Revalina

Revalina
Masih sama



"Gue pengen bicara Sil," kata Nathan saat Silvi dan Reva hendak melangkah keluar kelas saat mata kuliah pertama mereka telah selesai.


"Lo duluan aja Rev, nanti gue nyusul," Reva melirik kearah Nathan lalu mengangguk dan melangkah keluar kelas.


"Ngomong apa?" tanya Silvi.


"Perasaan ini masih sama Sil, gue masih cinta sama lo,"


"Dan karena cinta itu persahabatan kita jadi rusak Nat. Lo kan juga tau perasaan gue buat siapa,"


"Yang rusak persahabatan kita itu bukan gue Sil, tapi Rai dan Bia. Sebelum mereka pacaran, kita berempat baik-baik aja walau harus memendam perasaan itu," pria itu tau Silvi suka sama Rai dan Rai pacaran sama Bia. Hal itu juga yang membuat Silvi pindah SMA saat itu.


"Udah lah Nat, semua juga udah berlalu. Gue duluan," Nathan tak akan tinggal diam seperti saat SMA dan membiarkan Silvi pergi, kali ini, dia akan memperjuangkan cintanya pada gadis itu.


"Hy Rev," sapa Silvi lalu duduk didepan Reva yang sudah memesan makanan.


"Lo ngomongin apa sama Nathan?"


"Tentang masa-masa SMA dulu,"


"Oh," saat Reva melihat ke meja yang tak jauh dari mereka, disana ada Nathan, Reva pun tersenyum kearah pria itu dan dibalas senyuman oleh Nathan.


"Reva sama Silvi itu dekat yah?" tanya Nathan pada teman satu kelasnya yang juga sedang duduk dengannya di kantin.


"Mereka itu sepupuan,"


"Gue mau ke perpus dulu Sil," ucap Reva saat mereka sudah selesai makan.


"Yaudah, gue temenin,"


"Silvi, lo di panggil menghadap sama bu Maya, katanya tugas lo semester ini nggak lengkap," ujar salah satu mahasiswa yang tiba-tiba datang saat Reva dan Silvi hendak menuju perpus.


"Yah Reva, gue ngga bisa nemenin lo ke perpus dong,"


Reva pun melangkah kan kakinya menuju perpus dan langsung mencari buku yang ingin dipinjamnya.


"Revalina Arabela," ujar seseorang membuat Reva berbalik badan dan menemukan Nathan bersandar disalah satu rak buku perpus. "Itu kan nama lo?"


"Lo tau darimana nama panjang gue?"


"Dari teman kelas," Reva pun mengangguk lalu kembali mencari buku yang ingin dipinjamnya. Tak lama matanya menangkap buku itu, masalahnya tempat diletakkannya buku itu tinggi, berada di paling atas rak perpus. Reva pun lompat-lompat hendak mengambil buku itu, namun gagal, bukunya terlalu tinggi.


"Makanya tinggi itu keatas bukan kesamping," ucap Nathan sembari menyerahkan buku itu pada Reva, tak lupa senyuman dibibirnya tercetak jelas kearah gadis itu.


"Gue bukannya pendek, cuman belum tinggi aja. Bunga aja butuh proses untuk mekar," lagi-lagi Nathan tersenyumlah mendengar ucapan gadis itu.


Nathan orang yang baru aja gue kenal, tapi kenapa gue udah ngerasa nyaman dekat dengan dia, batin Reva.


"Biasanya lo bareng Silvi, Silvinya kemana?"


"Dipanggil menghadap ke Dosen, tugasnya belum lengkap,"


"Nggak pernah berubah dia dari SMA, malas banget kerja tugas,"


"Kayaknya tau banget tentang Silvi," kata Reva, mereka saat ini sudah berjalan menuju kelas.


"Gue sama dia sahabatan dulu,"


"Dekat dong,"


"Lumayan," Reva pun mengangguk. Tiba-tiba jantungnya terasa sakit, dia pun meremas dadanya menahan kesakitan itu.


"Lo kenapa?" tanya Nathan karena melihat wajah kesakitan Reva.


"Sa...kit," kata Reva lalu pingsan, untung saja dengan cepat Nathan menangkap tubuh gadis itu, dan segera menggendongnya menuju UKS.