
Api menjulang dengan tinggi hingga ke langit-langit, hawa panas ini membuat semua orang yang ada di sini teringat akan peristiwa yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.
Peristiwa kebakaran yang menghanguskan semua keluarga Laurent tanpa tersisa dan pemilik dari api ini ada tepat di depan mereka.
"Ini ... Tidak bisa dipungkiri lagi. Ini adalah api amarah."
Waron menatap kosong ke arah Max yang tampak mengeluarkan api tanpa hentinya hingga membakar tubuhnya sendiri.
"Jadi ini salah satu kemampuan dari Amon, ya? Sungguh menakutkan." ucap Lisa memainkan boneka miliknya.
"P-pertarungan ini harus segera dihentikan."
Fiona ingin mencoba menerobos tapi diganggu oleh guru yang menjaga, dia berkata untuk tetap tenang dan kembali ke barisan.
Fiona hanya bisa mengalah dan mengikuti apa yang dimau Bu Evengalie walaupun dia sejujurnya tidak ingin melihat pertarungan ini lebih lama.
...---------...
'Dia terlihat lebih bahaya daripada sebelumnya.'
Menyadari perubahan yang muncul Arthur memegang pedangnya dengan lebih erat, bersiap untuk segala serangan yang menanti.
* Swosh!
"....!"
* Cring!
Dengan kecepatan yang melampui batas manusia, Max menendang Arthur. Kakinya dilapisi oleh api, dan beruntung Arthur dapat menahannya, jika tidak dia pasti sudah mati.
"Ha!"
Arthur memberikan tebasan agar Max menjauhinya, namun Max langsung menghilang tepat sebelum pedang mengenainya dan Max memberikan tendangan kuat, hingga mementalkan Arthur beberapa meter.
Terbentur tembok, Arthur memuntahkan sebilah darah segar. Genggaman pedangnya makin memudar.
* Blush!
Max yang tampak tidak terkendali, melemparkan api besar yang berbentuk silinder ke arah Arthur. Melihat serangan yang dapat membakarnya, Arthur bergerak secepatnya. Dia melompat untuk menghindari.
"Tak akan kubiarkan!"
Max sekali lagi melompat dengan kaki yang dilapisi oleh api, dia terbang melayang ke langit menggunakan api yang mendorong kakinya.
Berputar layaknya gansing api, dia sekali lagi menendang Arthur. Membuatnya terjatuh dan menghantam lantai.
Saking kuatnya serangan itu, lantai menjadi hancur, terbelah hingga dua.
"Arthur!" teriak Fiona tampak khawatir.
Kepulan asap mulai memenuhi tempat yang digunakan sebagai duel tersebut dan di sana kekhawatiran Fiona semakin meningkat.
Dia takut jika sesuatu yang buruk terjadi kepada Arthur maka dari itu dia mencoba untuk membujuk Bu Evengalie.
"Nona Evengalie, tolong hentikan pertarungan ini! Seharusnya anda tahu. Dengan adanya itu ditubuh Max, Arthur tidak punya kesempatan menang."
Sesuatu yang dimaksud Fiona tidak lain adalah roh api Amon. Semenjak kematian yang ayahnya, Max mewariskan roh tersebut dan dia dapat menggunakan api amarah.
Walaupun..
Tubuhnya sendiri tidak kuat akan kemampuan yang ada di sini, terlihat jelas dari kulit yang mengelupas dan dipenuhi oleh darah. Seolah tubuhnya sendiri ingin meledak.
Max sendiri juga terlihat tidak punya kesadaran dengan tubuh yang bergerak hanya mengikuti isting dan membunuh.
Yang ada dipikirkannya saat ini adalah membunuh Arthur. Karena itulah Fiona khawatir.
"Bunuh, bunuh, bunuh... Semua keluarga Midnight harus mati!"
Max berjalan mendekati Arthur dengan tubuhnya yang terbakar dan kulit serta darah mulai bermunculan. Max sendiri terlihat seperti mayat hidup yang berjalan.
'Dia benar-benar telah rusak.'
{Itu karena dia tidak punya ketahan tubuh yang kuat ... kupikir alasan kenapa Max berada di kelas F adalah karena itu}
'Sangat disayangkan. Aku tidak butuh jawaban itu, Shutaru.'
{... Apakah kamu ingin menukar tubuh?}
Arthur menggelengkan kepala, dia tidak Sebodoh itu membiarkan tubuhnya dikendalikan. Dia sangat yakin kali ini Shutaru akan membunuh semua yang ada.
Arthur berdiri dan mengangkat pedangnya. Dia memasang kuda-kuda bertarung yang berbeda dari sebelumnya.
Dan..
* Swosh!
Dalam jarak sepuluh meter dan satu tarikan napas, Arthur kini berada di depan Max yang Terhuyung-huyung.
Arthur ingin menebaskan pedangnya. Namun Api langsung semakin memanas, hingga membuat Arthur harus mundur terlebih dahulu agar tidak menerima panas api.
Max meraung dan membuat lingkaran api yang sangat panas tak berhenti di situ.
[Extreme Magic: Amon Saiki]
Sebuah lingkaran sihir terbentuk dengan sangat besar dan di luar lingkaran tersebut muncul sebuah manusia api, manusia api itu sangat besar, tingginya sekitar puluhan meter dan dia akan menebaskan pedangnya.
Melihat serangan luar biasa yang dapat menghancurkan satu ruangan, atau bahkan satu akademi.
Pada akhirnya bu Evengelia tentu tidak tinggal diam. Dia tidak mau sesuatu terjadi pada sekolah ini karena itulah dia memutuskan untuk sedikit membantu Arthur.
Dia membuat dengan cepat berada di depan Arthur dan membuat pelindung yang bisa melindungi semuanya.
Tepat pada saat pedang dari manusia api itu terkena pelindung, serangan tersebut lenyap begitu saja.
Arthur membuka mata lebar dia tentunya tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh guru yang seharusnya membencinya.
"Hanya untuk kali ini... akhiri ini!" ucap Bu Evangilia.
Meskipun ini adalah hal melanggar aturan, tapi mau bagaimana lagi. Jika serangan tersebut menghantam, tidak diragukan lagi seluruh ruangan ini hancur.
"Baiklah!"
Arthur memegang pedang dengan lebih erat. Saat ini Max telah mengeluarkan semua kemampuannya sehingga dia punya celah untuk beberapa saat.
Dan beberapa saat itulah yang dicari oleh Arthur.
Arthur melompat dan memutar tubuhnya seperti gangsing, dengan pedang yang penuh kegelapan dia menyerang Max yang masih terdiam karena kehabisan kekuatan.
-Slash
Dia berhasil menebaskan pedangnya dengan cukup dalam. Membuat Max terluka dan api yang mengelilingi tubuhnya lenyap. Dia perlahan berlutut dan pada akhirnya terletak.
Pertarungan telah berakhir. Dengan Arthur sebagai pemenang.
"Hah, hah.." napasnya berantakan. Meskipun menang tapi, jika saja bu Evangilia tidak ikut campur maka sudah pasti.
Arthur kemungkinan besar bisa mati jika saja terkena sihir itu, karena itulah Arthur sedikit merasa kecewa.
"Arthur Midnight," Bu Evangilia berkata. Dia mendekat ke arah Arthur.
"... sangat disayangkan. Karena aku melanggar aturan, tampaknya kamu akan didiskualifikasi di pertarungan ini. Dan Max. Kalian berdua tidak melanjutkan pertarungan ini."
Fiona ingin protes tapi terpotong dengan ucapan Arthur. Dia tidak masalah karena memang ini adalah hal yang melanggar peraturan.
Karena itulah dia menundukkan kepala dan mengucapkan terima kasih karena sudah menolongnya.
Kemudian dia kembali lagi ke barisan penonton.
Melihat Arthur yang kalah dan didiskualifikasi Fiona ingin sedikit menghiburnya tapi dia bingung. Apa yang sebaiknya di katakan.
Lagipula pertarungan selanjutnya adalah Fiona dan Lisa. Dia harus segera bergegas ke arena. Tapi sebelum itu.
"Fiona." Arthur berkata, berdiri di dekatnya.
"Ada apa?'
" Berhati-hatilah... dengan gadis boneka itu."
Lisa, entah kenapa dari awal masuk ke kelas F. Arthur punya firasat buruk dengan gadis tersebut walaupun dia tidak tahu apa itu.
Fiona hanya tersenyum dan menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Kini pertarungan telah berganti. Dengan pertarungan antara Fiona dan Lisa di arena.