Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 28. Sebuah permintaan



Arthur membuka mata perlahan pemandangan pertama kali dia lihat adalah ornamen yang tergantung di langit-langit dengan sangat rapi, menimbulkan kesan yang estetik. 


Perlahan tapi pasti Arthur menaikan tubuhnya dan menyentuh kepala karena merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dan pada akhirnya teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu.


Arthur adalah orang yang cukup pintar, dia bisa menganalisis beberapa hal, dia sangat yakin kini dia sedang berada di kerajaan Anggelisa.


Tapi kenapa aku bisa berada di sini…?


Apa paladin itu yang membawaku…?


Ketika dia masih dalam pemikirannya sendiri, tiba-tiba pintu kamar terbuka menampilkan gadis angun berambut pirang panjang dengan gaun merah, dia adalah fiona.


“Kamu sudah bangun Arthur?” 


Dia tampak terkejut untuk beberapa detik, ini karena Fiona tidak menyangka Arthur akan bangun secepat ini.


“Ya, omong-omong kenapa aku bisa berada di sini?”


Arthur menganggukan kepala lalu menatap jendela luar yang menampilkan banyak warga-warga yang sedang berlalu lalang. Beberapa membuka kios dan beberapa lainnya tampak berjalan ke sana ke sini untuk menikmati suasana.


Fiona tersenyum hangat, dia berjalan mendekati Arthur.


“Apakah mereka terlihat ramai dan hangat?” Fiona mengeser kursi dan duduk di dekat Arthur.


“Mereka? Maksudmu para warga?”


“Ya. bagaimana menurutmu tentang mereka?”


“Mereka terlihat ramai dan hangat sama seperti kerajaanku, tapi aku yakin ini bukanlah tempatku.”


Arthur masih menatap jendela tersebut dengan pandangan serius, bersamaan dengan ucapan Arthur suasana berubah menjadi hening untuk beberapa detik.


Arthur berdiri dari kasur dan hendak berjalan, dia sudah berhasil membawa pulang Fiona jadi tidak ada alasan lagi untuk tetap bersama dengannya, ketika tanganya hendak membuka genggaman pintu, Fiona memberanikan diri untuk berbicara.


“Tunggu!”


Arthur menengok kebelakang. “Ada apa?”


Sebelum menjawab muka Fiona sudah menjadi merah padam, dia seperti ingin mengatakan sesuatu yang susah. Dia menengok ke arah lain dan memainkan rambut pirang panjangnya.


“Terima kasih.”


Ucapan sederhana dari Fiona, tapi ini merupakan suatu hal paling berharga bagi Arthur. ‘Terima kasih’, dia memang sering mendengar itu karena sempat berkeliling untuk menyelamatkan banyak orang, tapi ini pertama kalinya dia mendapatkan kalimat dengan penuh rasa tulus.


Orang-orang akan pergi ketika menyadari penyakit dan identitas dari Arthur, tapi Fiona berbeda, meskipun malu-malu, dia mengatakannya dengan sangat tulus.


Hal inilah yang membuat Arthur meneteskan air mata. 


Melihat air mata yang menetes, membuat mata Fiona terbuka lebar, dia tentunya tidak akan menduga akan respon mengejutkan tersebut.


“Kenapa kamu menangis!?”


Fiona berdiri dari tempat duduknya dan berjalan dengan penuh rasa khawatir. Dia memegang tangan Arthur.


“Tidak apa-apa, aku hanya terharu dengan ucapan barusan.”


Pipi gadis tersebut merona dia teringat akan hal paling memalukan dalam hidupnya. 


“I- ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Mengatakan ucapan terima kasih adalah hal yang seharunya dilakukan.”


“Kamu mengatakannya dua kali, aku senang.”


“E~ eh, Jangan tatap aku dengan wajah seperti itu!”


“Aku sepertinya mulai tahu tentang sifat Fiona yang tidak bisa jujur.”


Fiona terdiam dan menundukan kepala, dia mengembungkan pipi dengan wajah memerah, cemberut.


Merasakan rasa bersalah karena telah mempermainkannya, Arthur mengaruk kepala.


“Maaf aku terlalu berlebihan.”


“Tidak! Aku tidak memikirkan itu…”


“Arthur, ucapanmu barusan tentang ‘ini bukan tempatku’ apa maksudnya itu?”


“Sesuai maknanya. Aku adalah keluarga musuh Rosemary, bangsawan yang kabur serta gagal, tidak berhenti di situ aku juga penderita umbral plague. Fakta bahwa tidak akan pernah ada yang menerimaku adalah kenyataan.”


Fiona mengigit bibirnya, dia menatap wajah Arthur dan memegang tangannya.


“Aku tidak akan menjauhimu!”


Mata merah yang sebelumnya mati kini terbuka lebar karena ucapan Fiona.


“Aku tidak peduli siapa kamu dan penyakit umbral plague. Bagiku kamu adalah kamu, jika semua menjauhimu serta kamu tidak punya tempat. Maka aku akan menjadi tempat untukmu!”


Fiona terdiam, dia perlahan merasakan sensasi panas yang menyebar dari pipi ke sekujur tubuh, dia terkejut dengan keberanian akan ucapan memalukan seperti barusan.


Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan membalikkan badan.


“Seperti yang kukatakan, jadi berhenti pasang wajah menderita seperti itu! Berbahagialah karena aku rela-rela membuang waktu untuk mengatakan hal tersebut.”


“Dan juga kamu-”


Belum selesai Fiona berbicara, dengan cepat Arthur memeluk tubuh gadis itu dengan air mata yang menetes deras, Fiona hanya tersenyum dan menerima pelukan tersebut.


“Terima kasih,” ucap Arthur dengan memeluk lebih erat dan menangis.


Fiona mengelus pundak Arthur dengan lembut dan berkata dengan lembut. “Ya, sama-sama.”


...***...


“Jadi apa sebenarnya alasan aku berada di sini.”


Setelah selesai dengan acara sedih dan pelukan Arthur mengajukan pertanyaan. Mereka berdua kini sedang berjalan di lorong kerajaan.


“Hmm, kamu ingat sosok paladin yang kamu lawan? Itu dia yang mebawamu ke sini. Awalnya aku ketakutan, kamu hampir saja dibunuh, tapi berterima kasih lah! Aku sudah mengatakan hal baik tentangmu jadi dia memaafkanmu.”


Itu mungkin benar, tapi Fiona terlalu polos, dia tidak mungkin menyadari bahwa alasan kenapa aku dibawa ke sini…


Kemungkinan besar paladin itu ingin membawaku untuk diintrograsi oleh raja, dia tentu tidak bisa menolak perintah dari Nona. Makanya dia membuat skenario di mana aku baik-baik saja dan membunuhku di saat Fiona tidak menyadarinya..


Arthur menatap Fiona yang berjalan di sampingnya dengan tersenyum, dia merasakan keberadaan yang hangat tepat sedang berada di sampingnya.


“Apa yang kamu lihat!”


Arthur hanya menggelengkan kepala.


“Kita sudah sampai! Ini adalah ruangan raja.”


Kedua orang itu berhenti di tempat ruangan raja. Di sana terdapat banyak perajurit dengan pakaian tempur dan membawa senajta seperti tombak. Mereka berbaris rapi di pojokan ruangan. Jumlah sekitar dua puluh.


Dan di tengah terdapat singasana yang diduduki oleh pria tua dengan rambut pirang dia adalah raja kerajaan ini. Di sampingnya juga terdapat paladin yang kemarin bertarung dengan Arthur sedang berdiri gagah dan membawa pedang.


Di saat Arthur merasakan rasa kewaspadaan, gadis yang berdiri di sampingnya justr tersenyum ceria.


“Kamu mungkin akan diberikan hadiah,” bisik Fiona.


Arthur tidak merespon dan hanya menatap sang raja.


“Kalian berdua duduklah!”


Fiona dan Arthur duduk berdampinga dengan penuh kehormatan karena sosok yang berada di depannya adalah seorang raja.


“Apakah anda Arthur Midnight?”


Suara dingin ini menuju untu Arthur.


“Ya, itu adalah saya.”


Raja menghirup napas panjang.


“Pertama-tama meskipun kita adalah seorang musuh, tapi karena kamu menyelamatkan anakku maka kucapkan terima kasih.”


Ucapan terima kasih, memang sama. Tapi perasaan yang didapat berbeda dengan perkataan dari Fiona, bahkan di sini Arthur dapat merasakan hawa dan tatapan dingin sedang memandangnya, seperti dirinya sendiri adalah objek dari sampah.


“Baik saya merasa terhormat akan ucapan ini.”


“Selanjutnya karena anda adalah penyelamat dari putriku maka akan kuberikan satu penawaran khusus. Aku akan memberikan satu permintaan yang pasti akan kuberikan, baik wanita, kekayaan, kekuatan, kesenangan, semuanya. Ah, aku lupa kamu boleh meminta apapun bahkan kerajaan ini, jadi sebutkan permintaanmu!”


Ini adalah hal paling istimewa bagi sebagian besar orang, meminta apapun baik harta bahkan jabatan sebagai raja. Siapapun pasti akan mengambilnya, tapi berbeda dengan Arthur. Dia menyadari ini hanyalah kebohongan, jika dia mengambil harta dia akan dibunuh setelah ini.


Artinya apapun itu pilihan yang dia berikan pada akhirnya kematian yang akan menanti. Tidak ada tempat kabur lagi, terutama ada paladin di sini. Jika paladin tidak ada, mungkin akan mudah baginya untuk kabur.


Sial! Apa yang harus kulakukan…?


Arthur berdesis kesal, dia mengigit bibirnya. Di tengah keputus asaan dan emosi yang bercampur aduk, Fiona memegang tangannya dan tersenyum hangat. 


“Ini adalah pilihan yang bagus, bukan? Jadi Arthur katakan apapun yang kamu mau.”


Seperti biasanya dia cukup polos dan memiliki pemikaran yang positif…


Melihat senyuman hangat yang tergambar di wajahnya membuat Arthur memiliki ide hebat. Ide di mana mereka baik maupun Arthur dan Fiona akan tetap bersama, ide di mana dia akan tetap hidup.


Benar ada pilihan seperti itu…


“Jadi apa yang kamu inginkan, Nak?”


Arthur menatap Fiona dan kembali menatap sang raja.


“Kalau begitu aku mengingikan Fiona menjadi tunanganku.”


Ucapan itu berhasil membuat seisi kerajaan terkejut bukan main. Fiona sediri sudah memerah dan jantungnya terus bergetar. Dia tampak ingin menyangkal dan mengatakan kata-kata. tapi dia mengingat ada sang ayah.


Alasan kenapa Arthur meminta Fiona sebagai hadiah adalah karena dia memang tertarik dengan gadis itu, selain itu, jika dia memiliki hubungan yang baik denga Fiona yang notabenya musuh keluargaan, maka kemungkinan besar MIdnight dan Rosemary akan kembali menyatu.


Dan jika dia menjadi tunangan dengan sang putri maka tidak akan ada acara pembunuhan, benar-benar ide yang istemawa.


Di saat isi kerajaan menjadi gaduh akan ucapan Arthur, dia sendiri hanya tersenyum dan menatap raja yang mengeluarkan wajah penuh emosi.


Jadi apa yang akan kamu lakukan, raja? Anda tidak akan bisa menolak permintaanku…