kan sama gue?" Reva menatap Silvi sebentar, lalu menggeleng. "Gue minta maaf, Rev," kata Silvi tak percaya, sebab sikap Reva masih terasa dingin.
"Gue maafin," Silvi tak lagi memaksa Reva, dia segera bangkit dari duduknya dan berjalan ke tempat duduknya sendiri.
Tak terasa sudah sampai jam istirahat, semua teman kelas Reva satu-persatu keluar untuk ke kantin kampus.
"Ke kantin yuk, Rev," ajak Silvi.
"Nggak Sil, gue ada bekal sama bawa air disiapin sama Rai, perhatian banget kan dia," Silvi tersenyum sambil mengangguk. Dia tau, Reva pasti sengaja mengatakan itu supaya dirinya sadar bahwa Rai milik Reva.
"Gue ikut senang dengarnya," sebenarnya bohong, dia tidak seratus persen senang, ada rasa sakit dihati Silvi, namun dia sadar akan posisinya.
"Sil, ke kantin bareng gue aja yuk," ajak Nathan sembari menggenggam tangan Silvi. Silvi dan Reva pun menatap tangan Silvi yang digenggam Nathan.
"Iya," ujar Silvi.
"Tapi, lo tunggu diluar dulu yah, gue mau bicara sama Reva sebentar," Silvi melepaskan genggaman Nathan lalu berjalan keluar sambil sesekali melirik kebelakang.
"Mau bicara apa?" tanya Reva.
"Gue minta maaf Rev, tentang kejadian di taman waktu itu. Gue sadar, kata-kata gue udah keterlaluan,"
"Oke, gue juga udah lupain. Jangan buat Silvi nunggu, mending lo samperin dia sekarang," ujar Reva sembari memakan bekalnya.
Setelah kepergian Nathan, Reva mengambil hpnya dan mengirimkan pesan pada Rai, bahwa dia terlambat pulang karena mau mampir di toko buku, ada buku yang ingin dibelinya untuk skripsinya nanti.
"Sampai disini dulu pertemuan kita, tolong kerjakan soal dihalaman 279, dikumpul Minggu depan,"
"Baik pak," Dosen itu keluar dari kelas dengan dua buku ditangannya.
Reva juga segera membereskan bukunya dan segera keluar dari kelas, dia ingin mampir sebentar di perpustakaan kampus, sapa tau saja buku yang ingin dibelinya itu ada di perpustakaan, jadi dia tidak usah ke toko buku. Namun nyatanya saat dia mencari buku itu di perpustakaan, dia tak mendapatinya.
"Padahal malas banget sebenarnya ke toko buku lagi," Reva pun berjalan malas keluar kampus. Langkahnya terhenti kala melihat dua orang berbeda jenis kelamin tertawa begitu lepas.
Sakit sebenarnya melihat pemandangan itu, suaminya bisa tertawa begitu lepas bersama Silvi, tapi tak bisa jika bersamanya. Jika Rai bersamanya pasti Bia yang selalu dibahas dan ujung-ujungnya mereka akan bertengkar, namun kenapa jika bersama Silvi, tidak.
"Jangan berfikir yang macam-macam, mungkin mereka lagi bicarain hal tentang masa SMA dulu makanya sampai ketawa bareng," Reva menatap kearah sampingnya kala mendengar seseorang berucap, dan pandangannya langsung beradu dengan tatapan Nathan.
"Gue ng..gak mi..mikir macam-macam," ujar Reva gugup.
"Reva!" teriakan Rai mengalihkan pandangan Reva pada pria itu. Reva melihat Rai berlari kearahnya diikuti dengan Silvi berjalan dibelakang Rai.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Reva.
"Aku pengen jemput kamu,"
"Aku mau ke toko buku dulu Rai,"
"Aku antar ke toko buku," Rai pun menggenggam tangan Reva membuat Reva menatap Silvi dengan tatapan yang sulit diartikan, Silvi membalas tatapan itu dengan senyuman dibibir nya. "Gue sama Reva duluan yah," lanjut Rai berucap.
"Hati-hati Rev, Rai," kata Nathan dan Silvi bersamaan.
"Cemburu kan?" tanya Nathan karena melihat pandangan Silvi tak lepas dari Reva dan Rai sampai mereka pergi.
"Apaansih Nat, mending kita pulang juga,"
"Cinta dihati lo masih buat dia kan, Sil?" Silvi menghembuskan nafasnya kasar, dia tak ingin percakapannya dengan Nathan berakhir bertengkar nantinya.
"Nat, gue nggak pengen bahas ini dan berakhir kita berantem,"
"Kita nggak akan berantem. Gue cuman pengen tau usaha gue buat lo jatuh cinta selama ini udah berhasil atau nggak,"
"Gue masih berusaha buat jatuh cinta sama lo Nat, kasih gue waktu sebentar lagi,"
"Gue udah duga, perasaan lo masih buat Rai,"
"Gue minta maaf, Nat, gue udah berusaha, tapi..."
"Nggak papa, gue akan coba lebih keras lagi buat lo suka sama gue. Yaudah, ayok kita pulang," ujar Nathan sembari tersenyum kearah Silvi, lalu mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya pergi.
Gue berharap lo nggak akan pernah nyerah buat gue suka sama lo Nat, gue janji, perjuangan lo sebentar lagi, batin Silvi.