
Bulan sabit tampak menjadi sinar utama. Berapa mayat monster tingkat rendah seperti goblin dan lainnya Bergeletakan secara sembarangan. Darah segar membanjiri tanah, dan Arthur kini duduk di tumpukan mayat tersebut.
"Hah... hah... hah..."
Dia terlihat kelelahan dengan keringat yang berada di pelipisnya, Bagaimanapun dia tetap lah masih cukup lemah untuk melawan monster sendiri dengan jumlah yang banyak.
Selain itu, berkat penyakit umbral plague, dia tidak bisa dengan bebas menggunakan teknik pedang kegelapannya. Karena itu akan membuat hatinya dimakan kegelapan dan mempercepat infeksi Umbral.
Dengan kata lain dia tidak bisa bertarung dengan kondisi normal, dia harus bijak bila ingin menggunakan Teknik itu.
“Tampaknya hari ini cukup sampai di sini.”
Merasa telah melampui batasnya dan mulai kelelahan Arthur berdiri dan berjalan menjauh dari hutan monster.
Tujuannya sebelum pulang adalah mengunjungi
rumah makan untuk sedikit beristiharat di malam hari, dikarenakan melawan banyak monster dia kehilangan cukup banyak energi.
Dia tidak mau merepotkan Fiona yang kini pasti sedang tidur lelap jadi dia memilih ke rumah makan untuk beristiharat.
Ketika Arthur menginjakan kaki di salah satu distrik yang ramai dengan banyaknya orang yang saling berlalu Lalang, Arthur terfokus ke salah satu rumah makan yang terlihat simpel dan sederhana, perlahan dia masuk ke tempat tersebut.
“Selamat datang.”
Tepat setelah masuk, Arthur dengan cepat disambut hangat oleh wanita pelayan di sana, wanita tersebut memberikan senyuman ramah ke Arthur, meskipun itu hanyalah senyuman palsu yang sering digunakan untuk pelanggan.
“Apa anda ingin memesan sesuatu?” tanya pelayan tersebut.
“Apapun boleh…”
“Eee.. tuan kami butuh hidangan yang sedikit spesifik.”
Mendengar jawaban ambigu dari Arthur, gadis pelayan itu memiringkan kepala dan tersenyum kecut.
Sebenarnya makanan apapun tidak penting bagi Arthur karena pada akhirnya dia akan memakannya hingga habis, tapi tampaknya dia harus memberikan menu secara jelas.
“Kalau begitu aku ingin-“
Brak
Belum selesai menjawab, sebuah suara pukulan meja terdengar sangat keras hingga menyebabkan beberapa pelanggan lain terkejut dan menghentikan aktivitas makannya, begitu juga dengan Arthur dia menatap meja pojok yang menghasilkan kegaduhan.
Di meja tersebut terlihat gadis muda yang terlihat menawan dan elegan dengan rambut hitam yang Panjang, perawakan yang dia miliki mampu membuat para lelaki terpesona, dari pakaian siapapun tahu bahwa gadis tersebut merupakan bangsawan. Jujur saja dia sempurna dalam segala aspek, tapi sayangya sikap dia sedikit busuk.
“Apa-apaan ini!? Apa kamu serius ingin memberikan Nona Liliana Silveria makanan sampah seperti ini!?”
Alasan kenapa gadis bernama Silveria marah adalah karena makanan yang ia rasa tidak layak untuk dirinya yang seorang bangsawan, dia bahkan memecah piring yang berisi hidangan tersebut. Membuat makanan yang susah payah di masak menjadi kotoran yang menganggu lantai.
Pelayan yang sebelumnya berdiri serta tersenyum di depan Arthur kini menjadi sedikit gemetaran, mengingat dialah yang menciptakan hidangan tersebut. Dia pasti akan dimarahi habis-habisan, namun meskipun begitu dia memberanikan diri untuk berjalan ke arah Liliana.
“Mohon maaf sebesar-besarnya Nona Liliana Silveria, saya akan segera menggantikan makanan yang lebih layak,”
Gadis pelayan itu tampak sedikit menundukan kepala dengan rasa penuh penyesalan. Posisi yang dia lakukan terlihat cukup berwibawa dan elegan, dia sengaja melakukannya karena mengingat lawan bicaranya kini adalah seorang bangsawan, tapi sangat disayangkan..
“Maaf? Apa kamu menyuruh orang hebat sepertiku untuk meminta maaf!?”
Atas bentakan yang, ia terima. Gadis pelayan tersebut bergetar ketakutan, ia sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi tampaknya dia tidak bisa menenangkan Nona bangsawan yang kini memakinya.
"S-Saya tidak bermaksud begitu, Nona.”
Dia sekali lagi menundukan kepala dengan lebih turun, atas tindakan tersebut terdengar beberapa bisikan antara pelanggan dan kini dua orang tersebut menjadi pusat perhatian.
“Kalau begitu jilat sepatuku… untuk orang rendahan sepertimu maka itu adalah kehormatan.”
Dengan senyuman merendah gadis bernama Liliana tersebut berkata demikian, dia sangat suka untuk menginjak-injak harga diri orang lain.
‘Bukankah itu sudah keterlaluan?’
‘Ya, aku setuju.’
‘Apa tidak ada yang bisa menghentikannya?’
‘Tapi, Silveria itu bukannya merupakan bangsawan yang cukup tinggi?'
Melihat tindakan tersebut beberapa orang tampak berbisik dengan nada kecil, namun pendengaran Liliana cukup kuat, dia mampu mendengar ucapan semua orang disini.
“Apa kalian tidak suka akan perintahku? Kalau begitu gantikan posisi sampah ini!”
Liliana berkata dengan nada tegas yang mampu membuat siapapun yang mendengar terdiam, secara alami orang yang sebelumnya mendukung pelayan kini menundukan kepala tanda ketakutan, tentu siapapun tidak mau menjadi pengganti.
Alasannya adalah Liliana Silveria merupakan bangsawan yang terkenal sadis dan sangat tidak berperasaan, dia juga terkenal atas sikap yang merendahkan para rakyat jelata.
“Glek.”
Menelan ludah pelayan tersebut membulatkan tekad, dia perlahan berlutut dan ingin menjilat sepatu Liliana. Karena baginya rumah makan ini merupakan hal penting, membuang harga diri untuk rumah makan ini adalah hal yang kecil.
Tapi…
Tepat sebelum pelayan tersebut menjilat sepatu Liliana, seseorang menepuk pundaknya, dia merupakan lelaki dengan jubah coklat dan wajah yang tertutup oleh tudungya. Tetapi mata merah darahnya yang menyala memberikan kesan unik tersendiri. Dengan nada tenang dia berkata.
“Tidak perlu melakukan hal itu.”
Merasakan kehangatan dari ucapan sosok tersebut, pelayan itu menganggukan kepala dan perlahan air menetes di matanya. Dia sangat ketakutan, tapi berkat lelaki yang bahkan tidak dia kenal, pelayan itu terselamatkan dari reputasi harga dirinya.
“Apa yang kamu lakukan? Beraninya kamu!”
Meskipun tindakan lelaki berjubah coklat itu tampak mulia, Liliana menganggap bahwa dia hanyalah sosok pengganggu. Dia telah menghancurkan sesi menyenangkan baginya, tentu dia marah.
“Apakah kamu ingin berlagak menjadi pahlawan?”
“…..”
“Katakanlah sesuatu!”
Liliana murka karena sosok tersebut hanya diam saja, ini pertama kalinya dalam hidup dia diabaikan.
Swoosh
Mata tenang berwarna merah itu perlahan terbuka lebar, dia menyadari sesuatu datang. Dan benar saja dengan kecepatan luar biasa cepat, sebuah pisau tajam tampak menerjang Liliana yang masih berkomentar Panjang lebar dan marah.
Jika dia diam saja maka tidak diragukan lagi, sosok bernama Liliana mati. Oleh karena itu, dengan gerakan mantap Arthur melindunginya dan menebas pisau tersebut sehingga gagal mengenai wajahnya.
Pisau itu terbang ke atas untuk beberapa meter dan pada akhirnya jatuh di lantai serta menancap dengan rapi.
Arthur dengan cepat mencari sosok yang melakukan hal tersebut, dia mendapatkan siluet lelaki di kegelapan dan ketika dia ingin mengejar, siluet itu menghilang.
"Cih!"
Dia berdecak kesal atas gagalnya dalam melacak pelaku.
Ini tidak seperti Arthur ingin menyelamatkan gadis itu. Hanya saja apabila anggota bangsawan mati tepat di depannya, sosok Arthur yang dicurigai sebagai musuh tentu akan menjadi kerepotan, karena itulah dia menyelamatkannya.
Benar-benar tidak ada niat tulus dari tindakannya.
Tapi…
“Sudah kuputuskan, kamu jadilah pelayan yang melindungiku!”
Entah karena alasan apa, Liliana tampak salah paham. Dengan posisi sombong dan berdiri tegak dia mengacungkan jarinya ke arah Arthur. Senyuman lebar penuh kesombongan tergambar di wajah gadis tersebut.
Sedangkan itu Arthur tampak terkejut atas tindakan yang mendadak tersebut.
"Apa aku salah dengar?"
Untuk memastikannya, Arthur bertanya sekali lagi. Di memiringkan kepala dan tersenyum kecut, berharap barusan hanya salah dengar.
"Aku ingin kamu menjadi pelayan pribadiku!"
Tidak salah lagi, Arthur kini yakin seratus persen akan apa yang dia dengar. Dia perlahan menghela napas, memikirkan apa yang sebaiknya dilakukan.