Revalina

Revalina
Malu!



Gue harus gimana bersikap sama lo Sil, gue sendiri bingung, pengen baik sama lo kayak dulu, tapi nggak tau kenapa sikap gue nggak bisa kayak dulu lagi, gue butuh waktu untuk sembuhin rasa kecewa dihati gue yang udah lo ciptain, batin Reva.


Cukup lama Reva duduk sendirian ditaman, air matanya terus saja jatuh perlahan-lahan, sampai pada dimana sebuah tangan kekar menghapus air matanya itu dengan lembut.


"Rai,"


"Ice cream buat kamu," Reva pun mengambil ice cream yang Rai sodorkan dengan senyuman di wajahnya. "Aku baru tau satu hal dari kamu, cengeng ternyata," lanjut Rai berucap membuat Reva yang tadinya ingin mengucap terima kasih pada Rai tidak jadi, wajahnya yang tadi tersenyum pun berubah cemberut.


"Aku nggak cengeng!"


"Terus kalau nggak cengeng apa namanya?"


"Nangis,"


"Menangis tandanya kamu cengeng,"


"Nggak. Nangis itu manusiawi kalau kita merasa nggak baik-baik aja, capek tau pura-pura kuat," Rai tersenyum lalu membawa Reva kedalam dekapannya membuat Reva membeku ditempatnya, mulutnya serasa kelu untuk berbicara.


"Kata orang, kalau kita sedih, kita hanya butuh pelukan. Pelukan aku buat kamu nyaman nggak Rev?"


karena tak ada jawaban dari Reva, Rai pun melepaskan pelukannya.


"Kamu kenapa?, pelukan aku nggak buat kamu nyaman yah?"


"Jantung aku kok kencang banget berdebar, itu pertanda kalau aku suka yah sama kamu,"


"Jantung itu punya Bia, Rev, dan Bia cinta sama aku, jadi pasti akan berdetak kalau didekat aku," benar kata Rai, ini jantung Bia, jelas berdetak jika berada disampingnya. "Aku pengen jantung yang Bia kasih ke kamu terus berdetak lebih cepat jika didekat aku, bisa kan?" Reva mengangguk.


Sesampainya dirumah, Reva mencium bau lezat dari dapur, segera kakinya melangkah menuju dapur dan melihat mama mertuanya tengah membuat kue.


"Waw, kuenya pasti enak. Kenapa nggak tunggu Reva pulang ma, baru kita buat kuenya bareng, Reva juga pengen diajarin mama cara bikin kue,"


"Nanti malam, mama ajarin buat kue," ucap Indah membuat Reva tersenyum.


"Yaudah ma, aku ke kamar dulu yah bersih-bersih," Indah pun mengangguk seraya berucap.


"Cepat yah! terus cobain kue buatan mama,"


Saat sedang asik mandi, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka membuat Reva terkejut dan cepat-cepat mengambil handuknya, disana Rai berdiri dengan tampang terkejut.


"Rai keluar, cepat!!" teriak Reva menahan malu, Rai pun dengan cepat menutup pintu kamar mandi itu kembali.


"Aish, bodoh banget sih Rev, kenapa juga pintunya lupa gue kunci," gerutu Reva sambil mengunci kamar mandi.


Sudah setengah jam sejak kejadian tadi dan Reva masih saja berada didalam kamar mandi, dirinya sangat malu menampakkan diri didepan Rai.


Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Apakah Rai melihat bagian tubuhnya tadi?, mau ditaro dimana mukanya saat bertemu Rai nanti?, dan masih banyak pertanyaan lainnya.


"Rev, mama tungguin kamu dibawa buat coba kuenya, cepatan keluar!!" Reva sontak saja terkejut mendengar suara Rai, dia sungguh malu. Itu baru saja suara, bagaimana jika muka Rai yang dia lihat nanti.


"Iy...a, sebentar lagi!!"


Sebelum keluar kamar mandi, Reva mengintip dulu memastikan apakah Rai berada dikamar atau tidak, kali ini dia beruntung, Rai tidak berada dikamar. Dia pun segera berganti baju.


Namun saat kakinya hendak keluar kamar, dia menjadi ragu. Rai pasti tengah bersama Indah dan Bryan.


Cekrek


Suara pintu terbuka membuat Reva yang berdiri dibelakang pintu menjadi terkejut, namun rasa terkejutnya berubah menjadi sakit dikepalanya saat pintu itu dengan keras menubruk kepalanya.


"Ahk," ringis Reva kesakitan.


"Astaga Reva!!" Rai segera memegang kepala Reva dan meniup memar dijidat istrinya itu membuat Reva tertegun karena wajah Rai yang terlihat sangat khawatir serta jarak mereka yang teramat dekat. "Tunggu sebentar disini, aku ambil es batu dulu buat kompres jidat kamu,"


Tidak butuh waktu lama, Rai datang kembali dengan es batu yang ditutupi kain. Rai pun menarik Reva untuk duduk diatas ranjang dan dengan lembut dia mengompres jidat Reva yang memar.


"Kenapa juga sih kamu berdiri dibelakang pintu,"


"Aku malu Rai," perkataan Reva sukses membuat Rai menghentikan kegiatannya mengompres jidat istrinya itu.


"Malu?, malu karena apa?"


"Kejadian dikamar mandi tadi," sontak Rai tertawa membuat Reva bingung. Rai tau Reva pasti malu, dan supaya istrinya itu tidak canggung padanya makanya Rai tertawa menanggapi perkataan Reva. "Kok ketawa?"


"Aku nggak lihat apa-apa Rev, kamu pasti fikir aku lihat sesuatu kan," Reva mengangguk malu membuat Rai mengacak rambut istrinya itu dengan penuh sayang. "Lagi pula biarpun aku lihat, nggak masalah, kan kita udah sah,"


"Aku nggak mau kamu lihat tubuh aku sebelum kita saling mencintai Rai,"


Sejujurnya Rai juga seperti itu, dia tak akan menyentuh Reva sebelum dia mencintai istrinya itu sepenuhnya tanpa bayang-bayang Bia, namun sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama atau mungkin tidak akan pernah, Rai sendiri pun tidak yakin bisa memberikan hatinya untuk orang lain selain Bia, biarpun itu istrinya sendiri.