Revalina

Revalina
Kehujanan



Reva merasakan seseorang memeluknya, sontak hal itu langsug membuat Reva berdiri. Dia akan mengambil kuda-kuda untuk berlari, jika saja benar itu penjahat.


"Rai," Reva terkejut mendapati Rai dihadapannya, yang disamping Rai sudah ada Silvi.


"Kamu cuman izin sama aku ke rumah Silvi dan ke kampus, nggak pernah izin untuk datang ke pantai," kata Rai datar.


"Aku...aku.."


"Ayo kita pulang," kata Rai memotong ucapan Reva sambil menarik tangan wanita itu. Reva hanya terdiam, mengikuti langkah Rai sampai didepan mobil, lalu dia masuk kedalam mobil itu.


"Kita antar Silvi pulang dulu," kata Rai sambil menjalankan mobilnya.


"Kenapa kalian bisa tau, aku disana?" tanya Reva.


"Karena kamu suka pantai,"


Reva akhirnya terdiam, dia melirik kearah kaca yang ada di dalam mobil dan melihat Silvi kedinginan di jok belakang karena kehujanan tadi. Reva kasihan melihat Silvi seperti itu, biar bagaimanapun Reva menyayangi Silvi dan karena dia juga, Silvi sampai kehujanan, walau sebenarnya, dia juga sangat dingin saat ini.


"Kamu kedinginan Sil?" pertanyaan itu bukan dari mulut Reva, tapi dari Rai yang juga memperhatikan Silvi dari kaca mobil sejak tadi.


Rai memberhentikan mobilnya dan melepaskan jas yang dipakainya.


"Kamu pakai ini," kata Rai seraya memberikan jasnya ke Silvi. Silvi melirik kearah Reva yang sedang melihat kearah lain.


"Nggak usah Rai. Buat Reva aja, dia juga kedinginan," Reva sontak melihat kearah Silvi.


"Nggak kok, buat lo aja, Rai kan kasih buat lo," kata Reva jutek.


"Ambil aja Sil, kasihan lo kedinginan," Silvi pun menerima jas itu dan memakainya membuat Rai tersenyum. "Rev, tangan kamu dong," kata Rai membuat Reva melihat kearah lelaki itu.


"Buat apa?" Rai tidak menjawab dan memilih mengambil tangan Reva dan menggenggamnya, lalu kembali menjalankan mobilnya.


"Tangan kamu dingin, bibir kamu juga pucat, sini lebih dekat ke aku," ucap Rai seraya merangkul Reva menggunakan sebelah tangannya, dan tangan satunya dia gunakan menyetir.


Sakit sih liat gue cuman dapat jasnya dan sepupu gue yang dapat pelukannya, tapi gue nggak papa, selagi kalian berdua bahagia, batin Silvi.


"Makasih Rai, Rev," ujar Silvi yang sudah turun dari mobil Rai ketika sudah sampai didepan rumahnya.


"Sama-sama,"


"Jasnya Rai," Rai menerima jasnya yang diberikan Silvi, lalu wanita itu memasuki rumahnya setelah tersenyum hangat pada Reva dan Rai.


Sesampainya Reva dan Rai dirumah, mereka langsung disambut oleh Indah dan Bryan dengan beribu macam pertanyaan.


"Kamu dari mana saja sih nak?" tanya Bryan pada Reva.


"Papa sama mama khawatir sekali, kalian baik-baik aja kan? hujan-hujanan gini lagi," kata Indah membuat Reva yang tadinya ingin menjawab pertanyaan Bryan tidak jadi buka suara.


"Ma, pa, aku sama Reva kekamar dulu, kita mau ganti baju," ujar Rai.


"Iya, sana cepat, nanti kalian sakit," Reva dan Rai pun melanjutkan langkah mereka kekamar dengan Rai yang merangkul Reva.


"Kamu mandi disini aja, aku mandi dikamar mandi luar," Reva mengangguk lalu berjalan memasuki kamar mandi.


Saat dia keluar dari kamar mandi, Reva mendapati Rai duduk dipinggir ranjang dengan tangan di hpnya. Tadi Reva juga membawa pakaian ganti dikamar mandi, jadi dia sudah memakai baju tidur saat ini.


"Rai, aku minta maaf," Rai melihat kearah Reva, terdapat tatapan bersalah dimata istrinya itu.


Reva akui dia egois, dia belum bisa mengontrol emosinya, dan hari ini dia malah membuat semua orang khawatir, dia juga sudah membuat Silvi dan Rai kehujanan hanya untuk mencarinya.


"Tolong! jangan buat aku khawatir, jangan buat aku ngerasain rasanya kehilangan lagi," Reva mengangguk.


"Kamu maafin aku kan?" Rai tidak menjawab, dia langsung memeluk istrinya itu, berharap Reva tau dari pelukan yang Rai berikan, tandanya dia sudah memaafkan Reva. Ada perasaan hangat dihati Reva saat Rai memeluknya, salah kah Reva jika dia mulai mencintai Rai dengan segela perhatian dan kasih sayang yang suaminya berikan, walau Reva juga tau, Rai memperlakukannya seperti itu karena jantung Bia yang ada pada dirinya.