
Vincent menatap tajam Rei. Dia tentu tidak bisa diam atas tindakan yang seenaknya melukai Fiona sang putri kerajaan ini.
Terlebih dia sangat mengenal akan teknik yang dimiliki oleh Arthur jadi dia tidak bisa membiarkannya mati begitu saja.
"Wah~ bukankah ini adalah tuan Paladin yang terhormat apa yang membuat anda datang kesini?"
Vincent tidak memberi jawaban dan menatap dingin ke arah Rei.
"Justru itu yang ingin kutanyakan kenapa kamu mencoba membunuh Fiona yang merupakan putri kerajaan? Jawab aku, Anak sialan!"
Vincent berteriak dengan nada marah. Dia tentu tidak bisa memaafkan segala tindakan yang telah dilakukan oleh Rei.
"Itu karena dia adalah pengganggu lagipula melenyapkan segala ancaman adalah tugas dari The Watchres... tapi karena kedatangan anda, mungkin untuk sekarang aku akan menunda itu."
Berkata demikian Rei membalikkan badan dan berjalan menjauh, meskipun dia merupakan murid terkuat di Akademi tapi tetap saja, dia bukan tandingan dari sang Paladin yang terkenal sangat kuat itu.
Perbedaan kekuatan keduanya sangat besar. Rei langsung tahu ketika sihir terkuat miliknya dapat dibelokkan ke langit hanya dengan modal tebasan pedang.
Mengingat hal tersebut Rei mendecakan lidah.
Dasar monster...
Dia terus menjauh, tapi langkah tersebut terhenti seolah mengingat sesuatu. Dengan lirikan dingin dia menatap Arthur.
"Arthur Midnight, ya...?"
Dia bergumam dengan dirinya sendiri, menatap tubuh Arthur yang saat ini terbaring dengan lemah.
Meskipun dia masih lah sangat lemah tapi bagi Rei dia merupakan potensi yang cukup kuat. Namun sangat disayangkan dia berasal dari keluarga musuh.
Setelah menatap beberapa detik dia kembali berjalan meninggalkan arena pertarungan.
Hari ini adalah hari pertama kali semua orang melihat kemampuan asli dari Rei Vezalius dan Arthur Midnight.
Meskipun benci mengakui ini, tapi semua orang tahu bahwa pertarungan barusan adalah pertandingan yang cukup menarik meski Vincent sendiri tidak serius sama sekali.
Tapi, dia berhasil membuat Vincent mengeluarkan sihir terkuatnya. Dengan kata lain Arthur berhasil memojokkannya hal ini adalah sebuah kejutan.
"Dia cukup hebat, ya?"
Salah satu murid yang menatap pertandingan berkata, rambut hitam panjangnya tergurai rapi memantulkan sinar matahari dan kacamata yang dia kenakan terlihat pas di wajahnya yang serius. Dia adalah Elisa Isabella.
Menganggapi ucapan itu, gadis berambut putih dan mata biru, dia adalah Maria Nightray. Berkata.
"Ya sudah sejak lama aku tidak melihat Rei mengeluarkan sihir sekuat itu. Yah, walaupun si Paladin membelokkannya."
Keduanya menatap tubuh Arthur dengan tatapan serius. Mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi atas rumor yang mengatakan bahwa Arthur Midnight sangatlah lemah.
Karena bagi mereka setidaknya Arthur cukup kuat untuk berada di kelas F seharusnya potensi seperti dirinya berada di kelas B.
"Fiona apa kamu masih bisa berjalan?" tanya Vincent menatap Fiona yang berada di sampingnya.
"Ya aku masih bisa."
"Kalau begitu bantu aku bawa anak ini ke tempat yang aman."
Menerima perintah, Fiona menganggukkan kepala. Pada dasarnya dia juga khawatir akan Arthur sendiri.
Dengan Arthur yang berada di pundaknya, dia membawa pemuda itu menuju tempat aman. Yaitu tempat perawatan.
...***...
"Arthur!"
"Bangunlah Arthur!"
Seorang gadis sedang berusaha membangunkan pemuda yang masih tertidur lemah di kasur. Meskipun gadis itu berusaha untuk membangunkannya, tapi pemuda itu masih tertidur dengan lemah. Tidak, kata tertidur kurang tepat, pemuda itu terlihat seperti pingsan karena itulah gadis ini sangat khawatir.
Gadis itu memiliki rambut pirang panjang. Mata birunya menatap wajah pemuda yang masih pingsan. Dia makin khawatir bila pemuda bernama Arthur itu tak kunjung bangun.
Air mata menetes di mata biru miliknya, hatinya pun serasa panas bila membayangkan pemuda itu tak akan kunjung bangun.
"Hiks.. hiks.. Arthur! Bangunlah dasar bodoh!"
Sambil menyeka air mata yang berjatuhan, dia menggenggam erat tangan pemuda yang pingsan itu menggunakan tangan kanan dengan sangat erat berharap keajaiban terjadi.
Dan keajaiban itu terwujud, Arthur sedikit demi sedikit membuka matanya. Dengan tubuh yang sakit di sekujur badannya dia memaksakan diri untuk mengangkat tubuhnya. Perlahan tapi pasti saat ini dia telah berhasil mengangkat tubuhnya, mata merah miliknya bertemu dengan mata biru milik Fiona yang penuh air.
"Fiona kamu-"
Gadis pirang itu langsung memeluk tubuh pemuda dengan sangat erat, walaupun air mata masih mengalir, dia merasa bahagia setidaknya pemuda ini baik-baik saja.
"Uwaa, Arthur.. hiks.. syukurlah kamu baik-baik saja!.. hiks... aku khawatir lo, kenapa kamu tak kunjung bangun dari tadi?! Dasar bodoh!"
Mendengar yang dikatakan Fiona, Arthur hanya bisa tersenyum. Sama dengan Fiona, Arthur juga sangat bersyukur jika gadis pirang itu baik-baik saja. Dia melingkari tangannya dan membalas pelukan itu dengan erat.
Mengatakan hal tersebut, Arthur perlahan melepaskan pelukannya. Dia menatap ke segala arah.
"Kita ada di ruang perawatan karena kamu melawan Rei. Kamu terluka parah dan tertidur untuk waktu lama..." Fiona menjawab sambil menyeka air matanya.
Brak
Dengan sangat kasar pintu kamar yang terlihat berwarna keputihan itu terbuka. Menampilkan Vincent yang tampak membawa perlengkapan bertarungnya.
"Apa bocah itu sudah bangun!?"
Langkah dan reaksi Vincent terhenti karena menatap Fiona dan Arthur yang terlihat sangat akrab.
Dia menyadari kalau pada dasarnya dua orang itu adalah remaja dan menghabiskan waktu berduan di tempat seperti ini maka artinya...
"Ah maaf menganggu."
Dia membalikkan badan dan menutup pintu kamarnya. Seperti yang diharapkan dia sudah salah paham.
"Jangan salah paham! Kami tidak melakukan apapun."
'Tidak melakukan apapun', itu mungkin adalah sebuah kebohongan. Karena baru saja mereka melakukan pelukan.
Butuh waktu sekitar lima menit untuk menjelaskan situasi dan pada akhirnya Vincent menyadari satu kesalah pahaman.
"Jadi apa yang anda mau?" tanya Arthur ketika Vincent sudah duduk di depan kursinya. Berhadapan.
Sedangkan Fiona? Dia keluar dari ruang perawatan karena obrolan setelah ini terbilang privasi dan Vincent hanya ingin pembicaraan ini menjadi dua mata.
"Tamus Nightsade, kamu belajar teknik itu darinya, kan?"
Mendengar nama gurunya disebut tanpa alasan yang jelas membuat mata Arthur terbuka lebar.
"Apa anda mengebal master?!" Tentu dia terkejut bukan main. Bahkan nada teriak tidak bisa Arthur tahan.
"Ya seperti itulah... omong-omong dari tujuh style teknik pedang mana yang kamu bisa?"
Menyipitkan mata, Arthur menatap tajam Vincent. Tidak hanya mengenal nama gurunya dia juga tahu teknik miliknya yang berjumlah tujuh kuda-kuda.
Yang ada dipikirkan Arthur saat ini adalah pertanyaan tentang jati diri Vincent sebenarnya.
"Cepat jawab, jangan tunjukkan ekpresi menakutkan seperti itu!"
Menyadari tatapan curiga dari Arthur Vincent berkata demikian.
Pada akhirnya Arthur menghela napas. Oke sepertinya tidak apa-apa jika membahas tentang teknik miliknya ke Vincent.
"Aku bisa menggunakan hanya satu teknik dari total tujuh teknik."
Mendecak lidah, Vincent membuat wajah pucat sambil mengigit kuku jempolnya. Sebua kebiasaan yang buruk.
"Baru satu ya...?" bergumam demikian dia masih mengigit jempolnya.
"Anu, apa yang sebenarnya kamu mau? Dan sebenarnya kamu siapa? Dan kenapa kamu berlagak seolah tahu kemampuanku."
Mendengar hal itu Vincent membuka mata lebar
"Apa Tamus tidak mengatakan hal apapun?"
Arthur menggeleng.
"Cih! Baiklah akan kuperkenalkan diriku. Namaku Vincent, aku adalah mantan murid pertama dari Tamus. Meskipun aku tidak menggunakan teknik pedang kegelapan, karena suatu alasan, tapi aku berhasil menciptakan teknik yang sama persis."
Ini adalah kejutan yang sangat tidak tersangka bahkan Arthur baru mendengar tentang ini.
"Hah!? Apa kamu serius?"
"Ya, aku serius. Atas Nama Vincent! Aku ingin memberikan pelajaran baru kepadamu. Dengan ini aku melatihmu hingga kamu dapat menguasai tujuh kuda-kuda dari teknik pedang kegelapan."
"Aku tidak memberikan pilihan karena aku memaksa!"
Kali ini Arthur tidak bisa merespon ini merupakan tawaran yang bagus, tapi pertanyaan bagaimana cara Vincent akan melatihnya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...
—Ilustrasi Vincent...
...Laporan View Mingguan. Terima kasih buat kakak yang sudah membaca karya ini dengan support terbanyak....