
Hari ini adalah hari dimana Bia dan Rai akan menikah. Silvi tak akan datang, dia akan menjaga Reva disini, terlebih lagi dia tak ingin melihat pernikahan orang yang dicintainya, takut tak bisa menahan diri dan malah mengungkapkan perasaannya.
"Lo nggak datang ke pernikahan Rai?" tanya Nathan membuyarkan lamunan Silvi yang tengah terduduk didepan ruangan Reva.
"Nggak, gue mau jagain Reva,"
"Itu jadi alasan lo buat nggak datang?, lo emang nggak mau datang kan?"
"Lo salah Nathan, itu bukan sebuah alasan, gue emang nggak mau ninggalin Reva disini,"
Tiga jam berlalu, jika dilihat dari jam saat ini Rai dan Bia pasti sudah selesai Ijab Qabul, satu tetes air mata Reva jatuh, namun segera dihapusnya. Lalu gadis itu melihat dari balik jendela ruang rawat Reva, dan air mata lagi-lagi jatuh di pipinya, kali ini air matanya untuk keadaan Reva.
"Silvi," panggil seseorang yang ternyata adalah Sarah bersama Malik dan Dokter serta beberapa suster. Dokter dan Suster itu pun langsung masuk kedalam ruang rawat Reva dan mendorong ranjang Reva menuju ruang operasi.
"Ma, Reva udah dapat donor jantung?"
"Iya sayang, tadi pagi Dokter menghubungi mama bilang kalau ada pasien yang ingin mendonorkan jantungnya untuk Reva, perempuan itu juga sudah meninggal," Silvi mengangguk mengerti, dia tidak bertanya lebih dan langsung memanjatkan doa untuk Reva dalam hatinya.
"Kalian nggak pergi ke acara Rai dan Bia?" tanya Malik pada Nathan dan Silvi. Kompak keduanya menggeleng.
"Aku mau nungguin Reva, pa, disini,"
"Saya juga om, dan nggak mungkin juga saya ninggalin Silvi saat dia sedang bersedih," Malik dan Sarah pun tersenyum melihat perhatian Nathan pada putri mereka, setelah keadaan Reva membaik, mereka akan membahas tentang Nathan dan Silvi lagi, toh kedunaya sudah setuju untuk menikah.
Setelah berjam-jam menunggu, Dokter akhirnya keluar dan mengatakan semuanya berjalan lancar, kondisi Reva juga sudah stabil dan akan dipindahkan keruang rawat biasa.
"Besok akan ada seseorang yang menemui kalian, dia adalah kekasih dari perempuan yang mendonorkan jantungnya untuk Reva, biar dia yang menjelaskan semuanya," ujar Dokter.
Perlahan mata Reva terbuka, dia mengarahkan pandangannya ke jendela ruangan dan terlihat sudah pagi. Reva mengernyitkan dahinya bingung, dia dimana?, kenapa ruangan ini serba putih?
Namun sesaat kemudian dia sadar bahwa dia dirumah sakit mengingat kejadian terakhir yang diingatnya, dan melihat Silvi, Sarah, Malik tidur dikasur yang ada diruangannya, yah ruangan Reva adalah ruangan VIP.
Setetes air mata Reva jatuh kala mengingat kenapa dia bisa drop, buat apa dia bangun lagi, kenapa tidak meninggal saja dan ikut mama dan papanya, itulah difikiran Reva.
"Reva, kamu sudah sadar!" suara seseorang dari arah pintu memicu perhatian Reva, disana terlihat Nathan dengan kantong kresek ditangannya yang sepertinya berisi makanan dan snack. Suara Nathan itu juga yang membangunkan Sarah, Silvi dan Malik.
"Rev, gue senang banget lo udah sadar, sepi tau nggak ada lo," ucap Silvi yang langsung mendekat kearah Reva dan memegang tangan sepupunya itu, namun dengan cepat Reva melepaskan pegangan Silvi membuat Silvi mengernyitkan dahinya. Dia tau kenapa Reva seperti ini.
"Tante Sarah," panggil Reva.
"Iya sayang, kamu perlu sesuatu?"
"Aku lapar,"
"Biar aku aja yang suapin Reva ma," Silvi hendak mengambil piring yang berada ditangan mamanya tapi terhenti oleh kata-kata Reva.
"Aku mau disuapin tante Sarah," boleh kah Silvi menyesal, dia menyesali keputusannya malam itu, keputusan yang membuatnya kehilangan Reva. Memang Reva tidak meninggal, tapi sikap Reva begitu membuat Silvi terluka.