Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 31. Akademi Reinhard



Akademi Reinhard merupakan sebuah sekolah sihir yang berisi oleh orang-orang elite di Kerajaan Anggelisa, kebanyakan murid di sana adalah para bangsawan kelas menengah hingga atas dan sewajarnya orang luar tidak diperbolehkan mendaftarkan diri, apalagi menginjakkan kaki.


Namun, berbeda dengan Arthur Midnight, berkat permintaan dari sang Raja David Rosemary— ayah dari Fiona meminta langsung ke kepala sekolah.


Jadi dengan terpaksa dia bisa menginjakkan kakinya, walaupun Arthur sendiri tidak terlalu ingin ke akademi.


Ada dua alasan kenapa dia menolak dan tidak ingin. Alasan pertama karena kenyataan bahwa dia adalah seorang musuh bagi negara ini, alasan kedua adalah karena kenangan buruknya di kehidupan sebelumnya.


Tapi, meskipun begitu dia harus tetap berada di akademi ini demi mencari informasi sedikit tentang tujuh fragmen raja iblis dan melindungi Fiona atas perintah David Rosemary.


Kini Arthur telah berdiri tepat di depan akademi tersebut. Sebuah akademi yang berdiri kokoh dengan bangunan yang kuat.


Arthur menatap tajam ke akademi tersebut.


Jadi ini Akademi Reinhard..


{Bocah! Kenapa kamu repot-repot datang ke akademi ini? Jika alasan kamu adalah untuk selamat dari David, bukankah sekarang adalah saatnya kabur?Tidak perlu lagi bersandiwara sebagai 'tunangan' gadis itu.}


Yang Shutaru katakan adalah kenyataan, tidak perlu lagi bersandiwara. Tepat pada saat ini Arthur bisa kabur, tapi dia tidak akan melakukan hal tersebut.


Diamlah Shutaru..


Kemarin kamu berencana untuk membunuh orang dengan tubuh ini, kan? Aku tidak akan membiarkan segalanya sesuai keinginanmu..


{Dasar naif! Jika yang kamu butuhkan adalah kemampuan dari gadis tersebut, maka bunuh dan ambillah! Kita tidak punya banyak waktu. Jika seperti ini raja iblis akan berhasil mengambil tujuh potongan tubuhnya dan semua berakhir.}


Shutaru sudah tidak bisa menahan diri atas perilaku naif serta bodoh dari Arthur, jika dia bisa mengambil alih tubuh Arthur walaupun hanya beberapa detik maka, dia akan menggunakan momen tersebut untuk membunuh Fiona.


Aku tahu. Kita tidak punya banyak waktu makanannya aku pergi ke akademi agar bisa mencari tahu..


Dan Membunuh dia adalah hal yang tidak akan pernah bisa kulakukan..


Bicaranya sampai sini, Shutaru..


Arthur menghentikan pembicaraan tersebut dia lantas langsung menginjakkan kakinya menuju akademi.


Setiap dia melangkah Arthur dapat merasakan bisikan tidak enak dan pandangan yang memberikan kesan jijik ke arahnya.


Namun bagi Arthur itu adalah hal biasa jadi dia mengabaikannya.


Setelah beberapa saat langkahnya terhenti. Di depan pintu kelas dengan papan bertulis F.


Jadi ini kelas F. Sangat cocok untuk aku yang tidak berbakat..


Seperti akademi pada umumnya kelas di sini terbagi menjadi kelas F sampai dengan A. Kelas F adalah para pecundang yang bahkan dapat dikeluarkan kapanpun apabila melakukan kesalahan.


Klark


Arthur menggeser pintu berwana putih tersebut, pandangan pertama kali yang dia lihat adalah beberapa orang menyedihkan, jumlah dari kelas ini tidak terlalu banyak. Hanya sekitar enam orang.


Yang memiliki arti bahwa enam orang tersebut mempunyai kesempatan besar untuk keluar dari kelas tersebut.


Beberapa orang di sini adalah orang yang cukup unik. Ada gadis aneh yang menutup wajahnya dengan tudung berjubah dan memainkan dua boneka berwarna putih serta hitam. Dia duduk di pojok kanan kelas.


Ada pria berotot yang berwarna rambut merah, dia menampilkan otot dengan kemeja yang setengah terbuka.


Pria berkacamata memiliki aura rajin, tapi tampak konyol dengan fashion yang aneh. Entah karena alasan apa, dia memakai pakaian sangat tebal dengan beberapa jaket serta syal. Padahal ini adalah musim panas. Dia juga bergumam dingin dengan nada lirih.


Ada beberapa lagi yang menarik, mulai dari lelaki bertopeng, wanita kecil mungkin terlihat seperti anak kecil berumur sepuluh tahu dengan rambut hitam.


Dan yang paling membuat Arthur terkejut adalah sosok gadis cantik dengan rambut pirang yang menyala terang di pagi hari. Mata birunya menatap ke arah Arthur dia merupakan Fiona.


Dengan ekspresi kegirangan dia melambaikan tangan seolah mengundang Arthur untuk duduk di sampingnya.


Karena satu kelas hanya berisi enam orang tentu kursi akan sangat kosong dan mereka semua duduk sendiri, tidak ada yang berusaha untuk saling mengenal.


Kecuali gadis pirang yang berenergi tersebut.


"Arthur!"


Arthur menghela napas berkat teriakan dari Fiona dia berhasil menjadi pusat perhatian kelas dan tentu ini bukanlah tatapan yang bagus.


"Arthur Midnight, ya? Keluarga musuh sepertimu kenapa berada di Kerajaan Anggelisa?" tanya sosok murid berkacamata tersebut, dia dibaluti dengan pakaian hangat akan tetapi dia berlagak seolah kedinginan.


Arthur hanya menatap dan pergi begitu saja, hingga seseorang menyerangnya.


"Aku tidak suka sifat sombongnya..." lirih dari gadis pembawa boneka.


Gadis yang membawa boneka serta bertudung tersebut melemparkan satu bonekanya, awalnya kecil, tapi lama-kelamaan boneka itu menjadi besar seukuran orang dewasa.


Boneka hitam itu membuka mulutnya seperti ingin melahap Arthur.


Arthur sedikit terkejut untuk beberapa detik. Sihir untuk memperbesar benda dan membuatnya hidup ini pertama kalinya dia melihat.


Namun boneka tetap boneka tentu ini bukan hal yang besar. Dengan gerakan yang cepat dia menebas boneka tersebut.


Membuatnya terbelah menjadi dua, tepat setelah boneka tersebut terbelah sebuah jaring menerjang Arthur membuatnya terikat akan jaring kuat tersebut.


Arthur tidak menyangka ada jaringan yang menyerang tepat setelah boneka itu terbelah. Di dalam boneka terdapat jaring yang siap menyerang.


Sistemnya apabila ada yang menebas menjadi dua maka jaring akan menyerang. Hal ini tentu diluar pikiran Arthur.


{Hahaha, rasakanlah itu bocah! Betapa bodohnya kamu}


Shutaru terlihat mengeluarkan candaan di saat yang tidak tepat.


Arthur berdesis, dia menggerakan pedangnya secepat mungkin. Berusaha untuk menghancurkan jaring, tapi tidak menghasilkan apapun bahkan tidak ada bekas lecet.


"Percuma, jaring itu tidak akan bisa hancur dengan serangan fisik biasa. Setidaknya butuh kemampuan sihir atau elemen... tapi untuk dirimu yang tidak bisa mengeluarkan sihir itu agak."


Gadis yang menggunakan tudung tersebut terlihat tertawa mengejek tanpa menyadari bahwa Arthur sendiri dapat mengeluarkan kegelapan.


"Jadi begitu..." gumam Arthur, dia menatap pedang miliknya dengan tajam.


< Dark Sword Technique: First style: Dark Slash >


Tebasan kegelapan berbentuk bulan sabit menerjang, menghancurkan jaring tersebut. Seisi kelas terkejut mereka semua membuka mata lebar.


Tentu mereka tidak menyangka bahwa pangeran ketiga yang keluar dari Kerajaan dan mempunyai rumor tidak dapat mengunakan sihir, ternyata dapat menciptakan serangan kegelapan yang hebat.


Dan kegelapan merupakan kemampuan yang langka.


"Dari mana kamu mendapatkan kemampuan itu? Midnight!"


Murid berambut merah dengan kemeja yang terbuka setengah hingga menampilkan otot berteriak, dia berdiri dan menunjukkan jari ke arahnya.


Arthur menundukkan kepala tidak memiliki rasa tertarik atas lawan bicaranya.


"Itu bukan urusanmu."


"Dasar tikus penyusup! Rasakan ini!"


Sebuah kobaran api besar melesat ke arah Arthur, suhunya cukup panas bahkan cukup kuat untuk menghancurkan satu kelas.


"B-berhenti!" Fiona berteriak dia sudah tidak bisa menahan lagi melihat Arthur yang terus terpojok.


Arthur berdecak kesal. Dari tadi kemampuan murid di sini berada di atas rata-rata.


Api semakin mendekat dan Fiona berteriak makin keras, Arthur dapat merasakan kekhawatiran yang pertama kali ia rasakan.


Dengan perasaan tersebut, dia menggenggam pedang dan ingin menebas api tersebut. Tepat pada saat pedang hampir mengenai api, sebuah teriakan membuat api tersebut lenyap begitu saja.


"Berhenti dengan pertarungan ini."


Aura dingin menusuk para penghuni kelas dan api tersebut tanpa alasan yang jelas menghilang. Sosok yang berkata dan membuat suasana ini tidak lain adalah guru kelas tersebut.


Dia mempunyai rambut hitam pendek dengan kacamata di kepalanya, dia memiliki aura yang tenang.


"Kalian kelas F cukup dengan pertarungan bodoh ini, kedatangan murid baru bukannya hal bagus?"


Para murid yang menatap marah ke Arthur kini kembali menundukkan kepala.


Guru tersebut menatap Arthur dengan dingin dan sambil membenarkan posisi kacamata.


"Dan juga kamu... kami tidak perlu tikus penyusup sepertimu."


**Swosh**


Arthur menutup mata karena merasakan sesuatu seperti terlempar, tapi dengan cepat mata itu terbuka. Serangan pedang es, itu tidak mengarah ke Arthur, namun justru mengarah ke Fiona.


"Eh?"


Fiona yang menjadi incaran serangan tanpa alasan yang jelas tentu terkejut.


Tapi tidak perlu khawatir, dengan gerakan sangat cepat, bahkan ini merupakan kecepatan maksimal dari Arthur. Dia berlari dan melompat ke meja Fiona, kemudian menebas pedang es tersebut.


Pecahan es terjatuh tepat di meja, setelah Arthur berhasil menebasnya.


Seperti sebelumnya satu kelas terkejut, mereka bahkan tidak dapat melihat apa yang baru saja terjadi.


Berbeda dengan guru, dia sedikit tersenyum.


"He~ kamu cukup hebat. Serangan barusan, setidaknya hanya murid kelas C dan keatas yang bisa merespon."


Keheningan merajalela di satu kelas. Arthur tampak menggertakan gigi.


"Apa yang kamu rencanakan?"


"Tidak ada, sudah kubilang, kan? Aku tidak menerima tikus penyusup seperti dirimu. Midnight pantas lenyap."


"T-Tolong berhenti Pak Leon Reinhard. Arthur memang berasal dari keluarga musuh, tapi—"


"Tapi kenapa nona Fiona? Apa anda ingin bilang bahwa dia adalah orang baik. Keluarga mereka penyebab kematian raja pertama Jack Rosemary! Mereka tidak bisa dimaafkan."


Mendengar perkataan tegas dari gurunya, membuat Fiona berkeringat dingin, dan ketakutan. Dia secara alami menundukkan kepala.


Leon Reinhard. Dia merupakan keturunan dari Reinhard Von Goldenbaum, sosok pendiri akademi ini. Dan sosok sahabat terdekat Jack Rosemary.


Menyadari Fiona yang ketakutan Arthur membuka suara.


"Baiklah Pak Guru. Mari pindah tempat, tampaknya anda punya urusan dengan saya."


"He~ kamu cukup berani."


Ini adalah hari pertama dia masuk akademi, tapi dia sudah membuat Leon Reinhard salah satu guru paling ditakuti menjadi musuhnya.


tentu ini membuat semua orang terkejut.