Revalina

Revalina
Butuh donor jantung



"Kenapa kamu ngelemar aku?" pertanyaan itu yang pertama lolos dari bibir Silvi ketika dia meminta untuk berbincang berdua dengan Nathan diteras rumah.


"Simple. Aku mencintaimu dan ingin melihatmu bahagia," Silvi menoleh pada lelaki itu, tak ada keraguan disana.


"Aku tidak mencintaimu Nathan," lirih Silvi.


"Aku tau, cintaku cukup untuk kita berdua. Sampai kapan Silvi?, sampai kapan kamu terpuruk dan meratapi dirimu karena Rai, lelaki itu sudah bahagia bersama Bia, jadi cari kebahagiaan mu juga,"


"Nath, apa yang menjadi jaminan kalau kamu akan membahagiakan aku?"


"Aku tidak bisa memberikan apapun sebagai jaminan, tapi selama bertahun-tahun kita kenal bahkan kita sempat lost kontak, tidak pernah sekalipun aku tidak memikirkan mu. Aku masih sama Sil, masih sama seperti waktu kita SMA, yang mempunya tujuan membahagiakan dirimu, bukan sebagai seorang sahabat, melainkan seorang kekasih,"


Apa jika dia menerima Nathan, dia bisa melupakan Rai, apa bisa semua terjadi, apa sanggup Silvi menerima lelaki dihadapannya itu sedangkan Reva mencintai Nathan juga.


Setelah berbincang cukup lama, Silvi dan Nathan pun masuk kembali kerumah. Silvi tak berani menatap Reva, dia takut menatap mata tulus sepupunya itu karena mungkin sebentar lagi dia akan menyakiti Reva.


"Apa jawabanmu Silvi?" tanya ayah Nathan.


"Kalau kamu tidak bisa memberikan jawabannya hari ini, aku akan tunggu jawaban itu Sil," ucap Nathan karena Silvi malah melamun.


"Tidak Nathan, aku akan menjawabnya sekarang," Silvi menarik nafasnya lalu memperhatikan semua orang yang berada disana, kecuali Reva yang berada disampingnya. "Aku menerima lamaranmu," lanjut Silvi berucap sembari menutup matanya, berharap ini yang terbaik.


Tidak, ini mimpi, ini.., batin Reva.


"Auhk," keluh Reva sembari memegang dadanya membuat semua orang menjadi terkejut dan mendekat ke wanita itu.


"Reva, ada apa?" tanya Silvi khawatir.


"Tan...te Sarah, Jan...tungku sakit, aku su..sah ber...nafas," setelah itu Reva merasakan dunianya gelap, yah dia jatuh pingsan.


Malik langsung meminta tolong pada Nathan untuk menggendong Reva ke mobil agar segera dibawa kerumah sakit. Silvi pun sudah menangis, dia tau jelas kenapa Reva seperti ini, pasti karena syok mendengar keputusan dirinya.


"Sudah Sil, tidak perlu menangis, Reva akan baik-baik saja," kata Sarah menenangkan putrinya itu walau dia sendiri pun cemas pada Reva.


"Dok bagaimana keadaan Reva?" tanya Sarah pada Dokter yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan Reva. Dokter itu jugalah yang menjadi Dokter Reva selama ini.


"Keadaannya semakin memburuk bu Sarah, bukankah lima bulan yang lalu saya sudah menyarankan untuk mencari pendonor jantung untuk Reva, apa ibu sudah mendapatkannya?" Sarah menggeleng, zaman sekarang sangat susah mencari pendonor jantung yang cocok.


"Kita butuh pendonor itu secepatnya, kalau tidak nyawa Reva taruhannya," kembali semua orang menangis mendengarnya. Tidak, mereka tidak akan membiarkan Reva pergi secepat itu.


Silvi masuk kedalam ruang rawat Reva, dia menutup mulutnya menahan tangisannya melihat Reva dibantu alat pernafasan dan banyak alat terpasang ditubuh sepupunya itu.


"Hy Rev, maaf yah aku membuat mu seperti ini. Sadarlah Reva, jangan buat aku terus-terusan merasa bersalah, tolong jangan hukum aku seperti ini, ak..."


"Silvi, tenanglah, Reva wanita kuat dan dia akan baik-baik saja," ucapan Nathan menghentikan ucapan Silvi. Silvi bangkit dari kursi disamping ranjang rawat Reva lalu berbalik menatap tajam kearah Nathan. Ini semua karena lelaki itu, andai Nathan tak hadir dalam hidupnya lagi, dia dan Reva akan baik-baik saja hingga saat ini.


"Kamu!!, aku benci kamu Nath!"


"Aku salah apa Sil?, aku nggak ngerti kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gini?" tanya Nathan heran.


"Reva mencintai kamu Nathan!, seharusnya kamu sadar akan hal itu, tapi kenapa kamu ngelamar aku?" Nathan semakin heran, setaunya Reva tidak mencintainya, dia bingung oleh segala perkataan Silvi.


"Sil ak..."


"Perhatian kamu membuat Reva terbawa perasaan, dan dengan bodohnya kamu terus membuat dia berharap. Dia curhat ke aku Nathan, itu sebabnya aku selalu melarang kamu mendekati Reva, karena aku tau kamu akan menyakitinya," Nathan terdiam, pandangannya beralih kearah Reva yang menutup matanya, wajah pucat Reva tak biasanya dilihat Nathan, biasanya wajah ceria dan penuh semangat dari wanita itu yang dilihatnya.


"Tapi Reva nggak pernah bilang perasaannya ke aku Sil, mana aku tau,"


"Kamu perlu waktu hampir satu tahun untuk bilang cinta ke aku, begitupun Reva, Nathan, dia juga butuh waktu untuk mengatakan perasaannya, terlebih lagi dia perempuan," Nathan sontak memikirkan segala kenangannya dengan Reva, walau baru sebentar mereka kenal, namun Nathan menyayangi Reva, tapi hanya sebatas sahabat dan karena Reva keluarga Silvi (wanita yang dicintainya).


Nathan juga sedih melihat tubuh Reva terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit, apalagi jika benar Reva mencintainya, hal itu akan membuatnya merasa bersalah karena niatnya yang ingin mendekati Reva karena ingin dekat dengan Silvi malah dianggap salah arti oleh Reva.


Bangunlah Rev, aku ingin meminta maaf jika aku benar-benar menyakitimu, dan ingin aku katakan, aku bukanlah pria yang cocok denganmu, batin Nathan.