
Hari menjadi pagi hari, Arthur berada di depan pintu masuk rumah. Dia merasakan keraguan, apakah masuk ada pilihan baik atau tidak? Dia pada akhirnya keluar dari rumah tanpa mengatakan apapun entah apa yang akan dia dapatkan setelah bertemu Fiona.
Sebelumnya berkat kecepatan yang Arthur miliki dia berhasil kabur dari permintaan Liliana, tapi berkat itu juga dia terlambat pulang ke rumah. Sekarang masalah yang baru adalah bagaimana menjelaskan ini semua ke Fiona.
Beberapa hari sebelum pindah ke rumah ini, mereka berdua membuat janji. Jika ingin keluar dari rumah untuk waktu yang lama, maka setidaknya lakukan komunikasi, hal ini sengaja dilakukan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Dan sosok yang membuat ide tersebut tidak lain adalah Arthur sendiri. Ya akan aneh bila sosok yang membuat aturan justru melanggar.
Tapi memikirkan itu saja percuma jadi Arthur memutuskan untuk segera masuk ke rumah, masalah yang seperti itu pikir nanti saja.
Ketika dia berjalan menuju ruang tamu. Sosok yang dia lihat adalah Fiona yang tampak imut dengan pakaian akademi, dia terlihat bersiap-siap dengan kegiatan nanti.
Fiona melirik Arthur dan tepat pada saat itu, pelipis lelaki tersebut menjadi basah. Dia telah siap akan ceramah yang menanti, mengingat bagaimana sikapnya yang cerewet. Namun..
“Kamu sudah pulang? Cepat makan dan pergilah… ingat kali ini kamu wajib pergi bersamaku.”
Tidak ada tanda nada marah dari Fiona, meskipun terlihat sedikit malu tapi dia tampak tersenyum.
Menyadari hal tersebut Arthur menatap bingung. “Kamu tidak marah? Aku sudah membuat janji, kan? Jika kita keluar maka setidaknya aku harus berkomunikasi.”
“Umn.” Fiona menggelengkan kepala.
“… Awalnya aku mencarimu dan sedikit terkejut, tapi sebelumnya kamu memberikan selimut untukku dan itu h-hangat, jadi aku berterima kasih.”
“Dan ini adalah kamu. Aku percaya kamu tidak akan melakukan hal bodoh. Uh, kenapa kamu menatapku seperti itu?”
Arthur membisu karena mendengar perkataan yang bahkan tidak disangka oleh Fiona akan dikeluarkan begitu saja.
“Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir kamu lebih jujur dari biasanya.”
Merasakan pipi yang memanas Fiona menatap ke arah lain, jika diingat lagi dia juga terkejut bahwa akan mengatakan hal yang tampak memalukan seperti itu.
Awalnya Fiona tersenyum manis menahan rasa malu, tapi senyuman itu perlahan sedikit pudar. Dia sebisa mungkin tidak memikirkan hal tersebut tapi.
Malam hari seorang pria lajang pergi, dia punya firasat buruk..
“Omong-omong kamu tidak melakukan kontak apapun dengan wanita lain, kan?”
Memikirkan skenario terburuk Fiona mulai mengeluarkan senyuman, ya senyuman yang dapat menusuk tubuh Arthur bagaikan ratusan jarum.
“Hik!”
Akan menjadi kebohongan bila berkata ‘tidak’ karena pada kenyataanya. Dia sudah membuat seorang gadis bangsawan tertarik kepadanya bahkan meminta untuk menjadi pelayan khusus.
“Apa maksud dari tindakan terkejut itu? Jangan bilang kamu melakukannya..”
Agar tidak terjadi kesalahpahaman maka Arthur harus cepat menyelesaikan masalah ini. Dia dengan cepat menggelengkan kepala.
“Tidak seperti itu, Fiona.”
“Pembohong. Buktinya kamu terlihat tidak enak dengan topik ini.”
Nada yang Fiona keluarkan tampak sedikit kecewa, wajahnya juga sedikit suram meskipun Arthur sendiri tidak bisa melihat dengan jelas, karena Fiona memalingkan wajah. Tapi yang pasti ini mengganggu Arthur.
“Padahal kamu sudah punya ‘tunangan’ sepertiku, tapi beraninya kamu melakukan hal seperti itu..”
Mengatakan hal tersebut Fiona memasang wajah sedih, sebuah hal yang pertama kali dilihat Arthur.
Pada akhirnya Arthur mengalah karena tidak kuat melihat sosok Fiona yang tampak sedih tersebut. Dia mulai menjelaskan apa saja yang terjadi di malam hari kemarin.
“Baiklah, aku percaya dengan cerita itu… tapi apa jawabanmu?”
Setelah Arthur selesai menceritakan semua kejadian. Fiona kembali bertanya dengan wajah yang masih kecewa.
“Jawaban? Apa maksudnya?”
“… bodoh, tentu tentang gadis bernama Liliana itu. Apa kamu mau menjadi pelayan untuknya?”
Setelah selesai bertanya, Fiona menutup kedua bola matanya, dia takut akan jawaban yang akan diberikan oleh Arthur. Jantungnya tidak bisa berhenti berdetak, karena jika Arthur menjawab ‘ingin’ itu artinya dia sudah tidak bisa lagi bersama dengannya untuk waktu yang lama. Tapi jawaban dari Arthur sudah jelas.
"Tentu aku menolak, makannya aku kabur.”
Rasa senang meliputi hati Fiona, seolah sedang melakukan sebuah konteks dia merasakan sebuah kemenangan. Dia secara tidak sadar mengeluarkan senyuman terbaiknya.
Merasa sudah tenang dan percaya akan ucapan dari Arthur Fiona berdiri dari tempat duduk.
“Ayo pergi.” Dengan perasaan riang dia berkata.
...***...
Dalam perjalanan ke akademi, Fiona yang menggunakan seragam berjalan berdampingan dengan Arthur.
Seragam Akademi Reinhard adalah celana panjang dan Blazer berwarna putih dengan garis biru di kedua lengan, lalu di bagian dalam berupa baju berkerah berwarna hitam polos dengan dasi biru.
Seragam ini sewajarnya sama untuk semua murid termasuk Arthur, namun Fiona menambahkan jubah biru menutupi lengannya, menjulur hingga ke pinggang.
Tapi, apa yang paling membuat menarik darinya adalah... rok pendek yang dia kenakan. Dengan panjang selutut atau di bawahnya, dan melihatnya mengekspos pahanya seperti ini entah kenapa memberikan kesan manis yang berbeda darinya.
Dan saat Arthur memandang paha mulusnya, tiba-tiba tangan Fiona menghalangi.
"Bukankah kamu memandangku terlalu lama!?"
Dengan wajah merona dia meneriakkan hal tersebut.
Dalam kondisi ini secara alami Arthur menoleh. Dia tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya dan dilain sisi jika berkata "tidak" itu merupakan sebuah kebohongan besar.
"Katakanlah sesuatu!"
"... Mungkin kamu benar aku menatap terlalu lama."
Pada akhirnya Arthur memutuskan untuk mengalah dan jujur tidak ada alasan yang bagus untuk berbohong.
Fiona sudah mengira ini akan terjadi, namun dia tidak menyangka bahwa Arthur mengatakan hal tersebut secara jujur.
Hal ini membuat kedua pipinya dengan cepat memanas.
"D-dasar bodoh! Mesum!"
Dan seperti yang kalian bisa duga tindakan selanjutnya dari Fiona adalah tamparan penuh emosi.
...***...
Setelah berjalan sekitar setengah jam akhirnya Fiona dan Arthur sampai di Akademi Reinhard. Sebuah akademi yang gagah serta kuat tersebut.
Mereka sampai di depan gerbang utama akademi. Bahkan jika ini adalah kedua kalinya Arthur datang, dia masih tidak bisa terbiasa dengan akademi ini.
Namun meski begitu...
"....."
"....."
Karena kejadian sebelumnya Fiona menolak berbicara dengan Arthur.
"...Apakah kamu masih marah?" tanya Arthur dia sebisa mungkin ingin menghentikan situasi canggung ini.
Tapi...
"Humph!"
Seketika gadis itu menoleh ke arah lain dengan pipi yang mengembung, meskipun terlihat seperti itu dia justru tampak mengemaskan.
"Seperti yang kukatakan aku tidak punya niat buruk."
"Sungguh perkataan bodoh! Jika kamu seorang lelaki itu adalah kebohongan besar. Melihat rok pendek artinya kamu memiliki ketertarikan terhadap apa yang ada di dalamnya!"
Oke kali ini Arthur tidak bisa menyangkal. Tidak ada pria di dunia ini yang tidak tertarik akan hal semacam itu, apalagi jika orang itu adalah gadis mengemaskan seperti Fiona.
"Lihat kamu diam, kan? Itu artinya kamu tertarik!"
Arthur ingin sekali lagi menyangkal agar kesalahan pahaman ini berakhir, akan tetapi..
"Pagi-pagi gini kalian berisik!"
Terdengar suara seorang gadis yang bergema. Dari nadanya siapapun tahu bahwa orang tersebut merupakan sosok yang garang dan sebaiknya tidak dilawan.
Saat Arthur dan Fiona menoleh ke arah suara, terlihat seorang gadis berambut hitam yang panjang dan elegan dia tidak lain adalah Liliana Silveria.
Ini gawat!
"Hum... pria berambut putih dan mata merah?" dia bergumam dengan diri sendiri.
Seolah menyadari sesuatu dia membuka mata lebar.
"Kamu adalah orang yang kemarin malam kan!"