
"Rai," ucap Reva lembut sambil menggoncang pelan bahu Rai untuk membangunkan suaminya itu sholat subuh, kali ini Reva menemukan Rai tidur disofa lagi. Tidak salah lagi dugaan Reva, Rai memang tidak mau seranjang dengannya.
"Hey, sorry aku ketiduran lagi," ucap Rai seraya tersenyum saat dia membuka matanya dan melihat wajah Reva.
"Iya, nggak papa. Kita sholat subuh bareng yuk," Rai mengangguk sembari tersenyum lalu masuk kedalam kamar mandi.
Entah kenapa Reva serasa sakit saat mengetahui suaminya memang sengaja tidur disofa. Sejujurnya, Reva tidak mau tau tentang itu, bahkan jika semua perhatian Rai juga karena jantung Bia ada pada dirinya, biarkan Rai menyimpan kebenaran itu sendiri, Reva tak ingin mendengarnya.
"Makasih yah udah antarin aku," kata Reva. Saat ini dia dan Rai berada didepan kampus Reva. Suaminya itu memang mengantarnya, Reva sudah menolak, namun Rai tetap memaksa.
"Ini udah tanggung jawab aku, nggak perlu berterima kasih," ujar Rai sembari tersenyum, namun entah kenapa kata-kata itu membuat Reva terdiam. Tanggung jawab.
Reva melangkah kan kakinya menuju ruangan kelas, dan pemandangan pertama yang dia lihat saat masuk adalah Nathan yang berpelukan dengan Silvi. Reva terdiam sebentar lalu kembali berjalan, dia berusaha terlihat biasa saja.
"Reva!" dari raut wajah Silvi, terlihat sekali bahwa dia terkejut dengan kedatangan Reva, dirinya juga langsung melepaskan pelukan Nathan.
"Hy Rev," sapa Silvi pada Reva yang hanya dibalas senyuman oleh Reva. "Rev, gue..."
"Dosennya udah masuk, nanti lagi yah ngobrolnya," Reva memotong ucapan Silvi saat dosen masuk kedalam kelas mereka.
Tak terasa jam istirahat tiba, saat Silvi hendak bicara pada Reva, Nathan tiba-tiba saja datang dan mengatakan ingin bicara empat mata pada Reva, dan Reva pun setuju.
"Jujur?"
"Lo suka sama gue, dan karena itu lo marah sama Silvi, itu benar atau nggak?" tanya Nathan membuat Reva tersenyum sinis.
"Kata siapa gue marah sama Silvi?"
"Anak TK aja tau lo marah sama Silvi, Rev, kentara dari sikap lo ke dia,"
"Ini urusan gue sama Silvi!" ucap Reva.
"Jadi urusan gue juga, kalau kalian bertengkar karena gue. Rev, kalau emang benar lo suka sama gue, nggak seharusnya lo marah sama Silvi karena nerima lamaran gue, cinta itu nggak bisa dipaksain, dan lo tau gue nggak cinta sama lo," Reva menutup matanya merasakan sakit dihatinya saat mendengar kata-kata Nathan.
Oke fine, Reva terima jika Nathan tidak mencintainya, tapi kenapa Nathan tidak bilang kalau dia butuh bantuan Reva untuk dekat sama Silvi dari awal, sehingga dia tidak perlu merasa geer dan baper dengan segala perlakuan Nathan padanya.
Anggap saja Reva lebay, tapi coba kalian bayangkan, Reva baru pertama kali jatuh cinta dan hatinya memilih Nathan, dia kira semua perlakuan Nathan yang perhatian, sering mengajaknya keluar karena Nathan juga mencintainya, tapi disaat dirinya melayang begitu tinggi, Nathan datang dan mengatakan mencintai Silvi dan ingin menikah dengan wanita itu. Dan Silvi tau Reva mencintai Nathan, Silvi juga mencintai pria lain dan itu membuat Reva beranggapan masih punya kesempatan untuk mendapatkan hati Nathan, tapi malam itu, Silvi menerima lamaran Nathan tanpa perduli bagaimana Reva, padahal selama ini tempat curhat Reva, itu Silvi.
"Cewek nggak akan berharap dan jatuh cinta kalau cowok nggak kasih harapan dan perhatian, Nat. Iya, emang benar gue jatuh cinta sama lo, tapi hal itu yang paling buat gue nyesel, gue menyesal mencintai Nathan Pradipa. Lo nggak perlu khawatir, karena sebentar lagi gue bakal lupain lo," Reva bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Nathan yang terdiam karena mencerna semua ucapan yang keluar dari bibir mungil Reva.
Apa kata-kata gue keterlaluan ke Reva, batin Nathan.