
Perlahan mata sebalah kanan Feny berubah menjadi warna oren, menandakan dia sedang mengaktifkan sesuatu kemampuan yang tidak diketahui. Dia menyeringai menatap Arthur yang berlari melewati asap-asap.
“Berhenti.”
Langkah Arthur terhenti tanpa alasan yang jelas. Di kedua kaki serta tangannya dengan cepat terikat oleh rantai berwarna emas yang berasal dari tanah. Dia terkunci dengan rantai itu.
“Dengan ini berakhir sudah,” ucapnya dengan senyuman mengerikan di wajah.
Kemampuan yang dimiliki Feny bernama Phantom eye. Kemampuan ini berguna untuk memanipulasi pandangan lawan, atau mempengaruhinya tindakan lawa dengan ucapan sesuai yang dikatakan oleh pengguna. Orang yang terkena efek phantom tidak akan bisa terbebas. Rantai emas yang mengikat mereka adalah bukti bahwa lawan telah jatuh dalam kemampuan phantom eye.
“Hahaha, sangat mudah.”
Feny tertawa puas menganggap ini adalah kemenangannya. Dia berjalan mendekati Arthur hendak melakukan sesuatu yang pastinya tidak baik.
Fiona yang melihat ini mulai panik, tentu dia tidak akan membiarkan Arthur mengalami hal buruk karena pada dasarnya Fiona berhutang budi dengan Arthur.
Dia mencoba berjalan untuk menghentikan Feny walaupun tubuhnya gemetar dan ketakutan, tapi teriakan dari Arthur membuat dia berhenti.
“J-jangan mendekat!”
Tampaknya dia masih mampu berbicara walaupun tubuhnya tidak dapat bergerak. Dia masih punya kesadaran.
“Setelah melihat ini mana mungkin aku diam saja!” Fiona membantah dengan nada lebih besar.
“Aku tidak apa-apa. Yang lebih penting, pergilah! Bukankah kamu ingin pulang?”
Fiona yang tadinya ingin melangkah terhenti. Air mata menetes melalui pipinya mengambarkan kesedihan.
“Kamu terlalu baik,” gumamnya dengan nada lirih dan sambil membersihkan air mata yang menetes.
“Baiklah, tapi jangan mati! Jika kamu mati, aku tidak akan pernah memaafkanmu!”
Fiona membalikan badan dan berlari menjauhi kedua orang itu. Dia sangat percaya bahwa Arthur pasti akan selamat karena itulah dia memutuskan untuk pergi.
Feny menatap kepergian Fiona dengan tenang seolah tidak adanya ketertarikan untuk mengejar.
"Kalian cukup dekat, apa kalian jadian atau semacamnya~"
Dia jelas bermain-main dengan Arthur. Siapa yang peduli tentang masalah itu di waktu seperti ini.
“Apa kamu tidak mengejarnya?” tanya Arthur.
“Hahaha, tidak perlu. Kamu kira ini tempat apa? Gadis seperti dia tidak akan bisa lepas dari genggaman kami Vindice!”
Jadi begitu mereka adalah Vindice..
“Dan di sini ada yang lebih menarik. Teknik yang barusan adalah Teknik pedang kegelapan, bukan?”
Normalnya hampir tidak ada orang yang tahu mengenai kemampuan milik Arthur, tapi Feny mengetahui itu. Bagi Arthur ini tidaklah aneh, lagipula mata phantom eye sendiri berasal dari salah satu jendral raja iblis.
“Dan dari mana kamu mendapatkan mata seperti phantom eye?”
Bukannya menjawab Arthur balik bertanya di tatapan remaja itu tidak ada ketakutan sama sekali meskipun tubuhnya tidak bisa bergerak.
“He~ kamu tahu tetang kemampuan ini? Baiklah akan kuberi tahu… Bos Kamilah yang memberikan mata ini, bicaranya cukup sampai di sini. Mari kita mulai acara sebenarnya!”
Dengan ujung rantai yang tajam Feny ingin menusuknya tepat pada dada Arthur. Rantai Semakin mendekat, mungkin sekitar beberapa CM lagi, namun bukannya ketakutan Arthur malah tersenyum.
Sekarang Shutaru..
* ******Cring******
Dengan tebasan yang sangat cepat Arthur menghancurkan semua rantai yang ada, membuat Feny terkejut bukan main. Dia merasakan hawa yang sangat berbeda di dalam Arthur.
Ketika Feny dibingungkan dengan pikirannya, remaja Arthur berakata dengan nada dingin,
“Sangat disanyangka kemampuan seperti mempengeruhi pikiran tidak berfungsi bagiku. Karena aku punya dua kesadaran.”
Sebelumnya Arthur menyuruh Shutaru untuk mengerakan tubuhnya dan membuat dia sadar, berkat itu kemampuan milik Feny tidak berfungsi.
“Tidak mungkin! Kemampuanku tidak berfungsi?”
Feny mengeluarkan rantai baru miliknya, terus menyerang dengan mencabuk dengan brutal seperti anjing yang haus darah. Rantai tersebut menghancurkan beberapa parabaton dan membuat kerusakan yang cukup besar.
Seolah Arthur adalah serangga, dia terus terhempas dan terkena serangan tersebut. Melihatnya membuat Feny tertawa senang.
“Ada apa? Mana sikap sombongmu barusan!?”
Rantai terus digunakan bagaikan cabuk, menyerang tanpa henti.Mengenai tubuh Arthur dan dia berintis kesakitan. Feny tertawa melihat Arthur yang tidak berdaya tersebut.
"Mati, mati, mati!"
Serangan itu membuat Arthur batuk darah. Sudah tidak terhitung jumlahnya ketika dia terkena cabukan dari rantai tersebut.
Namun, kali ini akhirnya Arthur beruntung bisa menghindari satu serangan dan dia bisa melancarkan tebasan kegelapan ke arah Feny, namun itu pun percuma.
Feny tidak menerima kerusakan apapun karena dilindungi oleh banyak rantai.
'Cih." Arthur mengumpat kesal.
{Bocah, tukar tubuhmu!}
Perkataan mendadak dari Shutaru membuat Arthur terkejut. Dia terdiam beberapa detik untuk menjawab keinginan Shutaru.
Melihat lawannya diam tentu adalah kesempatan, Feny melemparkan rantai ke arah Arthur.
* Cring
Arthur menahan serangan itu dengan pedangnya membuat, Feny kaget untuk beberapa detik. Sekian detik itulah yang akan menentukan akhir pertarungan.
Aku serahkan padamu Shutaru..
Dia berlari dengan kecepatan maksimul, menebas semua rantai yang datang menyerang dan akhirnya sampai tepat di depan Feny.
Arthur atau lebih tepatnya Shutaru yang mengambil tubuhnya. menyelimuti pedang merahnya dengan kegelapan hendak menebas gadis berambut merah itu tanpa ampun, Feny berkeringat dingin dan mengigit bibir. Dia dapat merasakan sensasi kematian.
Tanpa kenal belas kasih Shutaru menebas gadis tersebut tepat di kepalanya. Kepalanya terpenggal dan darah berjatuhan memenuhi lantai. Shutaru hanya menatap kosong mayat tersebut.
Lalu berjalan menyusul Fiona. Entah apa tujuannya.
... ***...
Di sisi lain Fiona berlari, ingin keluar dari Mansion tersebut. Dia masih sangat khawatir dengan kondisi Arthur, tapi dia juga percaya bahwa lelaki itu tidak akan mati dengan semudah itu.
Sepanjang jalan dia berlari, Fiona merasakan hawa yang aneh. Tidak seperti pertama kali dia diculik oleh Vindice, Mansion ini telah menjadi sepi, tidak ada sosok bawahan atau penganggu seperti biasanya.
Mungkin dia sudah mengalahkan banyak orang..
Itulah yang terlintas di pikiran gadis tersebut walaupun masih terdengar aneh. Karena dia tidak melihat satu pun jejak petarungan di sini.
Terlalu memikirkan ini, tiba-tiba dua sosok pria menghampiri Fiona di depan matanya, tentu saja dua orang tersebut ingin membawanya kembali.
Ketika Fiona menutup mata karena ketakutan, tiba-tiba seseorang dengan jubah hitam menebas semua orang yang hendak menyerang Fiona.
Fiona membuka mata perlahan pemandangan pertama kali yang dia lihat adalah mayat yang tergeltak dan bau darah.
Awalnya Fiona tersenyum ceria karena berpikir bahwa Arthur menyelamatkannya, namun senyuman itu pudar karena dia tidak mengenal sosok yang berada di depannya.
Sosok itu memiliki tubuh yang lebih tinggi dengan pedang putih yang penuh oleh darah dan mata biru yang menyala. Dia jelas bukan Arthur.
Merasakan hawa bahaya, Fiona menekan dadanya dengan tangan. Lalu mundur beberapa langkah. Keringat dingin bercucuran di wajahnya.
“Kamu siapa?”
Sosok itu tidak menjawab hanya menatap diam saja. Petir menyambar, kilauan cahaya terpantul melalui kaca tersebut. Wajah pria itu menjadi terlihat jelas.
Dia memiliki rambut pirang Panjang sebahu dengan mata biri dan armor putih yang ditutup oleh jubah hitamnya. Pria itu memberikan senyuman.
“Tenang saja, aku berada di pihakmu.”