
"Kamu cemburu kan?" tanya Nathan pada Silvi yang tengah menunggu Reva didepan kampus karena Reva kembali kekelas sebab hp nya ketinggalan.
"Cemburu?"
"Kamu cemburu kan aku dekat-dekat sama Reva," Silvi sontak tersenyum sinis, kepedean sekali lelaki yang ada didepannya ini.
"Nggak sama sekali Nat, jangan salah artiin semuanya,"
"Terus?, kenapa kamu suruh Reva jaga jarak sama aku?"
"Kamu suka sama aku Nathan, dan aku nggak mau Reva cinta sama kamu. Aku juga mohon, jauhin Reva," pinta Silvi.
"Aku sama Reva cuman sahabatan, aku deketin Reva supaya aku bisa dekat sama kamu, kata orang kalau kita deketin keluarganya maka kita juga akan dekat sama orangnya,"
"Biarpun kamu berhasil ambil hati semua keluarga aku itu nggak akan ngerubah apapun, hati aku bukan buat kamu Nat," Silvi berjalan meninggalkan Nathan disana, dia memilih menyusul Reva saja daripada harus berduaan dengan Nathan.
"Ehk Sil, kok lo malah nyusul?" mereka bertemu ditengah-tengah kampus.
"Panas tau nggak nunggu didepan, jadi nyusul deh," Reva pun mengangguk, lalu mereka berdua segera pulang.
Saat sampa dirumah sebuah chat masuk ke hp Reva.
Nathan
Rev, nanti malam jalan yuk
Reva
Boleh
"Lo mau kemana Rev?" tanya Silvi karena Reva sudah rapi padahal ini jam tujuh malam.
"Jalan sama Nathan," sontak Silvi menyemburkan teh yang diminumnya membuat Reva terkejut.
"Lo kenapa sih Sil?"
"Rev, lo nggak dengerin kata-kata gue, Nathan itu playboy!!"
"Tapi kan udah nggak,"
"Udah. Gue nggak mungkin juga udah pakain rapih kayak gini dan belum izin," Silvi pun berjalan keluar kamarnya hendak menemui kedua orang tuanya agar tidak mengizinkan Reva keluar.
"Ma, pa, larang Reva untuk keluar dong, gimana kalau penyakit jantungnya kambuh," kata Silvi sembari duduk ditengah-tengah mama dan papanya yang tengah menonton TV.
"Reva itu jarang sekali keluar sayang kecuali ke kampus, nggak papa lah sekali-kali,"
"Tapi pa..."
"Kalau kamu khawatir kenapa nggak ikut sama Reva aja," Silvi terdiam sejenak mendengar ucapan papanya. Apa pergi dengan Reva untuk menemui Nathan jalan yang tepat.
"Tante, om, Sil, gue keluar dulu yah, teman aku udah nunggu didepan," kata Reva lalu menyalimi tangan kedua orang tua Silvi.
"Hati-hati sayang. Kamu nggak jadi ikut Sil?" tanya Sarah membuat Reva heran.
"Emang lo mau ikut Sil?"
"Nggak!"
Disinilah Reva dan Nathan, disebuah mall hendak main di time zone. Mereka berdua sesekali cerita dan tertawa bersama, Reva baru kali ini tertawa begitu bahagia kecuali dengan Silvi dan keluarganya.
"Seru banget yah tadi," kata Reva sembari tersenyum setelah mereka selesai bermain.
"Iya, seru banget. Rev kasih ini buat Silvi yah," kata Nathan sembari memberikan sebuah kotak, Reva pun mengangguk tanpa bertanya lebih.
Setelah makan malam bersama, Nathan mengantar gadis itu pulang. Kehadiran Nathan sungguh membuat hidup Silvi semakin berwarna.
"Dari Nathan," kata Reva sembari menyodorkan kotak berwarna biru itu pada Silvi yang tengah memainkan hp diatas ranjang.
"Ini apa?" Silvi mengambil kotak itu, Reva hanya mengidikkan bahunya tanda tidak tau, lalu gadis itu masuk kekamar mandi.
Silvi pun membuka kotak itu dan menemukan gelang disana beserta sebuah surat, lalu gadis itu membaca surat tersebut.
*Digelang ini sudah ada inisial aku dan kamu Sil, aku juga punya gelang itu, kita couplean. Aku tau kamu pasti nolak atau bahkan ngembaliin gelang ini ke aku, lebih parahnya lagi mungkin kamu akan buang gelang ini ke tempat sampah, tapi please jangan lakuin hal itu, kalau kamu emang nggak mau gelang itu cukup kamu simpan aja, anggap kenang-kenangan dari seorang sahabat.
Nathan pradipa*.
Kenapa sih Nat, kenapa selama hampir lima tahun ini lo nggak coba buat lupain gue. Lo kan yang sakit karena gue nggak akan bisa ngebales perasaan lo, gue cintanya sama Rai, batin Silvi.