Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 49. Api Amarah 4



Kematian adalah hal yang wajar dialami oleh siapapun. Baik itu orang terkuat, baik hati, maupun pendosa kelas atas, semua orang akan mati. Itulah adalah takdir.


Meskipun begitu Max berharap apa yang berada di depannya hanyalah ilusi dan mimpi buruk.


Karena dia sedang mengalami apa yang dinamakan takdir tersebut. Sosok Ayah yang terkenal kuat, begitu mudahnya mati.


Oleh gadis dengan mata merah yang menyala terang.


"Akan kuberi satu kesempatan. Serahkan anak perempuan yang tertidur di pundakmu dan akan kubiarkan kalian berdua hidup."


"Mana bisa aku melalukan hal tersebut, aku tidak akan menjual adikku!"


Sesuai yang diduga oleh James dia bukan orang yang berhati kejam seperti ini. Dia akan memilih mati daripada mengorbankan adiknya.


"Hahaha kamu ada benarnya," jawab Elli dengan tertawa kecil.


"Tapi bagaimana dengan anak yang satunya?" mengatakan hal itu dengan senyuman. Elli menatap ke arah Max.


Tawaran ini terdengar sangat baik bagi Max, untuk apa merelakan nyawa demi orang lain?


Tapi meskipun begitu Max tetaplah bangsawan, keluarga Laurent sejatinya ada untuk melindungi sang pangeran dan putri itulah yang sering Wilbrand katakan sebagai paladin.


Jadi jawaban yang dia miliki sudah jelas.


"Aku menolak!"


Mata Elli terbuka lebar dan senyumannya pudar terlihat jelas bahwa dia tidak suka akan jawaban tersebut.


"Sungguh mengecewakan."


Merasakan hawa dingin dari ucapan tersebut Max mengambil dua buah pistol sebagai senjata. Dia menodongkannya ke arah Elli karena merasakan hawa bahaya.


"Pergilah Tuan James!"


Meskipun gemetaran karena ketakutan dia masih menunjukan tindakan berani, sebagai orang yang lebih tua tentu James tidak mau kalah lagipula, dia tidak tega meninggalkan anak kecil seperti dia melawan makhluk yang tidak dikenal.


“Tidak, aku akan ikut bertarung.”


“Tapi Tuan-“


“Tidak ada tapi, tapian. Aku ingin ikut bertarung.”


Meletakan Fiona di tempat aman, James memegang pedangnya, membuat kuda-kuda siap bertarung.


“Sungguh tindakan bodoh, kamu malah meletakan sang putri di tempat terbuka seperti ini… Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih.”


Swosh


Clang


Elli menerjang dan ingin membawa Fiona. Tapi tentu kakaknya tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi. Dia langsung menebas Elli yang ingin mendekat.


“Cih, tampaknya kamu bisa sedikit bertarung.”


Darah berjatuh dengan deras di pipi Elli, ini merupakan hasil tebasan dari James. Dia berhasil memberikan satu serangan telak.


Max hanya bisa melongga barusan adalah serangan yang tidak dapat dia lihat dengan mata normal. Gerakan tebasan yang cepat.


Bagi Max sendiri ini pertama kalinya dia melihat James bertarung. Dia mungkin cukup kuat daripada yang terlihat.


“Bawa adikku ke tempat aman.”


“Apa?”


“Diam dan lakukan, ini adalah perintah!”


Max memejamkan mata, oke, dia paham bahwa hanya akan menjadi beban saja, tapi jujur dia ingin membantu James bukan justru dia yang dibantu.


“Baiklah sesuai keinginan anda.”


Meskipun susah Max terpaksa harus menerima, mungkin ini bisa jadi terakhir kalinya dia melihat James tapi yang menjadi priotas untuk saat ini adalah Fiona.


Karena kagudahan ini mata Fiona perlahan terbuka lebar. Dia melihat pemandangan kehancuran dan kakaknya yang tampak sedang bertarung melawan sosok misterius.


“Ayo Nona Fiona.”


Tanpa menunggu respon dari Fiona, Max langsung memegang tangannya dan belari bersama ke suatu tempat yang pasti aman.


Yaitu persembunyian keluarga Laurent.


Fiona tentu berontak karena melihat sosok kakaknya yang melawan sosok misterius dan tampak bahaya, tapi Max memaksa dan terus berlari.


“Tidak akan kubiarkan mereka kabur!”


Elli ingin sekali lagi mengejar dengan langkah secepat kilat. Namun sangat disayangkan, James menganggu recananya.



Tiba-tiba pedang milik Max berubah menjadi penuh cahaya seolah melupakan bentuk aslinya dan dengan itu dia menebaskan satu serangan bahaya ke arah Elli.


Elli melompat, berhasil menghindar dengan jarak setipis kertas, hampir saja dia terpenggal barusan.


“Sepertinya kamu tidak akan membiarkanku mendekat?”


“Tidak akan.”


Senyuman seram tergambar di wajah kecil Elli.


“…Kalau begitu, matilah…”


***


Di sisi lain Fiona dan Max terus berlari.


“Lepaskan, kakak dalam bahaya!”


“Maaf tapi aku menolak, ini perintah dari kakakmu sendiri.”


Fiona terus memberontak meminta untuk melepaskan tangannya. Sebagai orang yang diberikan amanah tentu Max menolak. Dia terus menarik paksa tangan Fiona tanpa peduli akan ucapannya.


Mereka akhirnya sampai di aula yang merupakan tempat evakuasi bagi semua orang. Baik itu warga sipil maupun keluarga Luarent.


Banyak orang berkumpul dengan ketakutan di sana. Dan Max masih menggenggam tangan Fiona dengan kuat agar gadis itu tidak pergi begitu saja.


"L-lepaskan… aku mohon! Aku tidak ingin sesuatu terjadi kepada Kak James." Fiona merengek dan air mata menetes deras.


Tapi, Max sangat tahu bagaimana perasaan jika Fiona melihat orang yang dicintai mati di depannya maka dari itu dia menolak semua perintah dari Fiona yang menyuruh untuk kembali.


Karena kemungkinan besar James tidak bertahan hidup melawan sosok misterius. Ini mungkin adalah pikiran lancang tapi begitulah kenyataan yang pasti terjadi.


Sebelumnya Max mengetahui bahwa tekanan sihir milik James cukup kuat mungkin setara dengan kelas B ke atas, tapi milik Elli lebih luar biasa. Tekanan ini membuat siapapun yang berdiri di dekatnya mual dan merinding atas aura membunuhnya. 


perkiraan yang benar tentang level bertarung Elli berada di kelas S+ atau bahkan setara dengan paladin dan bisa saja lebih tinggi dari pada itu.


“Tuan Max. Syukurlah anda selamat.”


Sosok empat orang berpakaian sama dengan Max datang. Mereka merupakan keluarga Laurent yang menjaga keamanan tempat ini.


 “Ya aku baik-baik saja yang lebih penting. Lakukan sesuatu tentang Nona Fiona."


Keempat orang tersebut melirik ke arah Fiona yang menundukkan kepala dan menangis, dia sangat khawatir akan kondisi kakaknya.


Fiona mengigit bibirnya hingga mengeluarkan darah.


"MAAF, MAAF, MAAF, MAAF, MAAF, MAAF. ini semua salahku! Jika saja aku tidak dilahirkan hal seperti ini tidak akan terjadi... Tapi setidaknya, biarkan aku melihat kakakku..."


Fiona terlihat benar-benar bersalah, kelopak matanya terlihat seperti orang yang telah menghabiskan banyak air mata.


Empat orang yang berada di depan Max saling menatap, kebingungan bagaimana cara merespob Fiona yang bersedih hati ini. Dalam hati mereka merasa sesak melihat orang yang seharusnya mereka lindungi malah tampak menyedihkan seperti ini.


Mungkin empat orang tersebut tidak bisa memberikan support ke Fiona, tapi Max yang berumur hampir sama dengannya. Sangat paham perasaan tersebut.


"Nona Fiona... jangan menangis.."


Di lubuk hati paling dalam, Max tidak ingin melihat gadis itu menangis, meskipun begitu dia pun cukup bingung bagaimana cara untuk mengatakan sesuatu agar, sang gadis ini bisa lebih tenang.


Fiona terus menangis dalam perjalanan dan kini bahkan air mata sudah kering, berganti dengan tatapan mata yang mati.


"...Kami akan selalu ada di sisi anda, Nona Fiona."


Walaupun kebingungan setidaknya Max tahu apa yang harus dilakukan sebagai pria. Dia secara alami, mendekap tubuhnya ke Fiona. Memberikan kehangatan yang dapat menangkan pikiran gadis itu.


Max tidak tahu apakah memeluknya adalah pilihan yang bagus, tapi setidaknya ini salah satu cara yang bisa dipikirkan untuk saat ini.


"Fiona!"


Suara seorang pria dewasa menggema di aula ini. Dia adalah sosok ayah fiona sang raja.


Mendengar suara tersebut, pelukan ini dilepaskan begitu saja oleh Max.


Fiona menatap sang ayah.


"Ayah, ayah... Kak James dan Stela, mereka...."


Kalimatnya tidak selesai karena terhambat oleh tangisan. Sang ayah tahu apa yang ingin dikatakan oleh anaknya, jadi tidak perlu sampai selesai mendengar.


"Ya, Ayah tahu. Tapi fiona Ayah pasti—"


Duar


Ledakan terdengar dan pintu aula yang seharusnya memiliki segel tingkat tinggi terbuka dengan sangat mudah.


Berkat ledakan tersebut timbul kepulan asap dan beberapa penjaga terbang melayang seperti terpental oleh sesuatu.


"Siapa itu!?"


"Penyusup datang!"


Duar


Sekali lagi ledakan terjadi. Kini aula tersebut penuh dengan kepulan asap dan Max menyadari siapa sosok yang melakukan ini.


Siapa lagi kalau bukan Elli. Dia terlihat mendobrak pintu dan berjalan ke arah Max.


Fiona terlihat gemeteran, dia ketakutan serta merasakan hawa ngeri. "Tidak mungkin... Jangan bilang kak James?"


"...Yah, membutuhkan banyak waktu, tapi pada akhirnya orang itu mati," ucap Elli dengan santainya. "Tapi kuakui, dia cukup merepotkan."


Terlihat tubuh Elli sedikit mengalami cidera ini bukti bahwa James mampu memberikan perlawanan.


Namun pada akhirnya sama James sudah tidak ada.


"Tidak! Kak James tentu tidak akan kalah denganmu!"


"Cukup Fiona pergilah—" ucapan sang raja terputus, dia terkena serangan tebasan angin dari Elli. Walaupun efeknya tidak terlalu banyak, tapi raja itu terkepar dengan darah yang banjir.


"Ayah!" Fiona mendekati tubuh ayahnya yang tergeletak lemah.


"Cih kurang dalam ya," ucap Elli dengan menatap lengannya.


Blush


Max menembakkan api melalui pistolnya. Tapi dengan mudah Elli membuat pelindung yang melenyapkan api tersebut.


"Cih! Nona Fiona tetaplah di sana! Aku akan mengurus orang ini."


"Tunggu—"


Sowsh


Max melayang dengan cepat menggunakan pistol sebagai pendorong dan membuat Elli terhempas beberapa meter karena terkena pukulan.


"Pergilah ketempat aman Nona! Dan beberapa perajuritku, Ayah handa sang paladin sudah mati. Kini aku Max akan menggantikan dia, ikuti aku untuk menghabiskan makhluk gila itu!"


"Dimengerti tuan."


sekitar puluhan prajurit dan Max mengejar Elli yang terhempas karena pukulan tersebut.


Fiona ingin mengatakan sesuatu tapi fakta bahwa dia tidak bisa melakukan apapun. Dia menundukkan kepala dan merasa bersalah.


*


Setelah berjalan beberapa meter akhirnya Max sampai di tempat Elli terhempas. Namun sayangnya dari pada dibilang terkepar.


Elli sendiri justru terlihat duduk dengan santai di bangunan atas.


"Akhirnya kamu datang, Max," ucap Elli tanpa mengeluarkan ekspresi takut. Meskipun banyak prajurit kini mengepungnya.


"Aku akan membalas dendamku Elli Midnight!"


Tanpa basa-basi Max berpindah tempat dengan kecepatan yang hebat. Dia mengepalkan tangan dan menciptakan api, kemudian meninju Elli.


Gadis itu menyeringai, menghindari dengan mudahnya ke sisi kanan, tapi pipinya sedikit tergores akan serangan tersebut.


"Cih! Bagaimana dengan ini?"


Max yang melihat tinjunya berhasil mengenai Elli, langsung melanjutkan serangannya. Dia menendang, tapi ditangkis oleh tangan Elli. Max memutar tubuhnya dan melanjutkan dengan tendangan memutar. Tendangan itu juga berhasil ditangkis oleh Elli. Tapi Max sudah mengumpulakan cahaya ditangan kanannya.


Boom!


Lubang yang cukup luas tercipta karena tinju Max menghantam dinding. dinding yang seharusnya masih cukup kokoh itu menjadi kawah yang seukuran tubuh Max. Sayangnya serangan itu tidak mengenai Elli dan hanya merusak dinding saja. Elli cukup baik dalam menghindari serangan Max tadi.


"Lumayan. Jika aku terkena pukulan itu mungkin bisa gawat. Tapi percuma--"


Pukulan dengan cahaya melayang ke pipi Elli. Elli terhempas sedikit dan dia terlihat kesakitan. Dia menyeka bekas luka itu, dan menatap tajam Max.


"Dasar sampah!"


Satu tombak besar tercipta di udara, Elli melayangkan tombak berwarna keemasan yang sangat besar.


Tapi tombak itu tidak mengenai Max justru mengenai semua perajurit yang ada di sana.


Max yang melihat perajurit dan beberapa keluarga Laurent lainnya mati menjadi sangat murka.


Dia kehilangan kontrol diri sendiri dan tubuhnya menjadi terbakar hingga menjulang ke langit-langit.


.


.


Setelah itu Max tidak mengetahui apa yang terjadi tapi yang jelas kebakaran luar biasa telah terjadi dan Elli Midnight telah kabur.


Semenjak hari itu Max membenci Midnight.


...***...


Flashback berakhir


"Menyerahlah Max!"


Maz terdiam berkat dia, Max mengingat peristiwa buruk itu. Malam di mana dia membakar segalanya. Dia bersumpah akan membunuh semua warga Midnight.


Karena itulah..


"Wahai roh kesopanan dan kesetiaan aku perintahkan kepadamu. Dengan menggunakan Jiwaku, berikanlah kekuatan yang besar padaku. Keluarlah, Amon!"


Api Membakar tubuh Max dan dia terlihat menggila.


Semua orang membuka mata lebar mereka sadar akan aura ini. Aura kemarahan yang sama ketika malam hari itu.


"Aku akan membunuhmu Midnight!"