
Sekitar dua hari telah terlewat dan kini Arthur dapat berjalan sesuai keinginan. Saat ini dia sedang mengikuti langkah dari Vincent yang membawanya ke suatu tempat.
Arthur menerima tawaran dari Vincent untuk melatihnya agar dapat menggunakan semua tujuh kuda-kuda dari teknik kegelapan.
Tapi bagaimana cara dia akan melatihnya? Dia tidak seperti bisa menggunakan teknik tersebut.
Itulah yang mengganjal di pemikiran Arthur, sampai sekarang dia tidak tahu jawabannya.
"Kita sudah sampai!"
Mengatakan hal tersebut Vincent menghentikan langkahnya dan terhenti di sebuah hutan yang luas dengan banyaknya pepohonan.
Arthur sangat familiar dengan tempat seperti hutan karena pada dasarnya dia dan Tamus berlatih di sini.
Suasana sangat mirip jadi Arthur tahu tempat ini...
"Hutan monster, ya ...?"
Ini membuat kenangan tentang latihan berat dengan Tamus kembali menyerbu otaknya. Dia menjadi nostalgia dan disisi lain menjadi sedih, karena Tamus sendiri sudah mati.
Merasakan emosi tersebut Arthur mengepalkan tangan.
"Jadi apa yang mau kamu lakukan?"
Vincent membalikkan badan bersamaan dengan itu. Rambut pirang bersinar terang, memantulkan sinar matahari. Dengan mata biru seperti laut, dia menatap dengan pandangan serius.
"Seperti yang aku katakan beberapa hari yang lalu... aku adalah mantan murid Tamus, tapi meskipun begitu aku tidak bisa menggunakan teknik pedang kegelapan."
Apakah dia mempermainkan Arthur? Jika dia saja tidak bisa menggunakan teknik tersebut lantas mau bagaimana dia mau melatihnya? Merasakan emosi paling dalam. Arthur ingin mengatakan semua kejanggalan tersebut.
Tapi...
"Jangan tatap aku dengan wajah seperti itu... memang aku tidak bisa menggunakan teknik dari Master Tamus, itu karena aku punya jenis mana. Aku adalah orang dengan sihir."
Teknik kegelapan adalah sebuah kekuatan untuk para orang tanpa mana. Alasannya karena mereka kelak akan memasukkan Shutaru sebagai sumber kekuatan di tubuh mereka.
karena itulah orang dengan sihir tidak bisa. Karena memiliki dua sumber kekuatan dapat menghancurkan tubuh mereka.
"Tapi jangan khawatir karena aku punya teknik yang sama persis. Semua konsep baik kuda-kuda sama saja. Hanya elemen saja yang berbeda."
"teknik ini kusebut dengan..."
'Glek'
Arthur menelan ludahnya. Dia tidak sabar menunggu jawaban dari Vincent.
"Teknik pedang cahaya!"
Dengan wajah penuh kesombongan, dia berkata demikian. Sedangkan Arthur, dia menatap kosong.
Sebuah nama yang sangat persis sehingga Arthur bisa mengatakan. Apakah ini sebuah plagiat?
"Anu... bisa hentikan tatapan itu?"
Vincent tersenyum kecut karena menyadari tatapan aneh dari Arthur.
Merasakan keheningan yang memalukan, dia menghela napas.
"Yah, lupakan tentang itu dan mari kita mulai."
Keheningan yang berjalan sebelumnya kini terganti dengan suasana pertarungan.
Baik Arthur dan Vincent menarik pedangnya dan membuat kuda-kuda siap bertarung.
"Sekedar mengingatkan aku tidak akan bertingkah lembut," ucap Vincent dengan tatapan serius.
"Justru itu yang aku harapkan...."
Arthur mengucapkan kalimat terakhir dengan sombong, tapi dalam sekejap kesombongan itu langsung di hancurkan.
Vincent yang berada sekitar lima meter dari Arthur tiba-tiba muncul di depan menghunuskan pedangnya.
Arthur tidak bisa merespon apa yang terjadi. Ketika dia menyadari pedang miliknya telah terlempar ke langit dan menancap di tanah.
Jika ini adalah pertarungan asli, maka sudah pasti Arthur akan mati. Menyadari itu dia menelan ludah, Vincent. Dia setara dengan Tamus atau bahkan lebih.
"Kukatakan sekali lagi. Aku tidak menahan diri..."
Perkataan dan aura dingin tersebut membuat Arthur menyadari bahwa orang yang didepannya memang layak untuk menyandang gelar Paladin.
...***...
"Hah... hah... hah..."
Arthur terlihat tergeletak di tanah yang penuh oleh rerumputan, sudah seminggu lebih dia berlatih dengan Vincent. Tapi dia tidak pernah bisa menyentuhnya sekali pun.
Meskipun begitu setidaknya dia mulai terbiasa dengan gerakan Vincent.
"Cih! Dasar lemah! Sebagai hukuman kamu tidurlah di hutan.."
Mengalami semua ini Arthur menyadari. Bahwa Vincent lebih monster daripada Tamus itu sendiri.
Dia melatihnya dengan cara lebih kejam bahkan ketika kalah dia dipaksa untuk tidur di hutan yang dipenuhi monster.
"Dasar monster..."
Arthur hanya bisa bergumam karena mendapatkan perilaku keji ini.
Pada malam hari itu juga dia tertidur dan melawan beberapa monster walaupun hanya tingkat rendah, tidak terlalu bahaya, dia cukup beruntung tidak berpapasan dengan monster seperti orc ke atas.
...***...
Hari berikutnya.
Cring
Arthur terlihat berhasil menahan tebasan dari Vincent, ini merupakan peningkatan yang luar biasa. Mengingat ini pertama kalinya dia berhasil menahan serangan.
Tidak hanya itu saja.
"Oh~ cukup hebat."
Menyadari peningkatan dari Arthur, Vincent hanya bisa sedikit kagum. Dan tidak hanya itu saja.
Arthur melompat dan memutar tubuhnya seperti gangsing, dengan pedang yang penuh kegelapan dia menyerang Vincent.
Ini merupakan teknik kedua yang Arthur pelajari beberapa hari yang lalu. Kekuatan hancur sempurna, aura kegelapan cukup kuat.
Tapi...
Seperti bukan masalah besar. Vincent mengunci pergerakan Arthur dengan memegang lengannya dan membanting dia ke tanah.
Arthur mengeluarkan batuk darah, dia terlihat kesakitan atas tindakan yang Vincent lakukan.
"Cukup bagus..." Puji Vincent menatap Arthur yang kini terbaring di tanah.
Orang ini tidak tahu cara menahan diri..
Memegang kepala yang sakit dia berpikir demikian.
Vincent menguap dan merentangkan kedua tangan ke atas, seolah untuk menghilangkan rasa penat yang, dia Terima.
Dia juga memandang langit cerah dan berkata,
"Kamu masih sangat lemah, tapi setidaknya dalam satu minggu ini ada peningkatan... Pergilah untuk istirahat bersama Fiona di rumah!"
Berkat pelatihan dari Vincent, membuat Arthur mau tidak mau tidur semalam di hutan monster, kondisi fisik yang dialami Arthur sekarang terlihat sangat berantakan dan kotor. Jadi Vincent menyuruhnya pulang.
"Baik, baik..."
Arthur perlahan mengangkat diri dan menghela napas puas. Setidaknya dengan ini dia terhindar atas pelatihan monster dari Vincent.
Sebuah burung kecil terbang dan singgah di pundak Arthur. Itu bukan burung biasa melainkan burung pembawa pesan.
menyadari itu, Arthur mengambil surat dan membukanya.
"Surat apa itu, bocah!?" tanya Vincent penasaran.
sedangkan Arthur masih membacanya dengan seksama. Lalu mencengkramnya seolah itu adalah surat paling buruk yang dia terima.
Karena penasaran Vincent melirik ke arah surat tersebut.
...----------------...
...Yang terhormat Arthur Midnight, saya Maria Nightray. Mengundang anda untuk datang ke ruang kepala sekolah untuk suatu hal....
...Oleh karena itu saya mengharapkan kehadiran anda....
...----------------...
Maria merupakan anggota The watchers dan Arthur menjadi musuh bagi mereka.
Tentu perkataan mengundang seperti ini adalah jebakan yang terlihat jelas.
Dan pasti mereka akan melakukan hal yang tidak diinginkan, bisa saja mereka akan memberikan eksekusi atau hak lainnya.
Karena pada akhirnya Arthur masih menjadi tuduhan dan kasus pembunuhan Liliana belum selesai.
"Bagaimana? Apa kamu akan datang?" tanya Vincent.
Meskipun ikut surat tersebut adalah tindakan bodoh, tapi dia memutuskan tekad untuk datang.
"Ya, aku akan pergi."
jika terus berlari percuma. Arthur berpikir untuk segera mengakhiri dirinya yang menjadi tuduhan.