Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 10. Latihan



Tak


Tak


Tak


Sebuah pedang saling beradu di tengah hutan, akan tetapi tampaknya serangan dari remaja tersebut bukan apa-apa bagi Tamus. Dia dapat menangkis semua serangan tersebut seolah itu adalah masalah sepele.


Tamus melompat ke kanan menghindari serangan vertikal dari Arthur setelah itu dia memberikan tendangan melingkar, membuat remaja tersebut mental beberapa meter. Namun Arthur menahannya dengan cara menancap pedang kayu ke tanah agar tidak terlalu terbang jauh.


“... Huff..”


Arthur mengatur napas menyeka keringat dan kotoran di wajahnya. Alunan nada dari serangga membuat kebisingan di sekitar mereka, cahaya matahari semakin berada di atas. Cahaya semakin cerah.


Arthur menghirup napas dalam-dalam menenangkan pikiran dan mengeluarkan teknik yang telah dia pelajari beberapa bulan ini.


< Dark Sword Technique: First style: Dark Slash >


Arthur menebas pedang secara horizontal dan tepat pada saat itu terbentuklah aura kegelapan tajam yang menerjang Tamus dengan sangat cepat.


Meskipun Tamus adalah orang yang kuat dia tentu saja tidak mau menerima serangan itu, menahannya akan membuat pedang kayu patah jadi Tamus memutuskan untuk lompat tinggi.


Sebuah senyuman tergambar di wajah Arthur seolah ini adalah rencananya. Saat Tamus masih di langit Arthur sekali lagi mengeluarkan teknik pedang kegelapan yang lebih kuat.


Pedang kayu Arthur mengeluarkan warna hitam yang sangat pekat. Arthur menebaskan pedang melakukan serangan seperti barusan.


Sebuah aura kegelapan menerjang Tamus yang berada di udara. Senyuman kemenangan tergambar di muka Arthur, dia berpikir ini adalah kemenangan, namun senyuman itu harus pudar karena merasakan aura menekan dari Tamus.


“Sepertinya harus kutunjukan bagaimana cara menggunakan Teknik kegelapan yang benar.”


Tamus memegang pedang dengan sangat erat, aura hitam pekat menyinari hampir setengah hutan. Arthur menelan ludah.


Ini gawat..


 


Aura kegelapan saling menerjang tentu saja tebasan milik Tamus lebih kuat. Aura gelap milik Arthur lenyap, kini tebasan kegelapan menerjang Arthur beruntung dia cepat tanggap, dia berlari ke sisi kanan dan..


Brak


Tubuh Arthur terjatuh lemas di tanah dengan kaki yang gemetaran, melihat pemandangan di belakangnya membuat mata Arthur terbuka lebar wajahnya juga menjadi pucat dengan cepat.


Pemandangan pohon yang terpotong rapi untuk beberapa kilometer jauhnya, itu hampir membuat setengah hutan gundul dan tidak berhenti di situ. Monster-monster yang terlihat seperti tingkat tinggi berjatuhan, telah menjadi mayat, darah bercucuran di mana-mana.


Setelah beberapa bulan berlatih akhirnya Arthur sadar seberapa mengerikannya sosok ini. Ini bukan level ahli pedang lagi ini hampir setara seperti Paladin, tidak bahkan lebih.


Siapa sebenarnya Pak Tua ini?


Arthur semakin merasakan ketakutan, kalau diingat lagi selama dia berbulang-bulan latihan. Dia hampir tidak pernah menyentuh Tamus ini juga pertama kalinya Tamus menggunakan Teknik Pedangnya. Ini artinya Tamus menganggap serius Arthur? Atau…


“Ada apa Arthur?”


Menyadari kebisuan muridnya Tamus memutuskan untuk mendekatinya.


“K- kau ingin membunuhku, kah?” tanya Arthur dengan wajah ketakutan.


“Tidak. Ini bahkan belum 50 persen dari daya hancur gaya pertama lo … jangan pasang wajah ngeri seperti itu masih ada enam gaya teknik kegelapan yang belum kamu ketahui.”


Arthur semakin tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia semakin yakin akan bisa menjadi kuat, namun disisi lain dia ragu apakah bisa menguasai ketujuh gaya pedang tersebut.


“Berhenti pasang wajah takut seperti itu!”


Arthur masih terdiam menatap pepohonan yang hampir gundul itu. Tamus menghela napas melihat sifat muridnya itu.


“Arthur dengar! Teknik pedang kegelapan bergantung dengan mental pengguna jika mentalmu lemah seperti ini, maka suatu hari kamu akan dikendalikan sendiri dengan kegelapan, aku tidak butuh murid pengecut!”


Mata Arthur terbuka sekali lagi. Dia tidak terima dengan sebutan ‘pengecut’ dia menatap emosi Tamus.


“‘Pengecut’ katamu? Aku tidak seperti itu, ini hal wajar jika aku terkejut..” Arthur menatap pedang kayunya dan berganti menatap hutan yang gundul setengah itu. “Di depan mataku ada kekuatan luar biasa, tentu aku senang. Tapi apa orang sepertiku dapat menguasai ini?”


Benik mata Tamus menoleh. Ia menghela napas lalu duduk  di samping Arthur, hendak mengatakan sesuatu.


“Kamu tahu? Teknik tebasan yang barusan, sebenarnya memakan waktu beberapa tahun untuk menguasainya dan kamu melakukannya hanya dalam beberapa bulan itu hal gila, untuk menguasai semua ketujuh teknik pedang ini saja aku hampir menghabiskan puluhan tahun. Berkelana ke berbagai daerah, bertarung dengan monster. Tentu saja aku punya master keenam di sisiku, namun aku tidak bisa menguasai ini secepat dirimu..” Tamus menghela napas tatapannya menjadi sedikit diliputi kesedihan. Dia bergumam, “Jika saja aku menguasai ketujuh teknik lebih cepat master pasti..”


“Bicara tentang master keenam, di mana dia sekarang? Pemilik teknik pedang kegelapan itu isinya pria tua semua ya, hahaha.”


Tamus menutup mulut. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Arthur, setidaknya untuk sekarang. Yang terpenting sekarang adalah mengajari teknik ke Arthur sebelum waktunya terlambat.


Perlahan Tamus menutup matanya, menikmati hembusan angin, dia menyeringai dan kembali berdiri. Arthur menoleh, tampak bingung.


“Mau ke mana, Ma- Pak Tua Tamus?”


“Sudah jelas bukan, setelah latihan aktivitas berikutnya adalah makan siang. Cepat gunakan jubahmu, akan repot jika seseorang tahu putra ketiga berkeliaran di rumah makan.”


Arthur tersenyum dan tertawa kecil, dia mendapatkan makanan gratis untuk hari ini, bagi Arthur sosok Tamus seperti Ayah walaupun dia masih tidak mau menerima itu.


Beberapa menit terlewat, Arthur sudah siap dengan pakaiannya. Dia menggunakan jubah coklat bertudung yang akan menutupi wajahnya.


“Ayo,” ajak Arthur.


Tamus menganggukan kepala.


Ketika kedua orang itu saling berjalan bersama mencari makanan, mereka memasuki suatu desa yang bernama ‘fusa’ Arthur tentu saja tidak tahu. Di sana banyak orang dan penjual yang berlalu lalang, menciptakan keramaian dan kebisingan.


Arthur yang bangsawan kelas atas bahkan hampir dikenali karena banyaknya orang-orang tersebut. Ini justru adalah berita baik untuknya.


Senyuman tergambar di wajah Arthur dia menikmati ini.


“Apa kamu tahu Dungeon yang berada di utara?”


Kaki Arthur berhenti melangkah dia merasakan ketertarikan tersendiri dengan ‘dungeon’ Matanya mencari sosok yang membahas ini.


“Ya, aku tahu. Sepertinya banyak petualangan yang mati setelah memasuki Dungeon itu.”


“Mengerikan sekali, tapi ada yang berkata jika seseorang berhasil menyelesaikannya maka dia akan mendapatkan kekuatan tidak terbatas.”


Seolah tertarik Arthur terus memperhatikan dia hampir saja melangkah untuk ikut nimbrung pembicaraan, tapi suara tamus menghentikannya.


“Ada apa Arthur?”


Arthur menggelengkan kepala dan berjalan ke arah Tamus. Dia sesekali menoleh ke pemuda yang membahas Dungeon itu.


Dungeon ya?