Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 43. Permintaan



Keesokan harinya Arthur berada di depan pintu ruangan. Seperti yang diminta dalam surat, dia datang ke sini.


Tentu dia merasa sangat waspada maka dari itu dia membawa sebilah pedang di pundaknya. Dia mengatur napas sebelum membuka pintu, kemudian saat merasa telah tenang. Dia dengan lembut membuka pintu.


Melihat suasana ruangan, Arthur membuka mata lebar. Hampir tidak ada orang disini kecuali seorang gadis cantik, Berambut coklat yang mengalir indah sejauh bahu, memantulkan cahaya keemasan dari sinar matahari yang bersinar. Matanya berkilauan dengan kehangatan, seolah mencerminkan jiwa yang ceria dan penuh kebaikan.


Gadis itu duduk dengan anggun di kursi sofa yang dilapisi dengan kain empuk, menikmati kehangatan cangkir kopi di tangannya. Tatapannya terfokus pada halaman buku yang dipegangnya, di mana dunia luar seakan menghilang dan hanya cerita-cerita dari halaman itu yang menjadi dunianya. Dia adalah Olivia Charlotte.


Menyadari keberadaan dari Arthur, Olivia meletakan buku yang dia baca. Dengan mata mempesona dan aura yang tenang dia berkata,


“Duduklah…”


Suara tenangnya sangat merdu, dapat menangkan siapapun yang mendengarnya.


Arthur tidak merasakan niat bertarung dari gadis ini, jadi dia memutuskan mengikuti yang diminta dan duduk berhadapan dengannya.


Keheningan mengelilingi mereka untuk beberapa saat. Perlahan mata milik Olivia yang tertutup menjadi terbuka, menampilkan kelopak mata lebar yang sangat indah dengan warna kecoklatan, seperti sihir Arthur tidak dapat mengalihkan pandangan dari mata itu.


“Jadi apa yang kalian inginkan dariku?”


Perkataan tidak sabaran dari Arthur, berhasil membuat Olivia mengangkat bibir, memancarkan sebuah senyuman yang penuh akan kebaikan dan kehangatan.


“Jangan terlalu kaku seperti itu, mari kita nikmati suasana hari ini dengan secangkir kopi hangat.”


Dia tidak serius akan jawabannya, meskipun begitu, Olivia bersenandung dan tersenyum sambil menyeduhkan kopi hangat ke arah Arthur.


“Silahkan.”


Dia sangat ramah, jadi Arthur tidak dapat menolaknya begitu saja.


Arthur meminum kopi tersebut dengan perlahan, dia merasakan sebuah kehangatan dan rasa tenang ketika meminumnya.


“Aku harap kamu menyukainya~"


Olivia masih memasang senyuman ramahnya. Dia tidak terlihat memiliki niat jahat sama sekali, Arthur sangat tahu. Tapi entah kenapa, dia merasakan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di balik sisi ramah dan tenang dari gadis tersebut.


Pintu sekali lagi terbuka, menampilkan beberapa orang. Mulai dari pria berambut pirang, wanita berambut putih dan satu lagi wanita yang tampak dewasa dengan kacamatanya. Mereka merupakan Rei, Elisa, dan Maria. Kini semua The watchers telah berkumpul.


“Ho~ tidak kusangka domba satu ini masih berani berkeliaran di sini, apa maumu?” tanya Rei dengan senyuman angkuh seperti biasanya.


“Dasar bodoh! aku yang mengundangnya kemarin. Apakah kamu tidak mendengar apa yang kukatakan?” Maria berteriak, dia menyibakkan rambutnya dengan posisi angkuh.


“Percuma berbicara dengan dia, Maria.” Dengan senyuman mengejek Elisa berkata.


Seperti panah, ucapan tersebut menusuk hati Rei, membuat dia terjatuh dengan posisi menyedihkan. Sedangkan itu, Arthur hanya kebingungan bagaimana mengatasi situasi ini.


Ada satu hal yang pasti, yaitu bertarung…


Yap dia tidak akan mau dibodohi. Pasti pada akhirnya dia akan diperlakukan sama dengan orang lain, maka untuk bertahan hidup dia harus melawan, apalagi kini semua The watchers muncul. Tidak ada alasan untuk bersikap lunak.


Menatap Rei yang masih memasang wajah menyedihkan. Arthur perlahan memiliki niat jahat, dia menarik pedang dari pundaknya. Ingin memulai pertarungan.


Tepat ketika dia melakukan hal tersebut, tiba-tiba tubuhnya menjadi gemetaran. Dia dapat merasakan aura mematikan yang memancar dengan cara tidak normal. Dan tekanan ini berasal dari gadis yang sebelumnya penuh keramahan dan senyuman- Olivia Charlotte.


Tubuh Arthur masih gemetaran seperti merasakan sensasi tubuh yang ditusuk oleh ribuan pedang secara bersamaan. Meskipun begitu, perlahan dia melirik ke arah olivia yang masih membentuk senyuman.


Akan tetapi, dengan tekanan sekuat ini, senyuman milik Olivia justru terlihat mengintimidasi.


“Kembalikan pedangmu ke posisi awal, Arthur Midnight. Kami tidak mengundangmu untuk bertarung.”


“Dan juga aku tidak akan memaafkan siapapun yang berani menunjukan taring ke tuanku- Rei!”


Mempertegas perkataan terakhir. Aura yang dipancarkan makin mengerikan, hingga membuat Arthur menundukan kepala, dia secara alami mengembalikan pedang ke pundaknya.


Dan dengan tindakan tersebut aura berat yang dipancarkan tersebut memudar, melupakan apa yang baru saja terjadi Olivia membentuk senyuman hangat.


“Itulah yang aku mau, terima kasih atas pengertiannya.”


Arthur hanya terdiam. Siapapun tentu akan mengalami hal yang sama jika merasakan tekanan tersebut.


“Wah olivia kamu melakukannya lagi,” ucap Maria.


“Dia pasti akan sangat marah jika ada yang berani menantang, Rei. Ya karena itu juga yang membuat sosok Rei tidak pernah menyelesaikan masalah secara langsung. Ini karena dia punya tangan kanan, yang sangat berguna.” Elisa menjelaskan sembari membenarkan posisi kacamatanya.


“Maaf, habisnya aku juga tidak bisa menahan diri apabila ada orang yang bertingkah tidak sopan di depan Tuan Muda Rei!”


Mendengar ucapan tegas dari olivia membuat Rei mengangkat tubuh dan mengeluarkan senyuman kecut.


“Anu… olivia bisa berhenti memanggil dengan sebutan ‘Tuan Muda’?”


“Aku menolak. Bagiku anda adalah Tuan Muda, seumur hidup.”


Klark


Pintu terbuka untuk kesekian kalinya. Sosok gadis cantik membukanya, rambut pirang yang seperti benang cahaya mengalir lembut hingga pundaknya kini bergoyang bergoyang. Dia tidak lain adalah Fiona.


“F-fiona apa yang kamu lakukan di sini!?”


Reaksi terkejut Arthur dibalas dengan hal yang sama. Fiona sendiri justru terkejut akan kedatangan dari Arthur.


Menyadari kebingungan keduanya, Olivia tertawa dengan sangat lembut. Saat ini dia terlihat sangatlah indah. “Biar saya jelaskan.. Kami mengundang, Fiona Rosemary dan Arthur Midnight ke sini secara bersamaan."


“Karena dua orang sudah datang tampaknya ini waktu yang tepat untuk memulai pembicaraan. Tapi sebelum itu, Nona Fiona silahkan duduk.”


Akhirnya Rei memulai pembicaraan, dia tampak bersikap lebih ramah.


Fiona menatap Rei dengan dingin. Dia tentu tidak melupakan tingkah seenaknya dalam duel.


Oleh karena itu, Fiona berjalan dengan tatapan dingin dan duduk di samping Arthur.


Menyadari akan tindakan dingin dari Fiona, Rei hanya bisa menghela napas. ‘Apa dia membenciku?’


“Baiklah. Akan saya mulai intinya, Arthur Midnight dan Nona Rosemary. Kami membutuhkan bantuan anda untuk mencari dalang dari pembunuhan Liliana Silveria.” Menundukan kepala, olivia memohon.


Tapi…


“Aku tolak! Sebelumnya kalian menuduh Arthur dan kini meminta untuk membantu!? Kurang ajar juga ada batasnya!”


Fiona menolak dengan sangat tegas. Hal ini tentu berlaku untuk Arthur, dia tidak sebodoh itu hingga mau mengikuti keinginan dari orang asing seperti The Watchers, apalagi sebelumnya mereka pernah ingin membunuhnya.


“Permintaan? Jangan salah paham!”


Maria Nightray, gadis itu tampak menekan perkataan dengan nada tinggi dan aura dingin.


Tidak mau kalah Elisa Isabela melakukan hal yang sama. “Ini adalah perintah!”


Merasakan aura yang mencengkam. Arthur berdiri dari tempat duduknya dan memegang pedang. Bersiap dari segala hal yang akan terjadi.


“Cukup!” Di Tengah ketegangan, Rei berteriak. Mampun membuat dua temannya berhenti memancarkan auranya dan Arthur sendiri mengembalikan pedang ke pundaknya.


Sosok Rei yang biasanya angkuh kini terlihat menundukan kepalanya.


“Aku tahu ini terdengar menjijikan, tapi kumohon setidaknya dengarkan sampai selesai! Pembunuhan ini adalah hal serius, karena sang pelaku mengincar tujuh potongan tubuh raja iblis!”


Mendengar hal tersebut semua orang terkejut, terlebih Arthur. Dia tidak bisa menahan rasa kagetnya. Sebagai pewaris dia wajib untuk mengamankan dan jika kondisi memburuk, mereka diizinkan untuk menghancurkan tujuh potongan tersebut.


Karena itu, penawaran ini tidaklah buruk..


“Jadi begitu, oleh karena itu sang pelaku mengincar keluarga Silveria.” Mendecakan lidah, Fiona berkata demikian.


“Hah? Apa maksudnya? Apa keluarga Silveria memiliki hubungan dengan itu?”


“Kamu benar. Omong-omong kamu tahu alasan kenapa keluarga Silveria dibilang keluarga yang cukup terhormat?” tanya Fiona.


Sesuai dugaan Arthur tidak mengetahui jawaban, dia menggelengkan kepala.


Melihat betapa dungunya Arthur, membuat gadis tersebut memijat pelipis dan menghela napas. Harusnya ini adalah hal umum di kerajaannya.


“Dengar alasan kenapa keluarga Silveria terkenal adalah karena mereka memiliki satu potongan dari total tujuh potongan.. Potongan tersebut terus dijaga hingga turun temurun dan pasti pelaku mengincarnya.:


Memberikan jawaban, Fiona berkata dengan sangat yakin.


“Itu benar, Nona Fiona. Oleh karena itulah kami meminta bantuan anda yang katanya dapat mendeteksi ketujuh potongan tersebut dan karena anda cukup dekat dengan Arthur, kalian pasti akan menjadi tim yang bagus. Jadi aku pikir ini adalah duet yang tepat, untuk membuat nama baik kalian menjadi lebih harum.”


Mengatakan hal tersebut, Rei berjongkok dengan pandangan terfokus ke lantai, menunjukan rasa hormat.


Mengabaikan ini sama saja membuat dunia cepat hancur. Karena jiwa raja iblis telah bangkit tinggal menunggu waktu untuk tujuh potongan itu terkumpul di tangan raja iblis. Maka dari itu, Arthur harus menghancurkan tujuh potongan itu secepatnya.


“Jadi apa jawaban kalian?”


Rei bertanya dengan menunjukan rasa hormat untuk kesekian kalinya.