Revalina

Revalina
Reva sakit



"Dingin," gumam Reva. Dia merasa badannya menggigil, perlahan mata wanita itu pun terbuka. Dia mengambil remote AC di meja samping kasurnya.


"Kepalaku kenapa pusing sekali?" ujar Reva sembari memegang kepalanya setelah mematikan AC dikamar.


Reva melihat kearah sampingnya, dan Rai tidak ada. Reva tersenyum miris, seharusnya dia tidak boleh berharap lebih bahwa Rai akan tidur seranjang olehnya karena perlakuan Rai tadi.


"Kamu kebangun Rev?"


"Rai?" mata Reva menangkap sosok Rai yang perlahan memasuki kamar dan menyimpan laptopnya diatas meja, lalu duduk ditepi ranjang. "Dari mana?"


"Ruang kerja, tadi ada pekerjaan sedikit," Reva tidak tau itu benar atau hanya kebohongan Rai agar dirinya tidak curiga kalau selama ini, Rai memang tidak pernah tidur diranjang bersamanya.


"Oke," kepala Reva sudah terasa sangat pusing, oleh sebab itu, dia tidak ingin bertanya lebih pada Rai atau mendesak agar pria itu jujur.


"Kamu kenapa?" tanya Rai yang melihat Reva memijat keningnya, bibir Reva juga terlihat sangat pucat.


"Nggak enak badan,"


"Ya Allah Rev, kamu panas banget," Rai terkejut saat memegang kening istrinya itu dan tangannya terasa panas disana. "Tunggu sebentar disini, aku ambil obat buat kamu dulu,"


Rai begitu panik mengatahui Reva sakit, dia segera mengambil obat lalu segera berlari kembali menuju kamarnya, tak lupa pula dia membawa secangkir air minum.


"Pelan-pelan," kata Rai yang membantu Reva duduk agar meminum obatnya. "Sejak kapan kamu ngerasa nggak enak badan?" tanya Rai dengan wajah khawatir, tangan pria itu juga memijat kening Reva.


"Barusan kok. Lagi pula, aku sudah biasa sakit kayak gini, besok juga udah sembuh,"


"Kamu nggak boleh remehin sakit kamu Rev, bahaya," Reva tersenyum memperhatikan Rai yang tengah mengompresnya.


Tadi sewaktu Reva selesai minum obat, Rai langsung ke dapur mengambil air dan handuk kecil untuk mengompres Reva, dan perlahan Reva mulai menutup matanya dan tertidur.


Karena Reva demam semalam, Rai jadi tidak tega meninggalkan Reva sendirian di kasur, apalagi Reva juga mengigau kedinginan, jadilah Rai berinisiatif untuk memeluk gadis itu. Sampai detik ini semua perlakuan itu karena jantung Bia ada pada Reva, dan Rai hanya menjaga itu.


Rai segera mengecek suhu tubuh Reva, dan dia merasa lega saat Reva sudah tidak demam lagi. Rai pun dengan perlahan turun dari ranjangnya dan segera memasuki kamar mandi.


"Aku rindu semua tentang kamu, Bia. Setiap hari aku ngerasain perasaan bersalah pada Reva karena hanya menjadikannya pelampiasan rasa rindu aku ke kamu. Kamu ninggalin aku sendiri dengan kondisi seberat ini," ujar Rai sembari menatap dirinya sendiri di kaca, dia pun mengusap wajahnya kasar.


Saat Rai keluar dari kamar mandi, dia melihat Reva tengah memainkan hp diatas ranjang.


"Gimana keadaan kamu Rev?" walau Rai tau suhu tubuh Reva sudah menurun, dia tetap bertanya kondisi istrinya itu secara langsung.


"Udah baikan. Makasih buat semalam," Reva tersenyum hangat kepada Rai, lalu kembali memainkan hpnya.


"Hari ini kamu nggak usah ke kampus yah, istirahat dulu dirumah,"


"Iya, ini aku juga lagi WhatsApp teman aku buat izinin aku ke dosen,"


"Kenapa nggak WhatsApp Silvi aja?" Reva terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Dia jadi teringat kejadian kemarin, kejadian yang membuat dirinya tau bahwa lelaki yang dicintai sepupunya yaitu Silvi adalah suaminya sendiri, Rai.


"Aku udah terlanjur WhatsApp teman aku, lagi pula sama aja aku WhatsApp Silvi atau teman aku ini,"


Rai tidak bertanya lagi, lelaki itu memilih mengambil pakaian kantornya lalu memasuki kamar mandi kembali untuk memakai pakaiannya karena tidak mungkin dia memakai pakaian didalam kamar sementara Reva masih ada disana, pernikahan mereka bukanlah pernikahan pada umumnya.


Apa aku harus kasih tau Rai kalau Silvi suka sama dia, tapi apa mungkin setelah Rai tau, dia bakal memilih Silvi dan menceraikan aku, aku nggak mau pernikahan ini berakhir, aku udah mulai cinta sama Rai, batin Reva.


Sepertinya saat ini, Reva akan memilih diam, ada banyak resiko jika dia memberitahu Rai kalau Silvi mempunyai rasa pada suaminya itu, lagi pula sebentar lagi Silvi juga bakal menikah dengan Nathan