
"Selamat kamu lulus."
Tidak seperti sebelumnya Leon— Guru yang sebelumnya memiliki niat untuk membunuh kini tersenyum meskipun tetap ada aura dingin.
Apa yang dia maksud?
{Sepertinya kita dipermainkan, Bocah!}
"Sejak awal aku tidak punya niat untuk membunuhmu, tapi meski begitu aku juga tidak punya niat untuk memberi pelajaran untuk keluarga Midnight! Kuharap kamu tidak salah paham. Jika saja ini bukan perintah David, aku pasti sudah membunuhmu."
"Aku tidak bisa mengikuti arus pembicaraan, apa yang sebenarnya kamu maksud?"
"Raja David menyuruhku untuk memberikan setidaknya tes yang bisa membuatku untuk memutuskan apakah kamu dapat dipercaya atau tidak. Karena itulah saat pertama kali aku datang aku menyerang Nona Fiona."
"Jika kamu benar-benar musuh seharusnya tidak perlu untuk melindungi gadis itu, meski aku tidak percaya seratus persen, tapi setidaknya ini sudah cukup untuk ujian masuk. Kamu setidaknya boleh masuk di Akademi ini."
Swosh
Ruangan penuh dengan bongkahan salju itu menghilang kini Arthur dan Leon telah kembali ke kelas F.
Luka yang didapatkan Arthur menghilang begitu saja seperti semua yang dilakukan di tempat tersebut hanyalah ilusi.
Dia juga tidak merasakan rasa lelah satupun.
Leon menjelaskan bahwa sihir ruangan tersebut adalah tempat yang berbeda dan terputus dari dunia ini.
Jadi gampangnya segala luka yang dialami di tempat tersebut tidak terkoneksi dengan dunia ini. Tentu itu hanya berlaku bagi penguna saja dan orang yang dianggap teman oleh pengguna.
Jika kamu keluar dari ruangan tersebut dan kamu dianggap teman oleh pengguna maka luka yang kamu dapatkan akan menghilang.
Mendengar penjelasan tersebut membuat Arthur menaikan alis. Semua yang berada di Akademi ini memiliki kemampuan diluar nalar.
"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Pak sampai kapan ini akan berakhir!"
Murid pria berambut merah tampak emosi dia membuka pintu dengan paksa dan menatap Arthur serta Leon yang sedang berbincang-bincang.
"Bicaranya sampai di sini Arthur Midnight. Ingat satu hal ini, aku tidak percaya seratus persen denganmu jika kamu melakukan hal yang mencurigakan maka saat itulah kamu mati."
Leon membalikkan badan lalu menatap Murid lelaki berambut merah itu.
"Tenang lah Max Laurent! Dan kalian yang berada diluar kini sudah boleh masuk."
Berkat ucapan tersebut murid kelas F masuk ke kelas dengan perasaan sedikit campur aduk. Mereka sedikit menoleh ke arah Arthur dan kembali ke tempat duduk masing-masing.
"Arthur Midnight! Kamu juga cepat lah duduk."
Arthur menganggukkan kepala dan memilih duduk di sebelah Fiona, karena gadis itu sendiri yang memintanya, selain itu ini juga untuk berjaga-jaga jika saja Fiona terkena serangan sihir seperti barusan.
"Baiklah pelajaran untuk hari ini akan dibatalkan karena alasan tertentu, kalian pelajarilah sendiri."
"Tunggu pak! Bahkan anda belum memulai pelajaran, tapi kenapa anda malah ingin pergi?"
yang berteriak ada Max Laurent meskipun terlihat seperti maniak otot, tapi dia disiplin dalam sihir.
"Alasan aku pergi? Itu pikir sendiri."
Leon berjalan menjauh dari kelas F entah menuju ke mana, bahkan Arthur sendiri tidak tahu tujuan dari Guru tersebut.
Para murid terdiam dan menundukkan kepala mereka merasakan rasa bersalah. Di benak mereka menyadari bahwa karena pertengkaran konyol yang mereka lakukan adalah penyebab Leon Reinhard pergi dari kelas.
Padahal Leon sendiri merupakan Guru idaman sebuah kehormatan jika dia mengajari sesuatu.
Benar konflik merekalah penyebab keheningan dan keluarnya guru tersebut semua menyadari kecuali.
Brak
"Ini salahmu! Seharusnya keluarga Midnight sepertimu mati kenapa kamu bisa hidup apa yang kamu lakukan ke Pak Leon? Apakah kamu memberikan sesuatu untuk dia agar diam? Berapa uang yang kamu berikan kepadanya tuan bangsawan?"
Max Laurent dia tetap bersikeras menyalahkannya dan memukul meja tempat Arthur duduk, dia punya kebencian yang mendalam ke murid baru tersebut.
Arthur hanya diam tidak merespon perkataan Max, sedangkan Fiona yang duduk di sampingnya berusaha untuk memenangkan Max.
"C-cukup, Tuan Leon Reinhard bukan orang seperti itu! Dan juga Arthur dia... orang yang baik."
Sedikit senyuman terlukis di bibir Arthur, dia dapat merasakan ketulusan ketika mendengar kata 'orang baik' meskipun dia tidak seratus persen orang yang baik.
Bahkan dia pernah membunuh banyak orang di Dungeon.
Tapi senyuman itu perlahan pudar karena menyadari apa yang ingin dilakukan oleh Max.
Berkat perkataan tersebut wajah Fiona memucat dan mantanya sedikit berair dia menundukkan kepala dan mengigit bibir. Dia merasakan rasa bersalah yang mendalam.
Menyadari Fiona yang menjadi seperti itu. Arthur menatap tajam Max dia tidak peduli akan fakta yang menimpalnya, dia juga sudah mengetahui tentang keluarga Laurent yang sudah lama mati.
Katanya keluarga mereka terbantai dan kemungkinan besar hanya ada Max seorang yang masih hidup.
Tapi untuk apa memikirkan seseorang yang membencimu?
Arthur sudah muak dengan segalanya, jika mereka menolaknya maka Arthur juga akan menolak mereka.
"Kamu boleh mengatakan apapun kepadaku tapi tidak untuk dia."
Perlahan Fiona mengangkat kepalanya dia dibela oleh Arthur untuk sekian kalinya dia sedikit merasa bahagia dan terharu.
Sedangkan itu Max mengigit bibirnya dia mengepal kedua tangannya karena emosi yang tidak bisa ditahan lagi.
"Apa kamu ingin sok menjadi pahlawan!"
Max memberikan tinjuan ke arah Arthur dan Arthur memegang tangan tersebut kemudian membanting Max dengan sangat keras.
Max mengeluarkan darah segar dari mulutnya dan dia mengaduh kesakitan.
"S-sial! Dasar bajingan."
Max memaksakan diri untuk berdiri dia sekali lagi melancarkan pukulan kali ini dengan sedikit api.
Arthur bersiap akan menerima serangan tersebut dan akan membanting murid maniak otot itu.
Ketika pukulan hampir melayang, beberapa CM akan mengenai tubuh Arthur.
Tiba-tiba aura sangat dingin menusuk tubuh Arthur dan Max. Mereka berdua dapat merasakan hawa dingin yang tidak masuk akal.
Saat mereka menatap ke bawah mereka melongga, tanpa mereka sadari es telah terbentuk di lantai dengan luas sangat panjang dan es tersebut membekukan kaki mereka.
Arthur sangat paham dengan kemampuan es ini.
Apakah Leon kembali..
Arthur dan Max menatap ke sosok yang menghasilkan es tersebut dan ini bukan dari Leon melaikan murid berkacamata dengan fashion penuh jaket tersebut.
"Hacuh... duh sangat dingin. Kalian berhentilah bertarung, ini menganggu waktu istirahatku."
Dia masih berada di posisi duduknya tapi dapat menciptakan sihir es sekuat ini. Dan dia tampak kedinginan. Arthur seperti menyadari mungkin saja dia punya hubungan dengan Leon.
"Gray apa yang kamu lakukan? Cepat lelehkan es ini."
Gray sosok penguna es yang dimaksud mulai berdiri dengan kedua tangan yang menyilang ke dadanya dia terlihat seperti orang yang kedinginan.
"Tidak mau... kalian berhentilah bertarung apakah kamu tidak dengar perkataan kak Leon?"
Arthur membuka mata lebar sudah sangat jelas dari kemampuan sihir ini bahwa mereka berdua punya hubungan. Tapi tidak ada yang menyangka bahwa mereka mempunyai hubungan darah.
Merasakan hawa dingin yang berada di sekitar Gray dan menatap beberapa murid lain yang terdiam seolah terbiasa dengan situasi ini.
Arthur menyadari satu hal, semua orang di sini kecuali Fiona adalah orang gila.
Dimulai dari murid yang bisa menghidupkan boneka layaknya manusia..
Murid yang dapat melancarkan sihir api dengan cepat dan memiliki daya hancur untuk satu kelas..
Fiona yang memiliki kemampuan untuk mendeteksi 7 potong..
Dan kini pengguna sihir es yang memiliki kesamaan dengan Leon Reinhard..
apakah mereka benar-benar kelas terlemah..
Menyadari kemampuan dari kelas F Arthur semakin merasa aneh. Seharusnya kemampuan selevel ini berada di tingkat paling tidak C.
Tapi kenapa mereka berada di sini? Itulah pertanyaannya.
...----------------...
...Ilustrasi...
Gray Reinhard