Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 38. The watchers



Informasi dari kematian Liliana dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru sekolah.


Sekarang di salah satu ruangan, tampak terlihat sekitar empat orang murid akademi Reinhard yang sedang berkumpul di sebuah meja bundar.


Mereka adalah The Watchers, sebuah komite penjaga keamanan di sekolah ini dan tentu empat orang tersebut bukan orang biasa.


Mereka merupakan sekumpulan orang-orang terkuat yang berada di sekolah.


"Hari ini sebuah kabar yang tidak mengenakan terjadi, salah satu murid bernama Liliana Silveria diduga terbunuh!"


Sosok seorang gadis berambut hitam yang panjang menggunakan kacamata berkata demikian, dia tampak seorang yang rajin dan memiliki kuasa. Dia bernama Elisa Isabella.


"Silveria, ya? Tidak kusangka ada yang berani membunuh keluarga bangsawan seperti dia?"


Lelaki berambut kuning dengan mata hijau merespon, dia bernama Rei Vezalius.


"Siapapun itu dia pasti orang yang cukup gila."


Menyibakan rambut putihnya, sosok wanita dengan aura dewasa menatap tajam. Dia memiliki mata yang berwarna kebiruan. Maria Nightray.


"Aku setuju, tapi siapa sebenarnya orang gila yang melakukan hal tersebut. Terlebih lagi pada pagi hari seperti ini?"


Dengan menyipitkan mata, seorang gadis berambut coklat bertanya. Kelopak mata yang menawan membuat menambahkan kesan keindahan, dia memiliki sebuah kecantikan yang diidamkan bagi para pria. Dia bernama Olivia Charlotte.


Empat orang tersebut kini mengadakan sebuah rapat tentu untuk mencari siapa pelaku sebenarnya dari tindakan bodoh ini.


"Aku memiliki pendapat. Ini tentang murid pindahan baru-baru ini." Menatap Rei, Elissa berkata.


Rei yang menutup mata kini membuka matanya dan tersenyum karena tertarik.


"Siapa yang kamu maksud?"


"Arthur Midnight!"


Tentu hal seperti ini akan terjadi mengingat bahwa Midnight merupakan musuh kerajaan ini, namun tetap saja ini merupakan tindakan tuduhan. Karena sebenarnya Arthur tidak melakukan apapun.


"Para Midnight ya? Sejujurnya aku tidak mau mencurigainya, tapi... ucapanmu mungkin ada benarnya," kata Rei.


"Yah untuk saat ini mari kita lihat dulu apa yang terjadi...Kami para the Watchers, akan membuat semua orang yang membahayakan bagi akademi akan menghilang."


Bertingkah layaknya pemimpin. Tidak pada dasarnya Rei adalah pemimpin dari the Watchers, dengan pernyataan yang dia miliki semua orang menganggukan kepala tanda setuju.


...***...


Di sisi lain Arthur masih menatap pemandangan dari mayat Liliana, dia memperhatikan dengan cukup teliti. Sambil mencari sebuah petunjuk dari mayatnya.


"Bagaimana menurutmu Arthur?"


Fiona yang berdiri di sampingnya bertanya, namun sangat disayangkan Arthur tidak memiliki jawaban.


"Jadi begitu? Tapi apapun itu kamu harus lebih hati-hati. Mengingat—"


"Kalau aku tidak apa-apa. Jika pembunuhnya mengincarku justru itulah yang kumau."


Mungkin bagi Arthur pembunuh ini bukan masalah besar dia sangat yakin dapat menjaga diri, namun masalah sesungguhnya adalah...


"Aku justru khawatir dengan Fiona..." gumam Arthur sendiri sambil memegang dagunya.


 Brak


Pintu kamar mandi terbuka dengan sangat kasar, semua murid yang menatap mayat dengan merinding termasuk Arthur menoleh ke sumber suara.


Melihat sosok Max yang tampak kelelahan dan napasnya terbata-bata, siapapun dapat menebak bahwa pria itu baru saja berlari.


 Dia seketika terkejut karena menyadari keberadaan mayat Liliana di kamar mandi, lalu dia mengacungkan jari ke arah Arthur. Seolah dia adalah pelaku di sini.


 "Arthur Midnight! Apa yang kamu lakukan? Jangan bilang bahwa ini adalah perbuatanmu?"


 Berkat tuduhan tersebut, Arthur berhasil menjadi pusat perhatian. Sebelumnya, para murid tidak menyadari atau lebih tepatnya tidak memperhatikan atas kedatangan Arthur.


 Tapi karena teriakan dari Max, semua kini menyadari bahwa ada sosok yang kemungkinan besar pelaku di depan mereka.


 "Apa yang dilakukan Midnight di sini?"


"Oi, jangan bilang dia adalah pelakunya."


Bisikan dan tatapan penuh kewaspadaan di arahkan ke Arthur, namun dia tidak terlalu menganggap besar atas tindakan yang dia terima.


"Akuilah kesalahanmu!" teriak Max.


Oke mungkin Arthur bisa saja mengabaikan semua orang di sini, tapi dia juga punya batasnya. Selain itu dia harus dengan cepat melakukan sesuatu atau hal buruk akan terjadi.


"Aku bukan pelaku!" ucap Arthur dengan tegas.


"Jangan bohong! Aku yakin seratus persen bahwa ini adalah salahmu."


"Kenapa kamu berpikir seperti itu? Max Laurant? Apakah sebenci itu kamu dengan keluargaku? Asal kamu tahu. Aku juga benci dengan keluarga itu!


Dan juga bukankah kamu terlalu memojokkanku? Biasanya hal seperti ini dilakukan oleh pelaku, justru tindakanmu sangat mencurigakan."


Atas perkataan tersebut tentu Max tidak terima, dia berdecak dan tampak seperti ingin mengatakan sesuatu tapi langkah seseorang memutus ucapannya.


“Wah, wah, sungguh diluar dugaan. Pembunuhan di pagi hari? Siapa yang menyangka hal ini akan terjadi.”


Lelaki berambut kuning yang nampak tersenyum dengan wajah anggunnya datang, dia memiliki mata hijau yang indah. Dia adalah Rei Vezalius.


 Menyadari sosok penting yang datang membuat sebagian besar siswa merasakan rasa nyeri dan mereka menundukan kepala sebagai rasa hormat.


Pada dasarnya dia merupakan pemimpin the watchers dan merupakan siswa yang menjajar pada posisi terbaik, jadi sudah sewajarnya, ia menerima rasa hormat dari banyak orang.


“Apa yang anda inginkan?”


Semua orang bahkan Max dan Fiona menundukan kepala, kecuali satu orang. Ya dia adalah Arthur, seolah tidak tahu rasa takut dia menanyakan hal tersebut dengan santai.


Tidak. Lebih tepatnya dia justru mengetahui potensi dari orang yang ada di depannya. Dari tatapannya saja dia bisa menebak bahwa orang ini bahaya. Tapi meskipun begitu Arthur tetap memberanikan diri. Ini karena dia merasakan bahwa dia akan menjadi bahan tuduhan juga.


“Tidak, melihat kematian siswa adalah tugas sebagai the watchers, orang yang menjaga keamanan akademi dan aku hanya ingin mencari informasi..”


Dengan senyuman penuh intimidasi dia tersenyum. “Siapa yang tahu kalau pelakunya ada disekitar sini, kan?”


“Apa kamu mencurigaiku?” tanya Arthur dengan tatapan tajam seolah tidak takut dengan orang yang ada di depannya.


“… benar, aku sebenarnya tidak ingin mencurigaimu. Tapi orang yang paling berpotensi hanyalah kamu, lagipula kamu adalah keluarga musuh bagi kami.”


Dengan nada dingin dia berkata demikian. Hanya mendengar perkataan saja sudah berhasil membuat sebagian besar murid bergidik ngeri. Namun berbeda dengan Arthur.


Dia sudah muak akan semua ini..


“Sudah cukup! Aku bukan pelakunya.”


“Apakah kamu bukti bahwa kamu bukan pelakunya?” tanya Rei dengan senyuman dingin.


“A-anu. Aku sejak tadi bersama Arthur jadi aku tahu pasti bahwa dia bukanlah pelakunya.”


 Fiona pada akhirnya membuka mulut. Meskipun dia merasakan hawa seperti ribuan jarum yang menusuk tubuhnya dia berusaha agar reputasi Arthur tidak makin memperburuk.


 Tapi…


“Sebelumnya maaf, tapi kami tidak percaya dengan seorang putri yang melupakan martabaknya dan berhubungan dengan musuh.”


 Perkataan ini berhasil membuat Fiona bergetar ketakutan. Dia berkeringat dan menundukan kepala.


 Melihat gadis tersebut, membuat perasaan Arthur tidak enak.


 “Kamu sudah keterlaluan, bagaimana bisa kamu-“


 “Duel.”


 “Hah?”


 “Mari lakukan duel. Jika kamu menang maka kuanggap bahwa ini semua hanyalah kesalahpahaman.”


 Untuk sekarang tentu Arthur bukanlah tandingannya, dia sangat tahu akan hal tersebut. Rei juga mengetahui bahwa Arthur hanyalah orang lemah yang bisa dikalahkan dengan sangat mudah.


 Tapi dia melakukan hal seperti duel tidak lain adalah dengan niat agar bisa membunuh Arthur. Karena di dalam duel kematian adalah hal yang diperbolehkan.