Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 25. Penjara



“jadi ini tempatnya.”


Arthur berhenti melangkah, dia telah sampai di tempat tujuan sesuai peta yang tertulis. Meskipun terdapat keraguan, tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk datang.


Tempat tersebut berada di daerah yang sangat sepi. Tidak ada tanda kehidupan di sana, hanya ada satu mansion hitam yang terlihat sudah usang dan tua.


{Hati-hati, Nak. Aku punya firasat buruk tentang tempat ini.}


Arthur menelan ludah, dia meremas peta tersebut sembari mengamati Mansion. “Ya, aku tahu.”


Dengan persaan ragu dia memasuki Mansion tersebut. Perlahan dan tanpa diketahui penghuninya.


***


Sisa-sisa interior yang usang dan berantakan menerpa mansion tua itu. Furnitur yang rusak, dinding yang retak, benda-benda yang berserakan dan penuh debu memberi kesan bahwa Mansion tersebut tidak terawat dengan baik. Meskipun pencahayaan lampu masih menyala, namun kondisi dalamnya sangat parah.


Saat Arthur sedang berjalan dengan penuh hati-hati, bersembunyi di balik tembok dan di balik bayang-bayangan. Dia tanpa sengaja menatap dua orang yang terlihat seperti penjaga. Mereka berdua seperti baru saja keluar dari suatu kamar.


Arthur dengan cepat bersembunyi. Dia berlindung di balik dinding dan melihat mereka sedikit-demi sedikit.


“Akhirnya dia kembali lagi, Putri itu.”


“Ya dengan ini bos pasti tidak akan marah seperti sebelumnya. Tapi meskipun begitu, dia cukup menawan. Aku ingin membawanya ke kamarku dan bermain denganya~”


“Bodoh! Jangan berani melakukan hal yang tidak-tidak, nanti kamu bernasip sama dengan anggota yang dibunuh itu, lo.”


“Kamu ada benarnya, hahaha~”


Arthur menggenggam pedang miliknya dengan lebih erat dia marah akan ucapan para dua penjaga tersebut. Rasanya ingin menebas mereka, namun sekarang dia ada di zona kawasan musuh. Tindakan gegabah akan membunuhnya.


Dua penjaga tersebut berjalan menuju ke tempat Arthur yang sedang bersembunyi. Mereka tentu tidak tahu ada sosok penyelinap di Mansion ini. Mereka hanya ingin lewat tanpa menyadari bahaya yang menanti.


Ketika mereka sedang ingin berbelok, Ke dua penjaga itu terkejut dengan penampakan Arthur yang berada di balik tembok. Arthur dengan cepat melumpuhkan satu penjaga yang terlihat masih tidak punya pengalaman dan mengatakan hal tidak senoh-senoh tentang Fiona. Dia memukulnya dengan cukup keras sehingga membuat orang itu pingsan.


Penjaga satunya terlihat tidak terima, dia bergegas menyerang Arthur dengan senjata tajam. Tapi, dengan mudah serangan tersebut di hindari, Arthur memegang lengan penjaga tersebut dan menjatuhkan tubuhnya di lantai. Dengan tangan di tahan, Arthur bertanya sesuatu ke petugas tersebut.


“Di mana orang yang kamu  bawa pergi? Putri yang kalian maksud berada di mana?” 


Dia bertanya dengan nada dingin. Dan tatapan miliknya sangatlah tajam seperti menatap bongkahan sampah.


“Tidak akan kukatakan! Bunuh saja aku!”


Meskipun dia adalah penjahat, tampaknya dia memiliki rasa solidaritas yang tinggi di organisasi, Arthur mengikuti apa yang penjaga tersebut mau, dia juga sudah bisa menebak di mana keberadaan Fiona karena penjaga tersebut mempunyai kunci yang tergantung di celananya.


“Baiklah sesuai keinginanmu…”


Tanpa ragu Arthur menebas tengorakan penjaga tersebut. Darah berjatuhan seperti sungai, bau tidak sedap mengitari penciumannya.


Arthur mengambil kunci yang berada di celana penjaga tersebut dan berjalan ke salah satu kamar. Kamar ini adalah tempat di mana dua penjaga tersebut keluar.


Jadi besar kemungkinan Fiona berada di sana.


*Klark


Pintu tersebut berhasil terbuka, menampilkan ruangan gelap dengan lilin cebagai pencahayaan. Arthur bejalan dengan perlahan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menghasilkan suara apapun. Ketika dia berjalan beberapa langkah terlihat tangga yang menuju ke arah bawah.


Tanpa adanya keraguan sedikit pun. Arthur melangkah menuruni tangga tersebut. Sesuai dugaanya di sana terdapat beberapa penjara dan tahanan-tahanan, tapi kebanyakan orang yang berada di penjara adalah orang yang tidak bernyawa.


Langkah Arthur begema di keheningan penjara. Seseorang mendengar langkah Arthur, dia menatapnya dan berkata,


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya sosok tersebut yang tidak lain adalah Fiona.


Arthur menghentikan langkahnya dan tersenyum ke arah gadis tersebut. “Tentu aku datang untuk menyelamatkanmu.”


“Bodoh! Apa kamu tidak tahu dengan siapa kamu akan berurusan?”


Arthur tidak merespon ucapan serta keluh kesah dari Fiona dan membiarkanya seperti angin lewat. Dia membuka sel penjara dan borgol yang berada di pergelangan tangan Fiona.


“Ayo.”


Arthur memegang tangan gadis tersebut dan bergegas berjalan menjauhi penjara tersebut. Awalnya semua berjalan lancar, tapi tiba-tiba Fiona berhenti melangkah membuat Arthur kebingungan.


Dia menoleh ke belakang menatap Fiona yang menundukan kepala. “Ada apa?”


Fiona tampak ragu dan ingin mengatakan sesuatu dengan pipi yang memerah. 


“Beraninya kamu pergi begitus saja. Sepertinya kamu benar-benar ingin mati, gadis bodoh!”


Sebelum Fiona selesai dengan ucapannya, tiba-tiba sosok perempuan berambut merah memotong pembicaraanya. Dia adalah Feny, matanya menatap tajam Arthur maupun Fiona seolah ingin membunuh keduanya.


Merasakan sosok yang cukup berbahaya membuat Arthur waspada.


“Fiona, berlindunglah di balik tubuhku.”


“Y- ya.” 


Fiona melepaskan tangannya dan berjalan, bersembunyi di tubuh Arthur.


“Hee~ mari kita lihat. Mata merah yang menyala dan jubah coklat. Jadi kamu ‘pahlawan tanpa nama’ yang sekarang menjadi rumor itu, ya? Benar-benar orang yang baik hati. Menyelamatkan orang bahkan tanpa menerima ucapan terima kasih.”


“Tapi kamu hanya berhadapan dengan goblin, bandit dan beberapa musuh kelas rendah. Kamu sebenarnya tidak sekuat yang dirumorkan, apa aku benar?”


Yang dikatakan Feny adalah kebenaran. Menjadi pewaris kedelapan bukan berarti Arthur menjadi sangat kuat, justru bisa dibilang sebaliknya. Karena infeksi ‘umbral plague’ Arthur harus berhati-hati ketika menggunakan kekuatannya.


Jika dia terlalu memaksakan diri untuk menggunakan Teknik pedang kegelapan maka perlahan kegelapan akan merogoti hatinya dan dia akan menjadi umbral yang menggila. Sama seperti Aron dan orang-orang lain yang pernah dia bunuh.


“Kamu benar, aku tidak sekuat yang orang pikirkan, tapi. Kalau hanya kamu bukanlah masalah besar."


"Hee~ apakah kamu serius?"


Arthur menarik pedang miliknya dia bersiap untuk bertarung. Kedua orang tersebut saling bertatapan menciptakan suasana pertarungan.


*swosh


*cring


Arthur dan Feny saling menerjang. Arthur menebaskan pedang dengan vertical sedangkan Feny menahan serangan tersebut menggunakan rantai Panjang yang keluar entah dari mana.


Feny manahan pedang milik Arthur dan gadis tersebut mencoba menyerang kepala Arthur menggunakan bagian belakang rantai yang tajam, namun Arthur melompat sehingga serangan tersebut terhindar.


Seperti binatang buas Feny sekali lagi menyerang Arthur dengan rantai miliknya. Dia melemparkan rantai Panjang ke arah Arthur yang masih melayang di udara. Arthur tampak terkejut, dia mengangkat tangan untuk melindungi diri, namun itu justru yang diinginkan Feny, rantai itu menembus tangannya dan menempel padanya. Feny memutar tubuhnya membuat Arthur juga ikut berputar karena terikat oleh rantai tersebut.


*brak


Feny membanting Arthur dengan keras, membuat remaja tersebut memuntah kan darah dan lantai dengan cepat menjadi jaring laba-laba dengan Arthur menjadi pusatnya.


“Lihat, kamu sangat lemah… oh, rambut putih itu, jadi kamu Arthur Midnight?”


Karena bentrokan tadi tudung milik Arthur terbuka menampilkan rambut putih yang menjadi ciri khas keluarga Midnight.


Feny tersenyum sinis karena menyadari sosok yang berada di depan matanya. Sedangkan Fiona tampak terkejut kerana mendengar nama ‘midnigh’


“Putra ke tiga tanpa elemen sihir dan keluar dari kerajaan untuk waktu ber bulan-bulan. Aku mendapatkan mangsa yang sangat baik hari ini. Fiona Rosemary dan Arthur Midnight. Bos pasti akan senang.”


< Drak Sword technique: First Style: Drak Slash>


Tebasan kegelapan menerjang Feny yang terlalut akan ucapanya sendiri, dia terkejut untuk beberapa detik. Tidak menyangka orang tanpa elemen dapat mengeluarkan Teknik seperti ini, beruntung dia bergerak cepat dan menahan tebasan itu dengan rantainya.


Serangan Arthut tidak berhenti di sana, dengan gerakan cepat dia berpindah tempat menuju ke belakang Feny, dan menebaskan pedangnya ke arah kepala Feny, tapi keberuntungan masih berpihak terhadap gadis berambut merah itu. Dia menundukan kepala dan melompat.


Melihat Feny yang melompat, tentu saja Arthur tidak diam. Lagi-lagi dia mengeluarkan Teknik pertama, membuat tebasan kegelapan. Karena untuk saat ini dia baru bisa menggunakan Teknik pertama.


“CIh, sial!”


Energi tebasan itu lebih kuat dari sebelumnya hingga Feny berdesis ketika menahan serangan itu. Asap berterbangan karena serangan milik Arthur, ketika asap itu menghilang terlihat Arthur yang sudah berada di depan Feny.


‘Sejak dia mengeluarkan tebasan hitam itu. Gerakannya menjadi lebih cepat. Sial! Sepertinya aku harus menggunakan ‘itu’’ 


Pikir Feny, tepat pada saat itu juga mata kanan Feny berubah warna menjadi oren menandakan sesuatu telah terjadi.