
"Kok bisa sih kamu tiba-tiba demam begini, orang tadi malam masih bercandaan sama Reva," ucap Sarah sembari menyuapi putrinya itu.
"Cuman demam lewat kok ma, nggak papa, mama nggak usah khawatir," sebagai seorang ibu, Sarah tak bisa jika anaknya sakit sedikit saja, dia pasti akan merasa sangat khawatir, berlebihan memang, tapi kalian akan merasakannya ketika sudah memiliki anak.
Berpapasan dengan Sarah yang keluar dari kamar Silvi, hp gadis itu pun berdering, terlihat panggilan group disana, ada Nathan, Bia dan Rai. Silvi menghembuskan nafasnya sembari menguatkan dirinya, dia pun mengangkat telfon itu setelah memakai lipstik sedikit agar tak terlihat begitu pucat.
"Yaampun guys, gue kangen banget sama kalian berdua!!" teriak Bia membuat Nathan dan Silvi membalasnya dengan senyuman.
"Kita juga kangen sama calon pengantin ini," Silvi dapat melihat wajah yang begitu bahagia pada wajah Bia dan Rai, ternyata begini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan. Satu kata untuk mendeskripsikannya, sakit.
"Sil, kok mata lo sembab sih, habis nangis yah?"
Deg.
Pertanyaan dari Rai itu membuat Silvi bungkam. Apa yang harus dijawabnya, tidak mungkin kan dia mengatakan kalau dia menangis karena Rai dan Bia akan menikah.
"Biasalah Silvi, pasti nonton drakor lagi," Silvi bernafas lega dengan penuturan Nathan. Nathan penyelamatnya hari ini.
"Yaampun Sil, gue kira lo ada masalah," mereka pun berbincang kurang lebih satu jam lalu harus terputus karena Bia dan Rai harus kembali menyiapkan pernikahan mereka.
Kembali Silvi menangis saat panggilan itu terputus, kenapa dia harus merasakan sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan?, kenapa Rai tidak mencintainya?, kenapa?
"Sil gue pul...astaga Silvi kenapa nangis lagi," Reva langsung memeluk Silvi untuk menenangkannya, sudah Reva duga pasti Silvi tak akan berhenti menangis, buktinya saat dia pulang, dia mendapati Silvi menangis lagi.
"Emang gue nggak pantas dicintai yah Rev?, kenapa sih dia lebih milih Bia dibandingin gue,"
"Kita nggak bisa maksa hati orang untuk mencintai kita, gue tau rasanya sakit saat cinta bertepuk sebelah tangan, tapi bukankah orang bilang, jika kita tulus mencintai orang itu maka kita pun akan ikut bahagia saat melihatnya bahagia,"
"Jadi lo nggak masalah kalau Nathan mencintai orang lain," Reva terdiam sejenak, lalu mengangguk mengiyakan.
"Sakit, tentu saja, tapi mau bagaimana lagi, kita nggak bisa maksa hatinya," Dari saat Reva tau bahwa Nathan tidak mencintainya, dia sudah mempersiapkan hatinya untuk ikhlas, walau memang sampai saat ini, ikhlas itu belum ada. Tapi Reva juga akan terus berusaha membuat Nathan mencintainya.
"Besok dia nikah Rev, gue harus apa?. Kalau gue datang, gue takut air mata gue jatuh dan buat mereka heran, tapi kalau nggak datang mereka pasti akan lebih heran,"
"Kalau lo ngerasa sanggup untuk lihat semua itu, datang aja, kan ada Nathan disana. Btw Nathan tau nggak kalau lo suka sama orang itu?" Silvi mengangguk membuat Reva sedikit terkejut, ternyata dia, Nathan dan Silvi, cinta ketiganya bertepuk sebelah tangan, miris sekali.
"Silvi, diluar ada Nathan sama keluarganya," kata Sarah yang sudah membuka pintu kamar putrinya itu. Silvi dan Reva pun saling tukar pandang, dalam hati keduanya bingung, untuk apa Nathan dan keluarganya datang?.
Mereka berdua pun segera menuju ruang tamu dan duduk di sofa yang berada disana. Ada rasa cemburu dihati Reva saat melihat Nathan terus memperhatikan Silvi dan tersenyum lembut kepada sepupunya itu.
"Halo tante om," sapa ramah Silvi sembari menyalimi tangan kedua orang tua Nathan, diikuti oleh Reva juga.
"Silvi semakin cantik yah," Silvi hanya tersenyum membalas pujian dari mama Nathan itu. "Terus perempuan cantik disamping Silvi itu siapa?" tanya lanjut mama Nathan.
"Ini Reva tante, sepupunya Silvi," Reva pun tersenyum dan dibalas senyuman oleh kedua orang tua Nathan.
"Ohiya, apa ada masalah yang ingin dibicarakan?" tanya Sarah karena tak biasanya Nathan datang bersama keluarganya.
"Iya Sarah, saya dan istri saya menemani Nathan untuk menyampaikan niat baiknya," kedua orang tua Silvi semakin bingung dibuatnya, begitu pula dengan Reva dan Silvi.
"Saya datang kesini bersama kedua orang tua saya berniat melamar Silvi menjadi istri saya tante," Reva terkejut begitu pula dengan Silvi dan kedua orang tuanya.
Ini sakit, sangat sakit untuk Reva. Silvi sontak melihat kearah Reva yang memandang kearah Nathan dengan tatapan kosong, Silvi tau pasti Reva terluka saat ini.
"Bagaimana Silvi, apa jawabannya nak?" tanya papa Nathan.
Silvi pun melihat kearah kedua orang tuanya, dia bingung, ini mendadak, dan bagaimana Reva?
"Mama sama papa menyerahkan segala keputusan kepada kamu nak, toh nanti yang menjalaninya kamu," kata Malik sembari tersenyum lembut kearah putri satu-satunya itu.
Silvi tolong, tolong tolak lamaran itu. Kasih aku kesempatan untuk membuat Nathan mencintaiku, bukankah kamu tidak mencintainya, batin Reva penuh harap.