
“jangan sentuh aku!”
Itulah kalimat yang didapatkan Arthur ketika ingin menyentuh gadis berambut pirang yang tampak seumuran dengannya.
Arthur tidak menganggap buruk akan ucapan tersebut, dia menganggap bahwa gadis itu hanya ketakutan. Meskipun karena alasan lain pun, dia tetap menerima ucapan buruk, lagipula dia terbiasa untuk dijauhi.
“Baiklah… kalau begitu, aku akan segera pergi.”
Merasakan hawa penolakan dan ketakutan di gadis tersebut, Arthur memilih untuk pergi menjauh, namun tiba-tiba saja gadis itu berubah pikiran dan memegang tangan Arthur.
“T- tunggu, bagaimana bisa kamu meninggalkan gadis imut sepertiku di sini?”
Gaya bicara yang dia lakukan berbeda dengan barusan. Meskipun terlihat panik serta ketakutan, akan tetapi terdapat kesombongan serta keangkuh ketika dia berkata demikian.
Arthur menoleh, dia mulai kebingungan. “Bukankah tadi kamu menyuruhku untuk tidak menyentuh? Tapi kenapa kamu malah memegang tanganku dan menghentikanku?”
“A- ah… setidaknya biarkan aku pergi ke rumah! Dasar tidak punya perasaan!”
Ini pertama kalinya bagi Arthur berbicara dengan seseorang setelah waktu yang lama. Biasanya setelah menjadi pahlawan tanpa nama, dia akan menerima terima kasih, tapi orang pasti akan ketakutan karena sadar bahwa dia terinfeksi umbral plague.
Tapi, gadis yang di depannya ini tidak memiliki perasaan takut.
“Baik-baik. Emang berada di mana rumahmu?”
“Sebenarnya bukan rumah, tapi akan lebih tepat jika disebut istana.”
Dia meletakan kedua tangannya di dada, tampak sombong akan ucapannya.
“Hah? Tadi kamu bilang apa?”
“Sesuai yang kukatakan, aku berada di istana. Karena aku seorang putri.”
“Pft~ Serius? Kamu putri? Ini pertama kalinya aku melihat seorang putri yang diculik bandit,” ucap Arthur dengan sedikit tertawa.
Wajah gadis itu memerah karena menahan amarah. “Jangan tertawa! Aku serius, aku putri dari kerajaan Anggelisa.”
Mendengar nama kerajaan Anggelisa, Arthur menyadari sesuatu. Awalnya dia berharap bahwa ini hanyalah pikirannya saja, tapi rambut pirang dan mata biru milik gadis ini. Tidak salah lagi, dia berasal dari keluarga Rosemary.
“Anggelisa, ya? Kamu pasti keluarga Rosemary, kan?”
“Itu benar! Aku Fiona Rosemary, bersyukurlah karena sudah mendengar namaku!”
Dia sekali lagi berbicara dengan nada sombong, Memamerkan bahwa dia ada orang penting. Fiona Rosemary, dia adalah putri ketiga sama seperti Arthur.
“Jadi begitu, itu hal yang bagus. Jadi karena kamu seorang putri yang hebat, maka pulang sendiri bukanlah hal yang buruk, kan?”
Arthur berjalan menjauh, hendak meninggalkan Fiona yang masih terlalut akan kebangaan dirinya.
“Tunggu! Ah, dasar.” Tidak mau tertinggal, Fiona berlari dan berjalan bersama Arthur.
“….”
“…”
Keheningan menyelimuti dua orang tersebut. Fiona makin jengkel karena orang yang disampingnya terus menaikan kecepatan berjalan, seolah ingin menjauh.
“Oi! Jangan tinggalkan aku, dan katakanlah sesuatu!”
“Woi, kamu dengar? … Oi!”
Arthur menghela napas, sejujurnya dia bisa dengan gampang pergi meninggalkan Fiona, tapi nanti siapa yang akan membawa gadis itu kembali.
Mengingat seorang putri kerajaan diculik oleh para bandit, pasti terjadi sesuatu yang serius di Fiona, dan mungkin ini berhubungan dengan misi para pewaris Teknik pedang kegelapan yang telah Arthur warisi.
Tugas yang Arthur warisi adalah mengumpulkan tujuh potongan tubuh raja iblis dan menghancurkannya. Sebelumnya Elli memang berhasil menghidupkan raja iblis, namun itu hanya berupa jiwa saja.
Untuk menghindari kebangkitan seratus persen raja iblis, maka Arthur harus menghancurkan tujuh potongan tersebut sebelum berada di tangan para raja iblis dan buahannya.
Itulah tugas dari para pewaris Teknik pedang kegelapan. Mereka menjaga tujuh potongan tubuh itu. Karena sebenarnya dulu. Allan Midnight, pendiri dari Teknik pedang kegelapan yang pertama berhasil mengalahkan raja iblis dan memotongnya menjadi tujuh bagian.
“Hei, katakanlah sesuatu!”
Arthur membuka mata lebar, berkat ucapan Fiona lamunan dia menghilang. Melihat gadis yang terus cerewet membuat Arthur sedikit muak. Dia tetap berjalan tanpa mengatakan apapun.
“Cih! … omong-omong, kamu siapa? Aku ingin tahu namamu… J- jangan salah paham! Aku hanya ingin membuka obrolan karena kamu tidak mengatakan apapun! Ini tidak seperti aku tertarik dengan namamu!"
Sikap Fiona yang rewel dan suka ikut campur entah kenapa mengingatkan dia dengan seseorang di dunia sebelumnya. Dia sangat mirip dengan gadis bernama Nana.
Arthur menatap langit-langit, dia berpikir apa yang sedang Nana lakukan sekarang di dunia manusia. Arthur hanya berharap, Nana tidak melakukan hal ceroboh lagi.
“Hei, aku sudah repot-repot menanyakan nama! Jadi cepat berikan jawaban!”
Karena kemiripannya dengan Nana, membuat hati Arthur menjadi sedikit tenang, dia tanpa sadar tersenyum.
“Maaf, untuk sekarang rahasia.”
Dia tentu tidak bisa mengatakan bahwa dia adalah putra kerajaan Midnight yang hilang. Apalagi di keluarga Rosemary yang merupakan musuh keluarganya. Akan terjadi hal merepotkan nanti.
Selesai tersenyum Arthur berjalan menjauh lagi. Dan ini cukup membuat Fiona kesal.
Apanya yang rahasia, dasar sok..
Itulah yang terlintas di pikiran gadis pirang itu. Namun meskipun dia menganggap Arthur menyebalkan, dia tetap berterimakasih dengannya. Walaupun dia tidak bisa jujur.
“Hei, tunggu!”
... ***...
Setelah berjalan dengan cukup lama hari menjadi sore. Arthur dan Fiona sudah sampai di kota yang berjarak tidak jauh dari kerajaan tujuanya.
“Apakah kamu Lelah, Fiona?” tanya Arthur, karena dia menyadari bahwasanya gadis itu telah kelelahan.
“Kamu pikir aku siapa? Yang seperti ini bukan apa-apa!”
Tentu ini adalah kebohongan, faktanya Fiona berkeringat dan napas dia berantakan. Ini adalah caranya untuk menutupi kelemahanya dan Arthur sangat paham sikapnya.
“Jangan bohong!”
“Aku tidak berbohong-“
Sebelum selesai berbicara, hujan turun dengan deras membasuhi Arthur dan Fioan yang tidak memaikai payung. Merasakan hawa dingin, Arthur memiliki usulan.
Dia berjalan dan memegang tangan Fiona. “Hujan, ayo cari penginapan.”
Fiona ingin menolak, tapi fakta bahwa dia sudah kelahan dan sedang hujan deras jadi dia terpaksa mengikuti saran dari Arthur.
Sampai di tempat penginapan, Arthur membuka pintu dan langsung berjalan untuk mencari kamar.
“Permisi, saya ingin mencari kamar.” Ucap Arthur kea rah perempuan yang tampak seperti pemilik penginapan ini.
“Oh, boleh. Apakah ingin satu kamar dengan pasangan anda?”
Dia salah paham. Yang dimaksud pasangan tidak lain adalah Fiona, alasan kenapa dia bisa berpikir seperti itu karena. Arthur memegang tangan gadis itu hingga ke penginapan. Orang normal pasti berpikir kalau mereka pasangan, jadi Arthur menganggap ini normal, tapi Fiona merona malu karena kesalah pahaman ini.
“Kami bukan pasan-“
“Ya, aku ingin satu kamar dengan dia.”
Sebelum Fiona selesai berbicara Arthur sudah memotongnya, hal ini semakin membuat Fiona memerah. Ini pertama kalinya untuk dia satu kamar dengan pria.
Dia sangat ingin menolak, tapi Arthur terus memotong pembicaraan sehingga mereka terpaksa. Dan dengan perasaan kekalahan, sekarang Fiona harus tidur satu kamar dengan Arthur.