
Rumor mengatakan bahwa akhir-akhir ini. Ada pahlawan tanpa nama yang terus berkelana tanpa tujuan. Tidak ada yang tahu identitas pahlawan tersebut.
Dia akan membantu Orang-orang yang kesusahan dengan kemampuan pedang yang luar biasa. Dengan kemampuan kegelapannya dia berhasil menyelamatkan banyak nyawa.
Dia pernah menghabiskan satu sarang goblin dengan sangat mudah, mengalahkan badit yang meresahkan dan beberapa penjahat yang menganggu warga.
Kabar itu terdengar sampai satu dunia. Dikatakan bahwa pahlawan itu pergi begitu saja tanpa menerima imbalan, bahkan ucapan terimakasih pun tidak ia Terima.
Setelah menyelamatkan orang-orang, pahlawan tanpa nama tersebut, langsung pergi sehingga tidak ada yang pernah tahu sosok aslinya. Karena itulah disebut 'pahlawan tanpa nama'
Tapi, menurut saksi mata. Ciri-ciri fisik pahlawan tersebut adalah, memeiliki mata merah ruby yang mengintimidasi, menggunakan jubah coklat. Dan kabar paling mengerikan bahwa pahlawan tersebut ternyata terinfeksi 'umbral plague'
...***...
“Kamu dengar? Salah satu anak dari Midnight kabur dari kerajaan Victoria.”
“Serius? Maksudmu anak ketiga dari mereka? Rumor mengatakan bahwa dia tidak mempunyai jenis mana yang artinya dia tidak akan bisa menggunakan sihir.”
“Ya, anak mereka yang bernama Arthur Midnight.”
Bisik-bisikan yang rendah mengitari sebuah rumah makan kecil, rumah makan ini terbuat dari kayu para pengunjung tampak saling menikmati obrolan masing-masing rata- rata dari mereka membahas perihal Kaburnya pangeran ketiga dari bangsawan Midnight. Meskipun sudah berbulan-bulan ini terlewat, tampaknya masih banyak orang yang membahas perihal ini.
Seorang remaja berjubah coklat menatap sekumpulan orang yang bercerita tersebut, wajahnya tidak jelas karena dia menutup sebagian wajahnya dengan tudung, beberapa saat kemudian, dia tampak menghela napas, dia malas mendengar kabar itu. Saat orang ramai dan berkumpul remaja ini malah mengasingkan diri.
“Apa yang kamu inginkan, Nak?”
Seorang pelayan lelaki datang dengan tersenyum penuh kehangatan, namun remaja yang dimaksud menatap jenuh ke sang pelayan seperti tidak adanya ketertarikan apapun. remaja tersebut menghela napas.
“Aku ingin sedikit informasi di sini, apa kamu tahu tentang kerajaan di sekitar sini?”
Pelayan terdiam untuk beberapa saat sangat jarang orang memilih informasi dari pada makanan. “Kerajaan Anggelisa berada tidak jauh dari sini apa anda seorang petualang?”
Tidak ada jawaban, remaja itu itu tampak berpikir sesuatu dan memegang dagunya.
Kerajaan Anggelisa, tempat di mana keluarga Rosemary berada, ya..
“Anu, permisi. Jadi apa yang ingin anda pesan?”
Kembali ke topik asal lagi, pelayan itu bertanya sekali lagi. Namun belum menjawab remaja itu berdiri dari tempat duduk menyerahkan dua potong koin ke meja makannya.
“Aku tidak perlu makanan, yang kumau hanya informasi itu, terima kasih.”
Setelah selesai dengan ucapannya remaja itu membalikan badan, berjalan menjauh dari rumah makan kecil. Sang pelayan menghela napas, sungguh anak yang sangat arogan dia beranggapan seperti itu.
Dengan malas pelayan itu mengambil dua buah koin emas di sana.
Koin emas, ya. Hem anak itu pasti bermain denganku, mana mungkin dia mempunyai koin seperti ini. Ini pasti palsu..
Pelayan masih tidak percaya dia menatap ke segala arah koin dan terkejut, mata dia terbuka lebar.
Tidak ini asli, mata uang emas ini bahkan lebih langka dari yang lainnya. Ini hanya dimiliki beberapa bangsawan kelas atas, siapa anak sebenarnya anak barusan?
Pelayan yang terkejut tersebut ingin kembali menoleh ke arah pintu keluar untuk mencari cocok remaja itu, namun percuma sudah tidak ada tanda-tanda kehadiran dari sosok remaja yang dimaksud.
...****...
Di tengah jalan yang kosong, seorang remaja berjalan dengan mata yang menatap ke bawah. Dia berpakaian dengan jubah coklat dan menutupi rambut miliknya, mata merah ruby miliknya sangat tajam seolah memiliki kebencian yang mendalam.
Sebentar lagi akan sampai ke kerajaan Anggelisa, aku harap keluarga Rosemary tidak mengetahui sosok aku..
Angin menerpa wajah sang remaja itu, tudung jubah yang dia pakai terhempas, menampilkan rambut putih seperti salju yang indah. Matanya sedikit tertutup karena hembusan angin yang cukup kuat.
*Bruak
*swosh
Sebuah kereta kuda melintasi remaja yang masih menutup matanya sebelah. Saat mata dia kembali terbuka lebar, remaja itu menatap kereta kuda yang baru saja lewat itu. Dia menatap tajam ke arah kereta kuda yang tampak mencurigakan. Kereta itu sangat tertutup sehingga tidak terlihat bagian dalamnya.
Di tempat sepi seperti ini kenapa kereta kuda lewat sini? Dan juga keretanya tidak membawa barang apapun, ini tentu saja membuat remaja berambut putih ini curiga.
Penculikan seseorang kemungkinan itu yang terjadi, tapi siapa yang peduli tentang itu..
Tidak ada rasa peduli dari kelopak mata merahnya, dia membalikan badan dan berjalan menjauh.
“tolong.”
Dia menjadi bingung apakah mengabaikannya adalah pilihan bagus? Atau dia harus menyelamatkannya.
remaja itu menelan ludah, kereta kuda semakin menjauh.
Jawaban sudah jelas, kenapa aku harus menyelamatkannya.
Aku akhir-akhir ini terlalu sombong dan menyelamatkan banyak orang. Tapi pada akhirnya orang-orang ketakutan karena menyadari aku penderita umbral plague..
Meskipun masih ragu, tapi remaja itu berjalan melangkah dengan langkah yang berat. Tapi dia tiba-tiba mengingat peristiwa buruk yang dia alami. Jika dia mengabaikan seseorang sekarang maka dia akan sama saja dengan yang lain.
*Swoosh
remaja itu berlari kencang, mengejar kereta kuda itu, dia menghunuskan pedangnya siap bertarung.
“Bos ada yang mengejar lo,” ucap salah satu orang yang menyadari keberadaan remaja berambut putih.
Sosok yang disebut bos menghentikan kudanya, dia menghela napas kasar dan keluar dari kereta tersebut.
Tepat pada saat itu remaja itu berhenti berlari menatap sinis ke pria yang mengendalikan kereta kuda.
“Kenapa anda mengejar kami Tuan bangsawan?”
Tidak ada jawaban dari remaja ini dia makin menatap tajam karena dipanggil ‘bangsawan’
“Kenapa anda tampak marah? Anda bangsawan, kan? Mata merah serta rambut putih itu.. oh, anda yang diberitakan itu ya, Arthur Midnight?”
Sekali lagi sosok yang tidak lain adalah Arthur tidak menjawab, dia menatap tajam. “Apa yang ada di dalam kereta anda, itu yang membuatku tertarik.”
“Anda tidak perlu khawatir itu hanya-”
“Tolong,” terdengar suara gadis dengan nada yang sangat lemah.
Arthur makin menatap tajam, dia sudah tahu apa yang harus dilakukan.
“Cih, dasar pengganggu, habisi mereka semua!”
Dengan cepat Arthur dikelilingi oleh banyak orang bersenjata tajam, jumlah sekitar 10 orang lebih, mereka melingkar membuat Arthur tidak bisa pergi kemanapun, senjata tajam seperti pisau mereka pamerkan dengan senyuman serta tawa menjijikan seolah-seolah berusaha menakuti, namun tidak bekerja bagi Arthur, remaja itu malah tersenyum.
Makin emosi sosok pria bertubuh besar tadi berteriak lantang,”Bunuh dia!”
Para bandit menerjang Arthur, terdapat satu orang paling berlari cepat dia hendak menusuknya menggunakan pisau kecil, namun dengan mudah dihindari Arthur, dia menendang bandit tersebut hingga terpental dan terbentur ke kereta kuda.
Melihat teman dikalahkan dengan mudah membuat badit makin emosi, mereka menyerang dengan membabi buta ke arah Arthur.
Seolah bukan apa-apa dia menghindari semua tanpa terkena satupun goresan, sebelumnya Arthur melawan banyak musuh yang lebih berbahaya dan kini harus melawan bandit tentu ini bukan apa-apa.
Bahkan tanpa menggunakan senjata dia berhasil mengalahkan semua orang di sana dengan teknik bela diri tangan kosongnya. Dia menendang orang yang hendak menerjangnya. Menghindari serangan para musuh dan memukulnya di bagian terbuka.
Sejumlah sepuluh bandit sekarang telah menjadi mayat yang tergeletak, namun mereka hanya pingsan.
Sang bos dari mereka menatap takut, dia meminta ampun. Tapi Arthur tidak memberi belas kasih dia menendang orang tersebut. Sekarang semua yang mengganggu telah hilang.
Arthur menatap kereta kuda itu.
Bersabarlah aku akan segera menolongmu..
Ketika Arthur membuka pintu kereta kuda, dia menatap gadis yang seumuran dengan dia. Gadis itu memiliki sehelai rambut berwarna pirang yang indah, pupil matanya berwarna biru langit yang sangat indah, baju yang dia kenakan berwarna kemerahan.
Namun sayang nya mulut dia tertutup oleh kain, tampaknya agar dia tidak bisa berteriak dengan keras. tangan dan kaki juga tampak di ikat dengan erat.
Dia menatap Arthur dengan penuh harapan, seolah mengharapkan pertolongan, tubuhnya juga bergetar. Mungkin ketakutan.
Arthur dengan santainya melepaskan kain di mulutnya dan semua tali di bagian tubuh sang gadis.
Gadis pirang tersebut terbatuk-batuk saat mulutnya sudah tidak dililitkan oleh kain putih. Dia tampak menahan napas untuk waktu yang lama,
Melihat tubuh yang masih bergetar Arthur mengeluarkan suara dan hendak membantu gadis itu berdiri.
“Hei, tidak apa-apa. Semua sudah baik-baik saja.”
Namun tangan yang hendak membantu itu ditepis telak oleh sang gadis pirang tersebut. Mata merah Arthur terbuka lebar tidak menyangka kejadian ini terjadi.
“J- jangan sentuh aku!” ucap sang gadis, kemungkinan dia masih ketakutan.