Revalina

Revalina
Menikah



"Saya terima nikah dan kawinnya Revalina


Arabela binti Agung dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,"


Bagaimana para saksi Sah?


Sah.


Tak ada air mata diwajah Reva, dia ikhlas menerima semua ini, bahkan akan lebih bagus, dia sudah menikah dan akan pergi bersama suaminya tanpa harus merusak hubungan Silvi dan Nathan, kedua orang tua Silvi juga tak perlu tau tentang perasaan keponakan mereka kepada calon suami anaknya.


"Secepatnya kalian harus mengadakan resepsi," ujar Sarah membuat Rai mengangguk.


"Nanti ketika Reva sudah sembuh tante,"


Orang yang baru saja mengucapkan ijab Qabul atas nama Reva adalah Rai. Bia mengalami kecelakaan dihari H pernikahannya, entah bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi, intinya sekarang jantung Bia berada pada Reva, dan itu yang membuat Rai menikahi gadis itu.


Bia ingin jantungnya terus berdetak untuk Rai, dia tak ingin jantung itu mati bersamanya, oleh sebab itu disaat-saat kritisnya, dia meminta Dokter mendonorkan jantungnya untuk pasien yang membutuhkan dan takdir tuhan mengarah pada Reva.


Rai juga ingin pernikahannya cepat terlaksana, makanya saat ini dia mengadakan ijab Qabul dirumah sakit dengan posisi Reva masih memakai infus.


Jangan tanyakan bagaimana perasaan Silvi, ini seperti karma untuknya bukan?


Dirinya hancur, Silvi terluka, sekarang Rai dan sepupunya telah menikah dan dia menyaksikan pernikahan itu.


Menikah dengan orang yang tidak dicintanya bukanlah sebuah hal yang Reva inginkan, namun setelah menimbang banyak hal, ini yang terbaik, menerima pinangan Rai adalah jalan satu-satunya untuknya sekarang. Dengan menerimanya, dia bisa membalas budi pada Bia, dia juga tak akan membuat Silvi merasa bersalah lagi, dan dia tak perlu lagi merepotkan tante dan omnya serta masih banyak lagi hal yang Reva pikirkan sehingga dia menerima pernikahannya dengan Rai.


Ya Tuhan, aku tau ini pernikahan terpaksa, tapi buatlah aku mencintai suamiku, hanya dia, bukan orang lain apalagi calon suami orang, batin Reva.


Aku tidak akan membiarkan jantung Bia berdetak untuk orang lain, selain diriku. Bia aku merindukanmu, sayang, batin Rai.


"Assalamualaikum," ujar Malik yang datang bersama Sarah dan Silvi. "Semuanya sudah beres?" tanya Malik.


"Iya om, tinggal dibawa ke mobil,"


"Kamu mau pulang kerumah Rai yah Rev?" tanya Silvi sendu, ada rasa kehilangan karena dia sudah terbiasa dengan kehadiran Reva dirumah mama dan papanya.


"Iya Sil, Rai suamiku sekarang, dimana dia pergi, pasti aku akan ikut," lagi-lagi Silvi sadar, dia dan Rai memang tak ditakdirkan bersama, namun rasa cinta itu belum kurang sedikitpun untuk lelaki itu, lelaki pertama yang berhasil membuat Silvi jatuh, sejatuh-jatuhnya.


"Sering jalan-jalan yah kerumah, sepi nggak ada kamu," ucap Sarah sembari memeluk tubuh Reva dan dibalas pelukan oleh wanita itu.


"Iya tante, pasti,"


"Rai, bisa om bicara berdua sama kamu?" Rai mengangguk lalu mengikuti langkah Malik keluar dari ruangan rawat Reva.


"Ada apa om?" tanya Rai.


"Jangan sakiti Reva, om mohon sama kamu Rai, dia sudah terlalu banyak masalah selama ini, jangan buat dia meneteskan air mata. Om tau kamu tidak mencintainya, pasti berat untuk kamu menjalani semua ini, tapi Reva sekarang istri kamu, kamu pasti sudah tau bagaimana seharusnya sikap seorang suami pada istrinya,"


Reva dan Rai memasuki rumah kedua orang tua Rai, mereka disambut hangat oleh mama dan papa Rai. Setelah berbincang sebentar, Reva dan Rai segera menuju kamar untuk istirahat, terlebih Reva juga masih terlihat lemas.


"Menurut kamu gimana kamar aku?" tanya Rai basa-basi saat mereka memasuki kamar Rai, yah supaya tidak canggung saja.


"Bagus, kamar kamu bersih," ucap Reva sembari tersenyum, lalu pandangannya jatuh pada foto yang terletak di meja dekat tempat tidur, foto Rai dengan seorang wanita cantik yang Reva yakini pasti Bia.


"Ini Bia yah?" tanya Reva sembari menyentuh foto itu.


"Iya, dia Bia. Nggak papa kan aku taro foto Bia disitu?" tanya Rai lembut membuat Reva mengangguk. Gadis itu tak masalah, malah dia kagum pada Rai, walau Rai tak mencintainya, dia sangat menghormati Reva, itu yang Reva lihat beberapa hari ini.