Revalina

Revalina
Marahnya Rai



"Aku udah bersikap baik sama kamu Reva!! kamu fikir semua itu mudah aku lakukan, dan sekarang dengan entengnya kamu jatuhin foto aku dan Bia, foto satu-satunya yang aku letakkan dikamar!" Reva menutup matanya mendengar bentakan Rai yang berada didepannya.


Setelah mendengar Rai selesai berbicara, barulah Reva membuka matanya, tapi wanita itu tak menatap Rai, dia lebih memilih menunduk.


"Aku nggak sengaja Rai, kamu ngagetin aku,"


"Sekarang lo nyalahin gue atas kesalahan lo. Bia itu berarti banget buat gue, dan nggak ada satu orang pun yang boleh ngerusak apapun yang berhubungan sama Bia, termasuk lo. Jangan ngelunjak karena sikap baik gue, gue ngelakuin itu buat jaga jantungnya Bia yang ada sama lo," Reva ingin sekali menangis, tapi dirinya berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisannya. Dia tak boleh cengeng, air matanya tak akan bisa membantunya.


"Rai, aku benar-benar minta maaf, aku nggak sengaja. Aku pasti akan tanggung jawab, aku akan ganti bingkai fotonya yang rusak,"


"Bingkai foto ini dari Bia, Reva, mau lo ganti pun nggak akan sama lagi!!" Rai mengambil foto dirinya dan Bia, lalu berlalu pergi dari sana, meninggalkan Reva dengan serpihan kaca dari bingkai foto itu. Lama-lama didalam kamar hanya akan membuatnya semakin emosi, entah kenapa setiap yang berhubungan sama Bia, Rai pasti susah mengontrol emosinya.


Air mata Reva jatuh saat Rai pergi dari kamar mereka. Reva tak pernah melihat Rai marah, dia juga tak pernah mendengar pria itu berbicara dengan nada tinggi padanya, pasti selalu penuh kelembutan, tapi hari ini Reva melihat dan mendengar semuanya.


Reva memegang dadanya, ada rasa sakit saat kembali mengingat bentakan Rai padanya tadi, apalagi Rai sudah tidak memakai 'aku-kamu' lagi pada Reva. Tapi Reva sadar, ini memang salahnya, dia tak seharusnya memegang barang yang bukan miliknya, apalagi sampai merusaknya.


Setelah kejadian itu, Reva tak melihat Rai lagi hingga malam, entah dimana suaminya itu berada.


"Akhirnya selesai juga kita masaknya," ucap Indah yang dibalas senyuman oleh Reva dan bibi. "Kamu panggil gih suami kamu diruang kerjanya untuk makan, bilang mama sama papa udah nunggu dia," lanjut Indah berucap.


Tok...Tok...Tok


"Masuk," ucap Rai dari dalam setelah Reva mengetuk pintu. Ada perasaan takut dihati wanita itu saat membuka pintu ruang kerja Rai, apalagi saat matanya menatap suaminya itu.


"Rai, makan malam udah siap, mama sama papa udah nunggu dimeja makan," ucap Reva, lalu dia bergegas pergi, takut jika Rai masih emosi.


"Reva tunggu!" Reva memberhentikan langkahnya lalu berbalik menatap Rai yang sudah berada didepannya. "Maaf,"


"Buat apa kamu minta maaf, kamu nggak ada salah sama aku, Rai,"


"Aku ngebentak kamu, kata-kata aku pasti nyakitin kamu," Reva menggeleng, walau sebenarnya memang iya, kata-kata Rai menyakitinya, namun mendengar permintaan maaf dengan tulus dari suaminya itu sedikit membuat rasa sakitnya hilang.


"Aku udah maafin kamu. Maafin aku juga udah lancang pegang foto Bia, dan maaf aku udah ngerusakin barang yang Bia kasih buat kamu,"


"Rev, jika kedepannya aku marah sama kamu karena sesuatu yang bersangkutan dengan Bia, kata-kata aku nggak usah dimasukkin ke hati yah, nggak tau kenapa, aku nggak bisa kontrol ucapan dan emosi aku kalau bersangkutan dengan Bia,"


Aku punya perasaan Rai, kalau kata-katanya keterlaluan pasti juga akan masuk ke hati aku, pasti akan nyakitin aku, batin Reva.