Revalina

Revalina
Prank!



"Nathan!" panggil Reva, Nathan dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya yang tadi sedih menjadi tersenyum menyambut Reva.


"Kita langsung ke toko buku sekarang yuk," ajak Nathan sambil menarik tangan Reva, tapi dengan cepat Reva menarik tangannya dari tangan Nathan membuat Nathan menjadi bingung. "Kenapa Rev?"


"Aku bodoh banget yah Nat,"


"Reva, kamu kenapa sih, terus kenapa nangis?" Nathan heran dengan perkataan gadis itu terlebih dia mengatakannya dengan air mata yang sudah terjatuh dari mata Reva.


"Kamu deketin aku karena Silvi?, kamu cinta sama dia kan?"


"Kamu tau dari mana Rev?" tangis Reva semakin deras. Tadinya dia berharap, dia salah dengar, walau itu hal yang mustahil.


"Terus gimana perasaan aku Nat, gimana aku?"


"Maksud kamu apa Rev?" Nathan sudah menduga-duga akan perkataan Silvi, apa benar Reva mencintainya?.


"Aku mencintai kamu Nat!" Nathan terdiam. "Prank!, aku bercanda, gimana akting aku bagus nggak?" Nathan menghembuskan nafasnya lega, bisa-bisanya Reva bercanda disaat-saat seperti ini, lebih bodohnya lagi, dia percaya.


"Kamu beneran nggak cinta sama aku kan Rev?" tanya Nathan memastikan, Reva menggeleng sambil mengusap air matanya.


"Nggak, aku cuman pengen lihat ekspresi kamu aja, dan ternyata lucu sampai bengong gitu." kata Reva sembari tertawa untuk meyakinkan Nathan. "Tadi aku nggak sengaja dengar pembicaraan kamu sama Silvi, kalau kamu mau aku bantu, aku bisa bantu kamu buat jadian sama dia," lanjut Reva berkata.


Tadinya Reva ingin jujur akan perasaannya, namun setelah dia berfikir lagi, mengatakan perasaannya pada Nathan akan menyebabkan dia dan Nathan menjadi canggung dan tak akan sedekat sekarang, Reva yakin itu akan terjadi, dan dia tak mau hal itu terjadi.


"Aku mau banget Rev, aku udah cinta lama banget sama Silvi, dari SMA," Reva tersenyum menanggapinya. Tadi dia bisa melihat bahwa Silvi tak mencintai Nathan, dan dia akan menanyakan langsung pada Silvi juga nanti. Jika benar Silvi tak mencintai Nathan, dia akan berusaha mengambil hati Nathan, dia akan membuat Nathan mencintainya. Dan ketika nanti Nathan sudah mencintainya, dia juga akan mengaku akan cintanya pada pria itu.


"Langsung antarin aku pulang aja yah Nat, besok aja ke toko bukunya," kata Reva karena merasakan sakit di dadanya, namun sekuat mungkin dia menahannya, Reva yakin pasti penyakit jantungnya kumat.


"Kenapa?, kok nggak jadi,"


"Mau kerumah sakit dulu nggak?" tanya Nathan khawatir. Reva menggeleng, dia masih bisa menahan sakit pada jantungnya, istirahat sebentar dirumah pasti akan membuat sakitnya hilang.


Sesampainya dirumah, Reva langsung memasuki kamar dan mendapati Silvi tengah tidur dengan kepala diatas meja dan buku yang berserakan. Reva tersenyum melihatnya, pasti sepupunya itu ketiduran lagi karena belajar, itu adalah salah satu kebiasaan Silvi kalau belajar.


Reva mengganti bajunya dan membereskan buku-buku Silvi, lalu mengusap kepala Silvi dan berlalu pergi ke dapur, membantu tante Sarah menyiapkan makan malam. Kebetulan juga saat tiba dirumah tadi, jantungnya sudah membaik, dia tak merasakan sakit lagi.


"Sil, bangun udah Maghrib," kata Reva sembari menggoncangkan lembut tubuh Silvi, tak butuh waktu lama Silvi terbangun dan merasakan sakit dilehernya. "Kenapa?" tanya Reva.


"Sakit, kayaknya kelamaan tidur sambil duduk deh,"


"Makanya kalau belajar jangan tidur,"


"Maunya juga gitu Rev, tapi selalu aja tidur," Reva menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar perkataan Silvi.


"Sil, gue pengen ngomong serius sama lo," Reva menatap serius Silvi membuat Silvi ikutan serius ditambah penasaran apa yang akan Reva katakan.


"Apa?"


Reva terdiam sesaat, dia harus menanyakan akan perasaan Silvi pada Nathan. Tapi biarpun Reva yakin Silvi tidak punya rasa pada Nathan karena percakapan Silvi dan Nathan di kampus tadi, Reva juga tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa selama ini Silvi selalu melarangnya dekat dengan Nathan, dan bisa saja itu karena Silvi juga mencintai pria itu.


"Rev, kok malah diam?, mau nanya apa?"


"Lo..."


"Silvi, Reva, cepat ambil air wudhu, kita sholat Maghrib berjamaah!!" teriak Sarah membuat ucapan Reva terhenti.


"Nanti aja ngomongnya setelah sholat Maghrib," Silvi mengangguk setuju.