Revalina

Revalina
Revalina



Perkenalkan namaku Revalina Arabela, gadis yang saat ini tengah menempuh jenjang kuliah.


Ibu dan ayahku meninggal dua tahun yang lalu akibat kecelakaan, aku tak pernah ingin tau siapa yang salah dalam kecelakaan itu, apakah ibuku dan ayahku memang sengaja ditabrak atau bagaimana, intinya korban dari kecelakaan itu hanya mereka berdua. Aku punya alasan kenapa aku tak ingin tau lebih jelas tentang kasus kecelakaan itu, ku biarkan begitu saja dan berusaha ikhlas atas semua yang telah terjadi, toh ibu dan ayahku tak akan pernah kembali lagi.


Alasanku, karena takut aku akan bertindak nekat jika memang ibu dan ayahku sengaja dibunuh, aku takut kedua tanganku ini membunuh orang itu, jadi aku memilih untuk tidak mau tau.


Setelah kedua orang tua ku meninggal, aku tinggal bersama tante Sarah dan om Malik, serta putri mereka, Silviana Alexi.


Silvi bukan hanya sekedar sepupu untukku, dia seperti sahabat, saudara kandung, dan kami sangat dekat, terlebih lagi kami seumuran, satu kampus dan satu kelas.


"Reva!!" teriakan Silvi itu menggelegar didalam rumah, aku tau kenapa dia marah pagi ini. Tadi malam aku mencoret mukanya menggunakan spidol, jangan bilang aku jail, karena dia juga melakukan itu padaku dua hari yang lalu, jangan bilang juga aku pendendam.


Sebelum Silvi memukul ku, aku harus menyelamatkan diri dan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan ku adalah tante Sarah, sebab om Malik sudah berangkat kerja pagi ini.


"Ma, biarin aku kasih dia pelajaran ma, liat muka anak mama yang cantik ini dibuat ondel-ondel sama dia!" Silvi terus berusaha menarik tanganku yang berlindung dibelakang tante Sarah.


"Stop, udah jangan bertengkar!. Kamu kan juga ngelakuin itu sama Reva dua hari yang lalu,"


"Iya Sil, benar itu, imbas kita sekarang," ucap ku membela diri.


"Lo itu..."


"Ini udah jam tujuh, kalian masih mau berdebat, emang nggak telat?" ucapan tante Sarah sontak membuatku dan Silvi melihat kearah jam dinding, oh no!, kami segera berlari memasuki kamar mandi dengan berebut.


"Gue duluan Rev!"


"Lo ngalah lah Sil, gue duluan yah,"


"Kamar mandi itu bukan hanya satu, bukannya ada dikamar kalian kamar mandi, kenapa harus berebut disitu sih," setelah mendengar ucapan tante Sarah, aku segera berlari menuju kamar dan membiarkan Silvi memakai kamar mandi itu.


Author pov.


"Hampir aja kita telat," kata Silvi sambil ngos-ngosan, baru satu menit mereka sampai, dosen sudah masuk kekelas mereka.


"Pagi pak,"


"Sebelum kita mulai pembelajaran pagi ini, saya akan mengenalkan mahasiswa baru dikampus kita dan sejurusan sama kalian, managemen bisnis," para mahasiswa saling menatap, dibenak mereka sudah bertanya-tanya cowok atau cewek mahasiswa baru itu.


"Kalau ganteng buat gue yah Rev, kalau nggak buat lo aja," Reva sontak memukul pelan lengan Silvi, sepupunya itu paling tak bisa lihat cowok tampan sedikit saja. "Sakit tau nggak!" Reva hanya diam, tak berniat membalas ucapan gadis itu, pandangannya menuju kearah depan.


"Silahkan masuk!" ucap pak Wira, dan seseorang melangkah memasuki ruang kelas itu.


"Nathan," gumam Silvi yang masih dapat didengar oleh Reva.


"Lo kenal?"


"Teman SMA gue," ucap Silvi.


"Ganteng, jadi lo mau pacaran sama dia?"


"Nggak lah!"


"Perkenalkan diri kamu," kata pak Wira.


"Halo semuanya, nama saya Nathan Pradipa, saya pindahan dari kampus xxx, saya harap kita bisa berteman dengan baik," ujar Nathan, pandangan pria itu tak luput dari Silvi. Bagi Nathan gadis itu selalu terlihat cantik.


"Silahkan duduk di belakangnya Reva. Reva angkat tangan kamu, supaya Nathan tau dimana tempat duduknya," Reva mengangkat tangannya sembari tersenyum. Nathan pun berjalan kearah Reva, lebih tepatnya ingin duduk dibelakang Reva. Namun saat tepat disamping Reva, polpen gadis itu terjatuh, membuat Nathan mengambilnya dan ternyata Reva juga hendak mengambilnya, sehingga kepala mereka bertabrakan.


"Awh," ringis Reva sambil mengusap kepalanya.


"Sorry, ini polpennya," kata Nathan sambil tersenyum dan meletakkan polpen itu dimeja Reva.


"Makasih yah," Nathan mengangguk, lalu pandangan pria itu kembali menatap Silvi yang duduk disamping Reva, namun Silvi hanya memandang datar kearahnya.


Kenapa gue deg-degan saat dekatan dengan Nathan tadi, batin Reva.