Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 45. Kompetisi



Suasana pagi hari di Kerajaan Anggelisia terlihat ramai dan penuh aktivitas, dengan para penduduk yang berlalu lalang di jalan-jalan dan kios yang saling berjejeran. Suasana yang ceria dan hangat menawarkan keindahan yang istimewa dan dapat memikat siapapun yang melihatnya.


Di tengah keramain tersebut, terlihat sosok Fiona yang berjalan mendahului Arthur. Gadis itu terus melangkah dengan lebih cepat seolah menghindari sosok Arthur yang berada dibelakangnya, dia sudah mencoba menggapai, namun langkah Fiona justru semakin cepat sehingga tidak tertangkap.


"Fiona!"


Dia berteriak, membuat beberapa orang menoleh. Namun Fiona tidak merespon dan terus melangkah lebih cepat.


"Fiona!"


Dia sekali lagi mencoba, dua kali. Tiga kali. Empat kali. Dan tidak ada jawaban, gadis itu hanya melangkah tanpa menoleh. Hingga panggilan ke delapan, Fiona akhirnya menyerah.


Dia berhenti melangkah dan melihat ke belakang sosok Arthur.


"Ada apa?"


Mata biru bak langit Fiona yang biasanya ceria dan penuh kebahagiaan, kini menyipit. Tanda bahwa dia terganggu.


Berkeringat dan tersenyum kecut, Arthur menjawab, "Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"


Tentu pertanyaan itu muncul. Mengingat tingkah dari Fiona yang berusaha menjauhinya.


"Humph!"


Memalingkan pandangan dengan cara imut, dia mengeluarkan suara decakan. Pipinya mengembung seperti ikan buntal.


Dari sudut pandang Arthur dia terlihat lucu, tapi untuk sekarang lebih baik tidak mengatakan apapun.


"Aku tidak marah atau apapun! Hanya sedikit... malu."


Diakhir kalimat suara Fiona sangatlah kecil hingga tidak dapat terdengar. Arthur memiringkan kepala, sungguh dia makin bingung dengan gadis ini.


Mereka terus berhenti dan Arthur menatap kebingungan. Keheningan menerjang mereka di keramain ini.


"J-jangan terus menatapku."


Mengatakan hal itu Fiona menundukkan kepala, bermain dengan rambut pirang yang tergulai rapi tersebut. Tentu yang dilakukan adalah tindakan untuk menahan rasa malu.


"Maaf."


"... jangan terus meminta maaf. Ini sedikit membuatku merasa bersalah."


Itu artinya Arthur memang tidak bersalah dan Fiona mengatakan hal tersebut dengan jujur. Walaupun dengan suara rendah dan sedikit gemeteran.


"...."


Tidak ada respon yang spesial dari Arthur selain kelopak mata yang terbuka lebar, mata merah itu bebinar. Seolah kagum akan ucapan itu.


"Berhenti dengan tatapan itu! Duh..."


Berteriak dengan pipi yang kini memanas, Fiona membalikkan tubuh secepat kilat dan langsung berjalan kembali dengan langkah cepat. Tidak ini lebih cepat dari sebelumnya.


"Apa yang kamu tunggu? Jam akademi sudah semakin datang jadi ayo segera!"


Arthur menatap dengan cermat dan tersenyum sebelum akhirnya melangkah menuju akademi.


...***...


"Sebuah Kompetisi?"


Kelas F terlihat mengatakan hal tersebut dengan bersamaan. Karena sebelumnya topik yang dibahas mengejutkan.


"Ya kalian benar," guru perempuan berkacamata berkata. Dia bernama Evengilia.


"Seperti Namanya kami ingin kalian semua bertarung dalam duel satu sama lain. Hal ini demi mengetes sejauh mana kekuatan kalian. Informasi penting siapapun yang dapat berhasil mempunyai sekor terbaik maka dapat naik ke kelas selanjutnya."


Terkejut akan berita menguntungkan ini, semua orang membuka mata lebar kecuali Arthur.


Tentu bisa keluar dari kelas F yang terkenal akan kelemahan adalah hal yang bagus.


Tidak ada orang bodoh yang tidak tergiur akan godaan seperti ini.


Yang dipikirkan semua orang saat ini adalah sama. Yaitu tekad untuk menang.


"Aku suka tatapan ini."


Tersenyum, Evengilia berkata. Dia dapat merasakan tatapan serta tekad tinggi dari semua orang.


Ya kecuali...


"Arthur Midnight, apa kamu tidak tertarik?"


Tatapan kelas kini berubah ke Arthur.


Bagi Arthur berada di kelas manapun sama saja, asal dia dapat mengetahui sedikit informasi tentang tujuh potong iblis.


Dan dia kini mengetahui bahwa pelaku pembunuhan belakang hari ini mengincar salah satu potongan tersebut.


Tapi ada perasaan yang tidak enak jika harus berpisah dengan Fiona karena besar kemungkinan Fiona akan ikut dan siapa tahu dia menang.


"Tentu aku tertarik!"


Perkataan itulah yang dinantikan oleh Evengilia. Dia menyeringai.


"Baiklah. Pertarungan akan dimulai hari ini dan lawannya ..."


Evengilia menulis di papan tulis. Di sana tertata dengan rapi, lawan pertandingan, dan urutan.


Dimulai dari Max dan Arthur yang berada di awal pertandingan. Kemudian Fiona dan Lisa—gadis pembawa boneka. Selanjutnya adalah Waron dan Gray.


Sedangkan karena kelas ini sendiri berisi tujuh orang maka tersisa satu orang. Yaitu Agnes— seorang gadis yang terlihat seperti anak kecil. Tapi entah kenapa auranya terlihat bahaya. Dan dia berada di pertandingan terakhir.


Jadi apabila semua orang bertarung dan menyisakan satu pemenang maka Agnes akan menjadi juru semi final.


Terdengar sangat curang, tapi inilah bukti bahwa dia adalah yang terkuat.


"Bagaimana bisa anak kecil itu mendapatkan tindakan istimewa?"


max terlihat tidak terima, dia menatap tajam Agnes yang masih tersenyum polos seperti anak kecil. Seolah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Ketika mentap gadis kecil tersebut, pandangan Max tanpa sengaja bertemuan dengan Arthur. Membuat Max makin emosi karena memiliki dendam peribadi.


"Cih, lawanku adalah dia, ya?"


Max berdecak. Dengan ini dia bisa melenyapkan segala ketidak puasan miliknya ke Arthur. Tapi timbul satu pertanyaan.


Akankah dia dapat menang? Melawan sosok Arthur yang bahkan dapat menahan beberapa tebasan pedang dari Rei.


'Glek.'


Jika mengingat pertarungan itu, Max menelan ludah. Dia tidak bisa melihat pergerakan Rei saat bertarung dan Arthur? Walaupun susah, tapi setidaknya dia dapat menahan beberapa serangan darinya.


Inilah yang membuat Max makin sedikit tidak ragu.


"Max dan Arthur. Persiapkan diri kalian karena pertandingan pertama adalah kalian."


Evengelia berkata demikian. Tentu Arthur dan Max hanya menganggukkan kepala. Kemudian saling menatap dengan pandangan serius.


...***...


Kini semua kelas F sudah sampai di area pertarungan yang tidak terlalu besar dan sedengan.


Dengan bangunan yang anti sihir sangat cocok. Para penonton berada di garis bundar dan berada di pojokan.


Sedangkan Arthur dan Max mereka berada di bundaran besar karena mereka adalah pertarungan pertama.


Dengan pedang yang digenggaman kuat Arthur membuat kuda-kuda siap bertarung. Sedangkan Max sendiri terlihat tidak membawa apapun.


Mengingat dia adalah pengguna api, jadi mungkin tidak perlu senjata? Tapi apapun itu tidak penting.


Evengelia memberikan aba-aba tanda pertarungan dimulai.


Swosh


Seperti yang diharapkan dari pengguna api. Dia menciptakan bola api besar dengan sangat cepat. Menyerang ke Arthur.


Hanya saja...


Seperti bukan hal yang kuat, Arthur menghindari ke sisi kanan dengan mudahnya.


Berdecak kesal. Max merentangkan tangan ke depan. Lingkaran dengan warna merah tergambar di kelopak tangannya. Dan sekali lagi bola api menyerang.


Tapi ini juga tidak berfungsi karena Arthur menebas api tersebut, hingga membuatnya menjadi dua bagian.


"Sial!"


Merasa percuma Max berteriak kesal.


Dia merogoh sakunya dan mengambil sebuah pistol dua tangan dengan Warna hitam.


Mengumpulkan energi sihir di pistol, membuat warna kemerahan dan ketika Max mencabut platuk.


Duar


Sebuah api panjang membentuk slinder menyerang Arthur. Ini sangat panas, puluhan kali lebih kuat dari sebelumnya.


Maka dari itu Arthur melompat untuk menghindari, gerakan itu perfect hanya saja.


Swosh


Max berpindah tempat dengan sangat cepat. Memanfaatkan pistol untuk membuat tekanan besar dan kecepatan tinggi.


Melihat Arthur yang terkejut beberapa detik. adalah hal baik, sambil menyeringai dia berhasil memukul Arthur hingga mental beberapa meter.


Melihat Arthur mental ada rasa puas di hatinya.


Dia berpikir. 'Huh, aku tampaknya aku tidak perlu menggunakan api amarah.'