Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 34



Es yang menyebar, menghentikan tindakan serta langkah Arthur maupun Max. Mereka tidak dapat menyerang dikarenakan es dari Gray menganggu.


“Apakah kalian tidak dengar ucapan dari Kak Leon? Dan juga kamu, Arthur Midnight. Jujur aku tidak peduli dengan apapun tentangmu, tapi karena berada satu kelas denganku ingat satu hal. Jangan pernah ganggu jam istirahatku!”


Baik Arthur maupun Max hanya terdiam. Mereka saling menatap dengan pandangan tidak enak bukti bahwa mereka tidak mau mendengar ucapan dari Gray.


“Hacuh… dingin, tampaknya ini adalah batasanku…”


Mengatakan hal tersebut, perlahan tapi pasti es yang diciptakan Gray memudar dan meleleh, melihat ini Arthur menyadari satu hal.


Kemungkinan besar alasan kenapa Gray menggunakan pakaian tebal walau sedang musim panas adalah karena tubuhnya sendiri tidak bisa menahan dari es miliknya.


Ini merupakan kasus yang cukup langka, tapi bukan berarti tidak mungkin ada.


Jadi begitu meskipun dia memiliki kekuatan es setara dengan Leon Reinhard, tampaknya Gray sendiri tidak punya tubuh yang kuat untuk menahan hawa dingin..


Karena es yang mengekang telah menghilang tentu saja orang seperti Max tidak mensia-siakan kesempatan, dia dengan cepat mengumpulkan sihir api di tangan dan ingin memukul Arthur. Mereka berdua dengan cepat kembali saling meyerang.


Tapi…


Swosh


“Cukup sampai di situ.”


Sosok siswa pria bertopeng yang dari tadi hanya melihat di pojok kelas mulai menunjukan taringnya. Dia dengan cepat berpindah tempat dan mengarahkan dua pedang tajam yang dia pegang ke arah leher Arthur dan Max.


Membuat mereka berdua terhenti karena merasakan hawa membunuh dari pria bertopeng putih tanpa wajah tersebut.


Apakah ini serius? Aku sendiri tidak bisa melihat apa yang baru saja terjadi..


Menyadari tidak ada kesempatan menang bila melawan pria bertopeng itu, Max memutuskan untuk mundur. Dia menaruh tangannya ke saku dan memutuskan untuk pergi kembali ke tempat duduknya.


Sedangkan Arthur masih menatap penuh kebingungan.


"kamu juga cepatlah duduk dengan tenang."


merasakan kebingungan pada akhirnya Arthur memutuskan untuk menganggukkan kepala, tapi sebelum duduk dia harus mengatakan sesuatu.


"Terima kasih."


Pria bertopeng itu hanya diam lalu pergi menuju pojok kelas tempat dia duduk seperti sebelumnya, rambut hitam panjangnya bergoyang saat berjalan. Menciptakan kesan yang elegan.


Perlahan Arthur menggeser kursinya dan duduk. Ketika dia melakukan hal tersebut, gadis pirang yang sedari tadi tampak ketakutan serta khawatir akhirnya membuka suara.


"Apakah kamu baik-baik saja? Ah.. ini tidak terlihat seperti aku khawatir atau apapun, aku hanya ingin kamu.. setidaknya merasa aman."


Tidak terlalu menghiraukan ucapan Fiona, Arthur justru melirik tajam ke pria barusan. Hawa membunuhnya, sikap tenang yang dia miliki dan kemampuannya. Semua menarik perhatian Arthur.


"Dia bernama Waron."


Menyadari kebingungan teman satu bangkunya, Fiona memberikan jawaban bahkan tanpa perlu ditanya secara langsung.


Tapi, jawaban itu terlalu mendadak hingga membuat Arthur terkejut untuk beberapa detik. Dia mulai menatap lagi pria tersebut sambil mengamankan namanya.


{Kamu tampak sangat dibenci, Bocah!}


"Cih!"


Mendengar hal yang keluar dari mulut Shutaru, Arthur dengan cepat berdesis kesal.


...***...


Langit sore membentang luas, dengan ini pelajaran dari Akademi telah berakhir, meskipun dikatakan pelajaran tidak terlalu benar, karena kebanyakan guru kelas F hampir absen.


Arthur kini berjalan sendiri, dia menyusuri beberapa jalan yang dipenuhi kios dan terhenti di depan rumah.


Perlahan dia membuka pintu rumah tersebut dan tepat ketika dia melakukannya dia disambut hangat oleh Fiona.


"Kamu sudah pulang Arthur?"


Dia adalah Fiona, sebelumnya dia pulang terlebih dahulu dan Arthur masih berada di perpustakaan untuk menghabiskan waktu.


Dan alasan kenapa mereka tidak pergi pulang serta ke akademi bersama meskipun satu arah adalah karena akan menjadi kabar buruk jika putri kerajaan berjalan bersama Arthur yang notabenenya musuh kerajaan.


Meskipun Fiona tidak masalah akan hal tersebut, namun Arthur memikirkan dengan matang, dia tidak mau membawa Fiona dalam masalah.


Kemudian untuk rumah kecil ini, alasan kenapa mereka berlagak layaknya pasangan adalah karena sang Raja sendiri.


Tepat ketika Arthur mengatakan keinginannya sang Raja mau tidak mau membuat tempat tinggal khusus mereka berdua. Meskipun mereka menolak dan sangat terpaksa.


Untuk kemanan? Tidak perlu di khawatir, di rumah itu terdapat puluhan kamera tak kesat mata yang akan mendeteksi apabila Arthur melakukan sesuatu yang tidak baik.


Kembali lagi ke topik awal. Kini Arthur tersenyum dan menganggukkan kepala.


Sudah sejak lama dia tidak disambut hangat oleh seseorang.


Dia berjalan menuju ruang tamu dan menatap meja makan yang telah penuh oleh makanan.


"Apa itu?"


Sedikit ragu-ragu Fiona menjawab dengan muka memerah.


"Anggap saja ini adalah caraku mengatakan terima kasih! Dan makanlah tanpa banyak omong!"


Jika melihat Fiona dengan teliti maka kamu akan menyadari bahwasannya jari jemari Fiona terlihat dilapisi oleh pembalut ini bukti bahwa dia berusaha untuk membuat makanan.


Menyadari betapa lelet dirinya dalam merespon sesuatu membuat Arthur sedikit merasa bodoh tapi dia kini tersenyum atas kehangatan yang telah diberikan oleh Fiona.


Jika mengingat kembali, Nana juga sering melakukan hal yang sama dengan Fiona. Bahkan pertama kali mereka saling mengenal adalah hal yang sama. Nana yang pindah menjadi tetangga Ayato memasakkan sesuatu untuknya karena mengetahui bahwa dia hidup sendiri dan itulah cara mereka saling mengenal


Dia benar-benar mirip..


"Berhenti berdiri dan cepat makan, bodoh!"


"Ya, ya, ya. Terima kasih Fiona."


"Uh—.. i-iya," jawab Fiona dengan memalingkan wajah.


Dengan perasaan girang Arthur berjalan dan duduk di meja makan, menampilkan beberapa potongan daging, telur, dan sayuran.


"Bersyukurlah! Aku repot-repot memasak ini, jadi kamu harus bertangungjawab untuk menghabiskannya!"


Fiona menunjukkan jarinya ke arah Arthur, tapi tindakan ini hanyalah cara dia untuk menyembunyikan rasa malu.


Arthur sudah menyadari hal ini jadi tidak terlalu dibawa pikiran.


Arthur perlahan memegang garpu dan sendok untuk memakan semua makanan yang ada di sini.


Makan yang dibuat oleh Fiona dapat membuat energi Arthur kembali lagi, setiap gigitan memberikan rasa yang tidak bisa dikatakan oleh kata-kata.


"J-jadi bagaimana!?"


"Ya, ini semua enak Fiona. Terima kasih."


Mengatakan hal tersebut, Arthur tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Ini adalah hal paling menghangatkan bagi Arthur.


Setelah sekian lama hidup di dunia ini, Fiona merupakan orang kedua setelah Tamus yang mau menerimanya.


Karena itulah Arthur berjanji, apapun yang terjadi. Dia akan bertarung untuk orang yang menerimanya.


"... aku senang dengan Jawaban tersebut."


Jawaban jujur dari Arthur membuat dia tersenyum, Fiona menundukan Kepala dan berkata dengan sangat lirih, hingga Arthur sendiri tidak dapat mendengar.


"Apa kamu berkata sesuatu?"


"T-tidak! Cepat habiskan, jangan bicara dan tatap aku hingga makanan itu habis!"


...***...


Selesai dengan acara makan malam Fiona tampak tertidur lelap dengan kepala yang diletakkan di meja makan.


Dia terlihat sangat kelelahan karena membuat makanan ini, pada dasarnya Fiona hampir tidak pernah memasak. Ini pertama kalinya dia memasak untuk seseorang, dan hasilnya semua jari Fiona terkikis pisau.


"unn. "


Fiona tampak bermimpi indah ini dibuktikan dengan suaranya saat tertidur dan sedikit air liur yang keluar di pipinya.


Arthur sendiri terus memandang gadis cantik tersebut, melihat dia yang tertidur lelap memberikan kenyamanan peribadi di hatinya, dia secara alami tersenyum.


Tapi itu tidak berjalan lama. Dia kembali teringat akan banyak kejadian di Akademi hari ini.


Dia masih sangat lemah, Arthur menyadari hal tersebut.


Jadi saat Fiona tertidur Arthur memberikan gadis itu selimut agar tidak kedinginan lalu dengan hati-hati pergi keluar di tengah malam.


Tujuan dia pergi adalah hutan monster, tempat beberapa monster berkumpul.


Di sana dia berharap akan dapat menjadi kuat walaupun hanya sedikit.


Penuh akan tekad seperti itu dia memegang gangang pintu dan hendak keluar, tapi..


"Arthur... hahaha... selamat tidur."


Gumaman ini keluar dari mulut Fiona yang tertidur lelap, dia terlihat asyik akan mimpinya dan menyebutkan nama Arthur.


Arthur sendiri hanya tersenyum melihat betapa imutnya Fiona.


"Ya, selamat tidur. Aku akan kembali sebelum pagi hari."


Menutup pintu Arthur langsung berlari menuju hutan monster.