Revalina

Revalina
Di pantai



"Lo...lo kok bis..a berfikiran kayak gitu, Rev?" ujar Silvi gugup.


"Iya atau nggak?"


"Rev kayaknya lo..."


"Tolong jujur Sil, sebelum keadaannya tambah rumit,"


Hening.


Silvi terdiam, dia bingung harus menjawab apa, di jawab iya, Silvi yakin keadaannya akan semakin rumit, bisa-bisa hubungannya dengan Reva akan semakin renggang, jika dijawab tidak dan Reva mengetahui semuanya pada akhirnya, Reva pasti akan lebih kecewa jika mengetahui sendri ketimbang Silvi yang memberi tahu.


"Diam berarti iya," Silvi yang tadinya sudah tidak menatap Reva kini kembali menatap sepupunya itu. "Kenapa nggak bilang dari awal sih Sil? lo nyakitin perasaan lo dan perasaan gue,"


"Kalau gue bilang, apa yang akan terjadi Rev?, persahabatan gue dan Rai terancam. Saat itu gue juga udah nerima lamaran Nathan, terus gimana nantinya?" ujar Silvi dengan air mata yang sudah menjatuhi pipinya, begitu pula dengan Reva.


Reva tidak menjawab, dia segera berlari pergi membuat Silvi hendak mengejarnya, namun rasanya tidak mungkin sebab Silvi hanya memakai handuk.


Dan disinilah Reva, di pantai dekat rumah Rai dan lebih dekat lagi dari rumah Silvi, tadi dia menaiki ojek sampai ke pantai itu, dan pantainya lumayan ramai. Dia duduk di pinggir pantai memikirkan langkah apa yang harus diambilnya. Reva menatap langit, dia rindu kedua orang tuanya, andai mama dan papanya masih ada, mungkin kisahnya tidak akan seperti ini.


"Aaaa!!" teriak Reva.


-Aku suami kamu, jelas apapun yang berurusan sama kamu juga jadi urusan aku- Rai.


-Lo yah orang khawatir malah dibilang cerewet- Silvi.


-Sekarang lo nyalahin gue atas kesalahan lo. Bia itu berarti banget buat gue, dan nggak ada satu orang pun yang boleh ngerusak apapun yang berhubungan sama Bia, termasuk lo. Jangan ngelunjak karena sikap baik gue, gue ngelakuin itu buat jaga jantungnya Bia yang ada sama lo- Rai.


-Kalau gue bilang, apa yang akan terjadi Rev?, persahabatan gue dan Rai terancam. Saat itu gue juga udah nerima lamaran Nathan, terus gimana nantinya?- Silvi.


Reva bingung harus bersikap seperti apa setelah ini, dia takut mengambil tindakan. Tak ada orang yang bisa memberinya solusi. Kali ini, dia benar-benar menghadapi semuanya sendiri.


Sedangkan Rai yang baru pulang dari kantor, segera memasuki rumahnya karena hujan deras diluar, dan mendapati Silvi tengah berbicara dengan kedua orang tuanya, jelas terlihat bahwa Silvi baru saja selesai menangis.


"Ini ada apa?" tanya Rai.


"Istri kamu nggak tau kemana, dia belum pulang sampai sekarang," ujar Indah khawatir membuat Rai juga langsung khawatir, pria itu melirik jam tangannya dan ternyata sudah pukul 08.30 malam.


"Belum pulang?, kok bisa?, bukannya tadi Reva dirumah lo Sil,"


"Tadi gue bertengkar sama Reva, dia pergi dari rumah, bahkan nggak masuk kampus tadi siang, dan sekarang gue nggak tau dia dimana, hp nya nggak aktif,"


"Astagfirullah. Ma, pa, aku izin cari Reva dulu," pamit Rai.


"Semoga Reva cepat ketemu," kata Bryan.


"Aamiin," Rai melangkah dengan cepat keluar dari rumahnya, dipikirannya sekarang hanyalah Reva. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan Reva jika berada di ruangan terbuka dengan hujan deras seperti ini, dia takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu.


"Tante, om, saya juga pamit mau ikut cari Reva," Bryan dan Indah mengangguk membuat Silvi segera berlari mengejar Rai. "Rai tunggu, gue ikut!!"


"Lo udah cari dimana aja Sil?" tanya Rai yang tidak tau akan membawa mobilnya kemana untuk mencari keberadaan Reva.


"Gue udah hubungin anak-anak kampus dan nggak ada yang lihat Reva, gue juga udah ke taman yang biasa ditempatin Reva, tapi nggak ada, di cafe favoritnya juga nggak ada," Rai memutar-mutari mobilnya mengelilingi jalan raya sambil memikirkan dimana kira-kira Reva berada.


"Pantai," Silvi melirik kearah Rai yang sudah memasang wajah sumringah. "Reva suka pantai, kalau dia nggak ada disemua tempat, bisa jadi dia dipantai,"


"Bisa jadi, coba cari ke pantai terdekat dari rumah gue dan rumah lo," Rai mengangguk dan segera menjalankan mobilnya menuju pantai xxx