Revalina

Revalina
Pantai



"Aku bantuin yah tante," kata Reva saat melihat mama Rey memasak didapur bersama seorang pembantu.


"Kok masih manggil tante, kamu anaknya mama juga sekarang, panggil mama yah," ucap Indah ramah membuat Reva tersenyum lalu mengangguk.


"Terus ini aku bantuin apa ma?"


"Emang kamu udah pulih, kemarin kan baru keluar dari rumah sakit,"


"Reva sudah sehat kok ma," Indah bersyukur mendapati menantu yang baik dan mau memasak didapur bersamanya, untung yang mendapati jantung Bia adalah Reva. Dulu sewaktu Bia ada, Bia selalu membantu Indah memasak bahkan mereka berdua sering bikin resep baru bersama, itulah kenapa Indah juga sangat terpukul sangat meninggalnya Bia.


"Kamu panggil gih Rai, kita makan sama-sama," Reva mengangguk lalu berjalan ke kamarnya.


Saat dia membuka pintu kamar, dirinya tak mendapati Rai dikamar itu, lalu dia mendengar suara musik dari balkon, Reva pun berjalan kearah balkon dan mendapati Rai menutup matanya sembari menikmati lagu yang dia putar.


"Rai," panggil lembut Reva sambil memegang pundak Rai membuat suaminya itu membuka matanya dan langsung tersenyum kearah Reva.


"Hey Rev,"


"Semua orang pasti akan merasakan yang namanya meninggal, kasihan Bia kalau kamu terus kepikiran sama dia, ikhlasin yah," Rai sontak memeluk tubuh Reva, dia butuh sandaran, namun tak mungkin jika pada mama dan papanya, Rai takut membuat mereka bersedih karena anaknya masih belum ikhlas dan masih bersedih juga.


"Sekarang kita makan, kamu butuh asupan untuk menjalani hari ini," Reva pun menggenggam tangan Rai dan menuntun suaminya itu ke meja makan.


"Ma, pa, hari ini aku mau jalan sama Reva yah berdua, nggak papa kan?" tanya Rai disela-sela mereka makan.


"Nggak papa dong nak, malah bagus," ucap Bryan (papa Rai).


Tempat pertama yang didatangi Reva dan Rai adalah pantai, Reva memang menyukai pantai, ada rasa tenang disana.


"Kamu suka pantai yah?" Reva mengangguk sambil memandang langit. "Kamu sama, sama Bia, kalian sama-sama suka pantai," Reva sontak melihat kearah Rai yang juga memandang kearahnya.


"Kamu nggak nyesel kan nikah sama aku?" tanya Rai lagi.


"Kenapa nanya gitu?"


"Setelah difikir-fikir, kayaknya aku terlalu egois saat meminta kamu menikah denganku hanya karena jantungnya Bia ada sama kamu, padahal aku nggak bisa menjanjikan kebahagiaan dalam pernikahan ini, bahkan cinta tidak bisa aku berikan," kata Rai tulus. Reva langsung menangkap kedua pipi suaminya itu.


"Aku bahagia dalam pernikahan ini, walau aku nggak tau mau dibawa kemana pernikahan ini nantinya. Rai, aku juga belum mencintai kamu, tapi aku mau mencintai kamu, dan aku harap kamu juga mau mencintai aku,"


"Makasih yah Rev,"


"Udah deh, nggak usah sedih-sedih. Kita bahas yang lain aja," Rai tersenyum lalu mengangguk mengiyakan perkataan Reva. "Kamu kapan mau mulai masuk kerja?" tanya Reva.


Rai memang tidak kuliah, setelah lulus SMA, dia langsung diajarkan bisnis oleh papanya dan sekarang dia mengurus salah satu perusahaan Bryan yang dibilang tidak terlalu terkenal, Rai berjanji akan membangun perusahaan papanya itu menjadi perusahaan yang besar.


Awalnya Bryan ingin memberikan perusahaan yang besar pada Rai, dia percaya anaknya itu bisa, namun Rai menolak, dia lebih memilih perusahaan yang masih kecil untuk diurusnya.


Rai bilang, ini menjadi pelajaran untuknya agar bisa membangun perusahaannya sendiri kelak, jika langsung perusahaan yang besar dia urus, dia tidak akan merasakan yang namanya jatuh bangun dalam dunia bisnis, dan itu akan membuatnya susah dalam membangun perusahaannya sendiri nantinya.


"Mungkin besok. Kamu sendiri kapan mulai kuliahnya?"


"Besok juga,"


"Emang kamu sudah sehat seratus persen?, nggak usah dipaksain kalau emang belum bisa,"


"Bisa kok, aku takut ketinggalan lebih banyak pelajaran lagi dan malah ngulang semester ini. Aku rasa udah lama banget aku nggak ke kampus," Rai mengangguk lalu mengelus lembut rambut Reva dan dibalas senyuman oleh istrinya itu.