Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 23. Penculikan Fiona



...Ilustrasi...


..._________...


Arthur




Fiona



..._______...


"Ingat jangan lakukan hal yang tidak-tidak, oke!"


 "Hah, mana mungkin aku melakukan hal seperti itu."


 "E- Eh, itu memang benar... tapi, Pokoknya jangan mengintip!"


Di kamar yang cukup untuk digunakan dua orang. Arthur dan Fiona tampak bertengkar, Fiona sebelumnya ingin mandi, tapi karena tidak pernah satu kamar dengan pria, dia jadi khawatir bila sesuatu yang buruk terjadi. 


Yah, di dalam lubuk hati terdalam, Fiona mengetahui bahwa Arthur tidak seperti itu, tapi dia tetap merasa tidak nyaman.


 “Aku paham, lagipula kamar mandi berada di bawah. Untuk apa aku repot-repot mengintip?”


Arthur terlihat tidak peduli akan ocehan Fiona, lebih tepatnya dia menjadi kebal. Dia sekarang sedang duduk dengan santai di Kasur sambil menatap Fiona yang terdiam di pintu masuk.


 “Aku tahu kalau kamu tidak akan melakukan itu,” gumam Fiona yang tidak terdengar oleh Arthur.


“Apa kamu mengatakan sesuatu?”


Sekujur tubuh Fiona memerah, dia baru saja mengatakan bahwa ia percaya dengan Arthur. Beruntung Arthur tidak terdengar, jika semisal Arthur mendengar perkataan barusan Fiona bisa mati karena malu.


“B- bukan apa-apa!”


Dengan teriakan tersebut Fiona membanting pintu dan segera keluar rumah, agar dapat menutupi muka memerahnya.


‘Benar-benar gadis yang merepotkan.’ Piker Arthur karena melihat sikap agresif milik Fiona.


Dia perlahan membaringkan badan ke kasurnya dan menatap lampu-lampu, sebelum akhirnya menutup mata perlahan.


***


Di suatu kamar yang bersebelahan dengan Arthur terdapat dua orang pria yang saling mengobrol. Mereka duduk bersama sambil berhadapan.


“Aku dengar dia ada di sini.”


“Ah, putri itu, ya? Sebenarnya ada apa dengan dia?”


“Dasar bodoh! Putri itu bisa ……”


Mata tenang pria tersebut terbuka lebar karena mendengar penjelasan dari temannya itu. Dia menelan ludah, tidak menyangka kekuatan gadis yang mereka incar sangat luar biasa.


“Dengan ini kamu paham? Inilah kenapa aku malas bekerja dengan anak baru sepertimu, kamu bahkan tidak mendengar penjelasan dari Bos. Jika dia tahu, kamu bisa mati.”


Wajah pria tersebut menjadi pucat karena mendengar kata Bos, dia teringat betapa mengerikannya atasannya.


“Ya… kamu benar.” Dia menundukan kepala, ketakutan.


Pria satunya lagi menghirup rokok dan menaruhnya di meja karena sudah habis. Dia berdiri dari tempat duduknya dan memakai jubah hitam miliknya.


Melihat itu temannya bertanya, “Mau pergi ke mana?”


“Bodoh, bukankah sudah jelas? Mari kita lakukan misinya.”


Wajah datar yang barusan kini menjadi senyuman penuh semangat. Ini adalah hari pertama pria itu bekerja di organisasi, jadi dia sebisa mungkin ingin melakukan yang terbaik.


“Kamu benar, ayo!” Setelah berkata demikian pria itu berdiri dan menggunakan jubahnya.


***


Di sisi lain, Fiona menunggu giliran kamar mandi karena sedang digunakan. Ada rasa jenuh karena menunggu dan wajahnya menjadi sedikit masam.


Dia melepaskan semua pakaiannya dan membasuh tubuh dengan shower, dia juga mencuci rambut pirang yang Panjang dengan sabun rambut. Gelembung-gelembung terdapat di rambutnya dan Fiona tersenyum manis seolah menikmati proses mandi ini.


Setelah selesai dengan rambut dan shower, Fiona berjalan ke arah bak mandi dan meredamkan semua tubuhnya di sana.


Kehangatan mengalir dari sekujur tubuh Fiona, air hangat ini mengistirahatkan tubuhnya dari rasa Lelah setelah berjalan beberapa jam.


Pundak dan pipinya menjadi merah karena kehangatan air tersebut. Dia menghela napas lega. Sudah sejak lama dia tidak mandi dengan tenang.


Karena beberapa alasan Fiona diincar oleh beberapa orang, awalnya semua baik-baik saja karena dia punya pengawal, tapi sosok satu orang membantai semua pengawal itu dan membawanya ke suatu tempat.


Fiona mencoba untuk kabur dan beruntung dia berhasil, tapi keberuntungan tidak terjadi dua kali, dia mengalami nasib sial karena diculik oleh bandit. Seorang gadis cantik seperti dia tentu mengundang niat jahat para bandit.


Kemungkinan dia akan dijadikan budak dan boneka pelampiasan nafsu orang-orang mesum. Memikirkan itu saja dia menangis dan ketakutan.


“Hal buruk seperti menjadi budak tidak terjadi, ini semua berkat, dia.”


“Aku benar-benar berterima kasih dengannya.”


Memikirkan itu berhasil membuat pipi Fiona menjadi memerah, dia menenggelamkan separuh kepalanya ke air hangat.


Dia ingin menjadi lebih jujur dan berkata “terima kasih” ke Arthur. Saat pertama kali bertemu juga, dia ingin memeluknya karena rasa takut, tapi itu semua terhalang dengan sikapnya itu.


Selain kemampuan istimewa yang dimilikinya, berkat sikap tidak jujur ini juga membuat dia sering dijauhkan oleh banyak orang, dia sejatinya tidak pernah mengalami rasa pertemanan atau hal semacamnya.


Sama seperti Arthur dia sendiri.


‘Setelah ini mungkin aku harus berterima kasih dengan normal.’


Fiona mengangkat wajah yang tenggelam di air hangat, dengan muka yang memerah dia melakukan simulasi, di mana seolah-olah Arthur berada di depannya. Dia ingin berlatih untuk mengucapkan terima kasih.


“T- t- terima… Ah! Sudah kuduga tidak bisa.”


Fiona memukul air hangat tersebut karena rasa malu yang luar biasa. Bersimulasi saja tidak bisa, lalu bagaimana caranya dia mengatakan hal itu secara langsung.


Fiona lalu menghela napas mulai berpikir bahwa ini semua mustahil baginya untuk berterima kasih secara langsung.


Setelah selesai mandi, Fiona mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan menggunakan gaun merah miliknya. Rambutnya masih basah, tapi dia buru-buru untuk keluar.


Ketika Fiona membuka pintu perlahan dia buat terkejut akan dua sosok pria berjubah hitam yang menunggunya. Fiona sangat tahu siapa yang berada di depannya, dia mengerutkan kening dan menggigit bibir.


 


***


Arthur perlahan membuka matanya, dia menatap jam dinding yang menuliskan pukul sepuluh malam. Dia merasakan hal janggal sudah lebih satu jam semenjak Fiona pergi, namun tidak kunjung kembali.


Perlahan Arthur menaikan tubuhnya dan mengucek mata mengantuknya.


‘Pergi ke mana, dia?’ Arthur menatap segala ruangan kamar dan memang benar bahwa tidak ada Fiona.


Perasaan tidak enak menyerang hati Arthur, dia memiliki firasat buruk tentang ini. Fiona tampak seperti diincar oleh seseorang, jadi yang kemungkinan terjadi di kasus ini adalah.


“Penculikan… cih!”


Arthur bergegas mengambil pedang merah yang diwariskan tersebut dan langsung menuruni tangga, dia berharap ini hanyalah pikirannya saja.


Dia berlari menuju kamar mandi yang tertutup. Normalnya dia harus menunggu akan tetapi dia khawatir dengan Fiona, dia ingin memeriksa apakah dugaannya benar atau tidak.


“Kyaa! Apa yang kamu lihat?” Sebuah ember kayu dilemparkan ke Arthur. Dia melihat hal yang tidak pantas barusan, sepertinya membuka pintu kamar mandi adalah hal yang buruk.


Tapi dari yang dia lihat, gadis tersebut bukanlah Fiona, tapi orang lain. Yang artinya Fiona memang tidak berada di penginapan.


Dengan pintu masih terbuka Arthur langsung lari.


“Tunggu!”


“Maaf, aku ingin mengecek temanku, tapi tidak kusangka ternyata salah orang!” jawab Arthur karena menyadari gadis tersebut marah.


Dia makin mempercepat larinya dan berharap. ‘semoga kamu baik-baik saja, Fiona.”