
"Lo mau kemana Rev?" tanya Silvi, karena saat mereka sampai dikampus, Reva tak langsung ke kelas dan ingin pergi ketempat lain.
"Ketemu Nathan di perpus, sekalian gue juga mau baca novel, kan kelas mulainya satu jam lagi," Silvi merutuki kebodohannya tak bertanya lebih saat Reva mengajaknya ke kampus lebih cepat.
"Rev, terus gue gimana?"
"Ikut gue aja gimana?" Silvi menggeleng, dia malas bertemu Nathan apalagi setelah membaca surat dari cowok itu semalam. Kali ini dia juga benar-benar ingin mengingatkan keras Nathan bahwa dia tidak akan cinta pada pria itu.
"Gue ke kelas aja," Silvi melangkah pergi sebelum mendengar ucapan Reva lagi, dan Reva pun segera menuju perpus.
"Hy Nat," sapa Reva sembari duduk disamping Nathan yang sedang membaca komiknya di perpus.
"Ehk Rev, lo udah kasih kotak yang semalam buat Silvi?" Reva mengangguk sambil tersenyum. "Terus dia bilang apa?"
"Gue lupa nanya Nat, dan Silvi juga nggak ngebahas tentang kotak itu sampai pagi ini," Nathan menghembuskan nafasnya lelah, sekarang seperti ada tembok besar yang menghalangi dirinya dan Silvi, padahal dulu bercanda dengan gadis itu sangat gampang.
"Emang apa isi kotaknya?" tanya Reva penasaran.
"Gelang," Reva terdiam, tapi sesaat kemudian, dia yakin bahwa Nathan memberikan gelang itu sebagai seorang sahabat untuk Silvi. "Lo udah selesai baca novelnya?"
"Belum, ini mau mulai baca lagi," Reva mengeluarkan buku novel itu dari tasnya dan mulai membaca.
"Lo lebih cantik kalau lagi serius," Reva sontak melihat kearah Nathan, jarak wajah mereka menjadi sangat dekat dengan tatapan saling memandang. "Pipi lo kok merah Rev," Reva langsung membuang pandangannya kearah samping karena malu pada Nathan, pipinya juga merona sekarang. Hal itu membuat Nathan tertawa, gadis didepannya ini jauh beda dengan Silvi yang lebih bar-bar.
Setelah mata kuliah mereka selesai, Nathan lagi-lagi mengajak Reva keluar. Silvi ingin melarangnya, namun raut wajah bahagia Reva membuatnya tak tega, Reva bahagia dengan Nathan, tapi bagaimana jika Reva tau hati Nathan untuk siapa.
"Siap bos,"
"Gue duluan yah Sil, hati-hati pulangnya," Silvi mengangguk sambil tersenyum kearah Reva dan dibalas senyuman oleh Reva.
"Gue bicara sama Silvi dulu Rev, lo tunggu diparkiran aja," Reva mengangguk lalu melangkah pergi.
"Kalau lo cemburu biang aja Sil, nggak usah ditahan," pede sekali cowok yang ada dihadapannya ini, sama sekali tidak ada rasa cemburu di hati Silvi.
"Jangan kepedean Nathan, gue hanya nggak mau lo nyakitin Reva,"
"Reva nggak akan sakit, toh kita cuman sahabat,"
"Reva udah mulai suka sama lo, kalau lo nggak ada niatan buat balas perasaannya, stop deketin dia!!" Silvi melangkah pergi, dia tidak mau lebih lama berduaan dengan Nathan, apalagi Reva juga sudah menunggu Nathan di parkiran.
Nathan mengajak Reva jalan-jalan ke taman, udara taman itu segar apalagi sore-sore, jadi bagus untuk menangkan diri dan pemandangan taman itu juga bagus.
"Kalau ke taman ini aku jadi ingat Silvi, dia suka banget kesini," Nathan menoleh kearah Reva, jika tentang Silvi, dia pasti cepat merespon.
"Ohya, tapi pantas sih, taman disini bagus," Reva mengangguk setuju. "Kalau tempat makan, Silvi paling suka makan dimana?"
"Di restoran xxx. Dulu waktu Silvi pertama kali pindah kesini, kayaknya waktu dia kelas 2 SMA deh semester 2, gue sama Silvi sering banget ke restoran itu pulang sekolah," Membahas Silvi saja dapat membuat Nathan senyum-senyum tak jelas.
Dari dulu Nathan sangat-sangat menunggu waktu dimana Silvi membalas perasaannya. Bahkan saat Silvi pindah SMA, Nathan seperti tak ada semangat bersekolah, bahkan dia menjadi lebih pendiam.