Revalina

Revalina
Permintaan Reva



Reva sudah keliling mencari kontrakan, tapi tak ada yang cocok. Dia juga sesekali memasuki cafe atau Indomaret untuk melamar bekerja, tapi tak ada yang menerimanya.


"Ternyata susah juga hidup sendiri," gumam Reva sembari mengusap keringat dikeningnya.


Hari ini, gadis itu tak masuk kampus, dia memilih menitip absen pada temannya. Ponsel Reva juga sedari tadi berdering, entah itu dari Silvi, Rai, bahkan Indah, tapi tak ada niat Reva mengangkat telfon dari siapapun itu.


Reva kembali ke hotel tempatnya menginap, hari ini dia tak mendapatkan apapun, namun dia akan berusaha esok hari.


Saat sampai di kamar hotelnya, wanita itu langsung menghempaskan diri diatas tempat tidur, hari ini memang sangat melelahkan untuknya. Dia melihat pesan yang masuk dari empat nomor telepon berbeda.


Rai


Rev, kamu dimana?


please jangan buat aku khawatir


aku nggak akan maksa kamu buat pulang


tapi tolong angkat telfon aku atau balas chat aku


maafin aku Rev


Silvi


Assalamualaikum Reva


kenapa nggak masuk kampus hari ini?


gue khawatir sama lo


Indah


Nak, kamu ke rumah om sama tante kamu kan?


jangan tinggal sendiri yah Rev, bahaya


kenapa nggak angkat telfon mama?


kamu baik-baik aja kan nak?


Nathan


Rev, kenapa nggak ke kampus?


lo baik-baik aja kan?


Hampir 20 menit Reva menunggu, barulah orang yang ditunggu nya datang. Orang itu tersenyum manis kearah Reva, dia lega karena melihat Reva baik-baik saja.


"Ada apa Rev?"


"Kita pesan makanan aja dulu, gue lapar," mereka pun makan sambil sesekali cerita masa kecil. Kedua orang itu memang merindukan masa-masa seperti ini. "Gue udah mau cerita Sil, dengerin gue baik-baik," ujar Reva membuat Silvi mengentikan aktivitas makannya.


"Oke, kenapa?" tanya Silvi.


"Lo masih suka sama Rai kan?" raut wajah Silvi sontak berubah.


"Please Rev, kita nggak usah bahas ini, gue pengen kita kayak dulu lagi, yang kalau ketemu ketawa bareng bukan malah bertengkar,"


"Gue cuman nanya Sil, nggak ngajak lo bertengkar,"


"Gue udah lupa sama Rai," mulut Silvi memang bisa berkata demikian namun hatinya tidak, cintanya pada Rai masih ada.


"Jawab gue jujur Sil, gue janji nggak akan marah atau ribut sama lo,"


"Rev, gue..."


"Gue keluar dari rumah Rai," ujar Reva memotong ucapan Silvi.


"Astaga, kok bisa?!" Silvi terkejut mendengar perkataan Reva, apa yang sudah dilakukan Rai sampai sepupunya itu berani mengambil tindakan ini. "Rai nyakitin lo, kalau iya, gue akan langsung samperin dia, gue yang akan bela lo paling depan Rev," Reva tersenyum mendengar perkataan Silvi.


"Makasih karena lo masih seperduli itu sama gue,"


"Pastilah Rev, lo saudara gue. Hal yang paling gue sesali di dunia ini saat gue terima lamaran Nathan dan nyakitin lo," Reva memegang tangan Silvi, dia menggenggam erat tangan itu.


"Gue udah maafin lo Sil, tapi boleh gue minta tolong sama lo," Silvi mengangguk. "Gue nggak bisa ambil hatinya Rai sekuat apapun gue berusaha, dia pasti akan selalu ingat sama Bia, dan gue udah menyerah sama pernikahan gue," air mata Reva sontak terjatuh, hatinya kembali perih mengingat semua perlakuan Rai.


"Reva yang gue kenal nggak gampang nyerah, Reva yang gue kenal nggak ada kata menyerah dalam hidupnya, dia akan berusaha sekuat mungkin dapatin apa yang seharusnya dia dapatkan, ini bukan lo banget Rev," kata Silvi sembari mengusap air mata sepupunya itu.


"Gue capek Sil, capek kecewa setiap harinya, capek berjuang sendiri,"


"Terus apa yang bisa gue bantu buat lo?"


"Berusaha buat ambil hatinya Rai, kalau lo berhasil buat Rai jatuh cinta sama lo dan lupain Bia, gue dengan bahagia akan lepas Rai buat lo, Sil," Silvi sontak menarik tangannya dari genggaman Reva.


"Gue nggak mau, lo tau kan gue udah sama Nathan. Lagipula lo aja nggak bisa buat ambil hatinya, gimana gue?"


"Kalau masalah Nathan, gue yakin Nathan juga pasti ikhlas lepasin lo buat bahagia sama orang yang lo cintai. Dan gue yakin lo pasti bisa ambil hatinya Rai karena lo sahabatnya Sil, lo tau Rai luar dalam. Gue juga lihat, Rai bisa senyum lepas kalau ngobrol sama lo,"


Silvi menggeleng, dia tidak bisa menuruti apa yang Reva minta walau dia mencintai Rai, takdir memang tidak menuliskan namanya untuk Rai, dan Silvi sudah ikhlas dengan itu. Silvi juga tidak mungkin menyakiti hati Nathan yang sudah tulus mencintainya selama ini, dia sudah janji pada Nathan untuk belajar mencintai Nathan.