Revalina

Revalina
Sudah berubah



"Hy Rev, kelihatannya lo udah baik," sapa Nathan saat melihat Reva dan Silvi masuk keruang kelas mereka.


"Hy, seperti yang lo lihat," Reva tersenyum kearah Nathan dan dibalas senyuman oleh pria itu.


"Rev ingat! Nathan playboy," bisik Silvi yang dibalas anggukan oleh Reva. Tak lama Dosen mereka datang dan memulai pembelajaran.


"Sil, gue ke perpus dulu yah, lo duluan aja ke kantin," ucap Reva saat mata kuliah pertama mereka telah selesai.


"Nggak mau!, gue mau nemenin lo,"


"Nanti lo kelaparan lagi,"


"Yaudah gini, gue beli makanan dikantin dulu, terus nanti gue susul lo ke perpus," Reva pun menyetujui hal itu. Dia dan Silvi berpisah karena arah kantin dan perpus berlawanan arah.


Reva ke perpus kali ini karena ingin mengembalikan buku yang dipinjamnya kemarin, sekaligus ingin meminjam buku lain lagi, dia memang paling suka membaca. Silvi saja kadang capek lihat Reva membaca.


"Novel ini bagus, coba deh lo baca," kata Nathan sembari menyerahkan sebuah novel. Reva melihat judul novel itu dan sepertinya menarik, dia pun mengambil novel itu dari tangan Nathan. Reva juga sedikit heran karena Nathan tiba-tiba saja sudah berada disampingnya.


"Lo suka baca novel?" tanya Reva.


"Nggak terlalu suka sih, mama gue yang punya banyak koleksi novel,"


"Terus mama lo nggak marah kalau novelnya gue pinjam,"


"Kalau dipinjam sama cewek secantik lo nggak akan marah,"


"Gue nggak cantik," kata Reva sembari tersenyum.


"Semua perempuan cantik dan semuanya punya kelebihan masing-masing. Gue baru tau kalau lo punya penyakit jantung," Reva mengangguk sedih. Karena penyakitnya ini, kegiatannya jadi terbatasi, sedikit-dikit harus kontrol kerumah sakit, kadang wanita itu kasihan sama tante dan om nya yang harus membiayai semuanya setelah kedua orang tua gadis itu meninggal.


"Untung ada Silvi dan keluarganya yang selalu kasih gue semangat, gue sayang banget sama mereka," kata Reva dengan tulus.


"Silvi emang baik, apalagi sama orang-orang disekitarnya," Reva menyetujui hal itu, semua orang yang mengenal Silvi pasti mengatakan dia gadis yang baik. "Sekarang lo bukan hanya punya Silvi dan keluarganya, tapi lo juga punya gue sebagai sahabat. Lo nggak keberatan kan gue anggap sahabat?"


"Nggak sama sekali, lo kan juga sahabat nya Silvi jadi gue juga udah anggap lo sebagai sahabat gue,"


"Reva!" panggil Silvi lalu menarik tangan Reva dan duduk dibangku perpus, dia juga sedikit menatap tajam kearah Nathan. "Kita makan yuk sekarang,"


"Diperpus dilarang makan Sil, kita duduk didepan perpus aja, kan ada kursi disana," mereka berdua pun segera keluar dari perpus dan duduk didepan perpus, lalu makan bersama.


"Gue kan udah bilang, jangan dekat-dekat sama Nathan,"


"Sil, Nathan itu baik, lagipula kita sahabatan doang kok,"


"Lo nggak tau Rev, gue tau gimana Nathan, gue duluan yang kenal sama dia jauh sebelum lo kenal," kata Silvi.


"Emang gue kayak gimana?" Silvi sontak terkejut mendapati Nathan berdiri dibelakangnya, pasti lelaki itu sudah mendengar apa yang dia ucapkan.


"Kata Silvi lo playboy, itu benar?" Silvi langsung menatap tidak percaya pada Reva, secara terang-terangan Reva langsung menanyakan hal itu pada Nathan, gawat! apa yang harus dia bilang sekarang.


"Lo bilang kayak gitu tentang gue Sil?" kali ini Nathan memasang wajah penuh tanya kearah Silvi.


"Yah, dulu kan waktu SMA, lo playboy Nat," Silvi tak tau lagi mau mengatakan apa, dia hanya berharap Nathan ikut dalam permainannya supaya Reva menjaga jarak dari pria itu.


"Dulu iya, sekarang udah nggak. Gue udah suka sama cewek pada pandangan pertama dan itu buat gue nggak bisa suka sama cewek lain lagi," Silvi tau cewek yang dimaksud Nathan adalah dirinya, Nathan juga pernah bilang, dia jatuh cinta pada Silvi saat hari pertama perkenalan di SMA mereka. Silvi juga menghembuskan nafasnya lega karena Nathan mau mengakui kalau dia playboy walaupun dia bilang sudah berhenti, intinya dia tak ketahuan bohong oleh Reva.


"Oh, udah nggak, gue kira masih sampai sekarang," kata Silvi tersenyum canggung.


"Beruntung banget yah cewek yang udah ngerubah lo. Boleh tau siapa cewek itu?" tanya Reva. Entah kenapa dia menjadi kegeeran bahwa cewek yang dimaksud Nathan adalah dirinya.


"Namanya..."


"Kayaknya kita ada kuliah deh jam 12.00, ini udah mau jam 12.00, nanti aja lagi ngobrolnya," kata Silvi memotong ucapan Nathan, gadis itu pun menarik tangan Reva dengan cepat menuju kelas.