Revalina

Revalina
Bertengkar



Tak terasa Reva sudah selesai kuliah hari ini, Reva menghembuskan nafasnya lega, ternyata dia bisa menghadapi Silvi dan Nathan.


"Reva!" teriak seseorang membuat Reva yang tengah menunggu taxi menoleh, ternyata Rai yang memanggilnya, dengan cepat Reva pun menghampiri suaminya itu.


"Kok bisa disini?"


"Pengen jemput kamu," Reva tersenyum.


"Udah lama?" tanya Reva lagi.


"Udah dua jam disini," Reva terkejut mendengarnya, dan ekspresi Reva itu membuat Rai malah mengacak rambutnya gemas.


"Kok kamu nggak telfon aku sih?, pasti kamu capek nunggunya,"


"Aku belum punya nomor telfon kamu,"


"Astaga, iya, kita belum tukaran nomor telfon," lagi-lagi ekspresi Reva itu membuat Rai gemas sendiri. Rai memang belum bisa memberikan hatinya untuk Reva, tapi dia akan tetap berusaha menjadi suami yang baik untuk istrinya itu, sekaligus menjaga jantung Bia agar tak terluka.


"Hey bro!" sapa Nathan yang datang bersama Silvi.


"Hey," Rai dan Nathan pun bertos ria, tos yang dulu mereka selalu lakukan setiap kali bertemu saat SMA, hal itu membuat Silvi tersenyum.


"Kita jalan-jalan bareng yuk, udah lama nggak pergi bareng," ajak Nathan.


"Boleh," ucap Rai dan Silvi bersamaan.


"Nggak," ucap Reva yang juga bersamaan dengan Silvi dan Nathan.


Sontak ketiga orang itu menatap Reva penuh tanya.


"Kenapa?" tanya Rai.


"Hmmm...aku...aku lagi malas aja pergi-pergi, kalau kalian mau pergi bertiga nggak papa, aku pulang naik taxi aja Rai, nggak papa kok,"


"Bukan juga, gue emang lagi pengen dirumah aja,"


"Lo ngehindarin gue Rev, gue tau itu," kali ini suara Silvi berubah menjadi sedih, dia tak bisa Reva seperti ini padanya.


"Apasih Sil, perasaan lo aja kali,"


"Ini kalian ada apa sih, ada masalah?" tanya Rai yang melihat suasana diantara Reva dan Silvi yang memanas.


"Nggak ada, Silvi aja yang lebay,"


"Gue nggak lebay Rev, lo emang berubah, bahkan sangat berubah!!" ujar Silvi dengan nada yang tinggi dan itu malah menyulut emosi Reva.


"Nggak usah pake nada tinggi, gue nggak tuli, gue masih bisa dengar tanpa harus lo teriak kayak gitu. Dengar yah, jika ada perubahan di diri gue ke lo, bukan gue yang harusnya lo tanya, tapi diri lo sendiri, lo..."


"Reva cukup!!" kali ini Nathan bersuara memotong ucapan Reva, tanpa sadar Nathan membentak Reva. Dia tak tega karena melihat Silvi yang sudah meneteskan air mata.


"Nggak usah ngebentak gue!"


"Gue sama Reva pulang duluan, lo tenangin Silvi," Rai pun menarik tangan Reva untuk memasuki mobil dan berlalu pergi dari sana. Jika lama-lama di biarkan adu mulut, bisa-bisa terjadi keributan disana, tadi saja sebagian orang sudah menatap kearah mereka.


"Kamu sama Silvi ada masalah apa?" tanya Rai didalam mobil.


"Bukan urusan kamu," Rai tau istrinya itu masih dalam mood tidak baik, bahkan saat Reva berucap, dia tak menatap Rai, matanya hanya memandang keluar jendela.


"Aku suami kamu, jelas apapun yang berurusan sama kamu juga jadi urusan aku," Reva terdiam, dia tidak bisa menceritakan masalah ini pada Rai.


"Kok berhenti?" tanya Reva saat Rai berhenti disebuah taman.


"Tenangin dulu diri kamu, aku tau kamu masih emosi. Aku nggak pengen kita pulang dengan keadaan kamu masih emosi," Reva pun mengangguk lalu turun dari mobil dan duduk disalah satu bangku taman, sedangkan Rai, dia tidak turun, dirinya memperhatikan Reva dari dalam mobil. Menurut Rai, Reva butuh waktu untuk sendiri saat ini.