
Seisi kerajaan terkejut akan perkataan dari Arthur, baik Paladin dan para perajurit, terutama sang Raja.
Mata dan wajahnya telah menjadi merah karena menahan amarah, selain itu urat nadi terlihat jelas di wajah pria tua tersebut.
Dia pasti sangat marah karena rencana untuk membunuh Arthur tidak berjalan, dia berfikir bahwa Arthur adalah anak nakal yang keluar dari Kerajaan.
Jadi dia kira Arthur akan mengambil harta atau semacamnya dengan begitu Raja bisa membunuhnya setelah dia menentukan harta.
Tapi, sungguh diluar dugaan Arthur justru memilih Fiona sebagai hadiah daripada yang lain, jika mereka serius menjadi tunangan maka artinya Arthur menjadi calon raja berikutnya dan dia tidak akan bisa terbunuh.
Lagipula Fiona, putri tercintanya pasti tidak akan diam saja, namun ini semua tentu tergantung jawaban dari Fiona sendiri.
Raja tersenyum mengetahui fakta ini.
Itu benar semua tergantung dengan Fiona, jika dia menolak mata artinya aku masih memiliki kesempatan untuk membunuh warga Midnight..
Aku tidak akan pernah memaafkan keluarga mereka, atas nama Rosemary dia harus mati..
Sang Raja tampak memiliki kebencian yang mendalam akan keluarga Midnight, ini merupakan hal wajar mengingat pada dasarnya keluarga mereka saling membenci sejak lama.
Karena itu juga sang Raja Ingin membunuh Arthur, tapi respon dari putrinya sedikit membuat kecewa.
"A- a- itu..."
Dia tampak berusaha mengatakan sesuatu tapi karena rasa malu yang luar biasa, ucapan tidak keluar satu patah pun. Bahkan tubuhnya terus gemetaran dan memerah hingga memunculkan asap di atas kepalanya.
Dia sangat terkejut akan perkataan mendadak dari Arthur dan tentunya dia pasti salah paham.
"Bajingan! Beraninya kamu menginginkan putri!"
Paladin itu berdesis marah dan mengangkat pedangnya dari pundak, dia merasakan amarah yang luar biasa atas perkataan dari Arthur.
Dengan gerakan yang telah siap, Paladin itu hendak menyerang Arthur, mau melakukan eksekusi secepatnya. Arthur pun hampir sama dia mulai memegang pedang di bahunya, bersiap akan serangan yang akan datang.
Saat mereka sama-sama memancarkan aura pertarungan san Raja berteriak.
"Berhenti dengan pertengkaran ini!"
Ucapan itu berhasil membuat Paladin berambut pirang itu berhenti melangkah, dia pada dasarnya adalah pelayanan untuk kerajaan ini tentu dia tidak bisa bertindak seenaknya.
Sedangkan Arthur sedikit terkejut, dia tidak mengira sang Raja malah menghentikannya.
Apa yang sebenarnya diinginkan pak tua itu? Jika ingin membunuhku tadi adalah kesempatan yang bagus...
Jika saja Raja tidak menghentikan Paladin besar kemungkinan Arthur sudah mati sekarang. Dia tidak sekuat Shutaru yang mengendalikan tubuhnya, dia bahkan baru bisa menggunakan satu teknik dari total tujuh teknik.
Kemungkinan menang adalah nol persen.
"Sebenarnya apa yang hendak kamu rencanakan untuk anakku!? Kenapa kamu memilih dia sebagai hadiah."
Ini adalah kesempatan bagus jika Arthur jujur kemungkinan besar dia akan diampuni dan semua berjalan lancar.
"Aku ingin keluarga Midnight dan Rosemary kembali bersatu!"
Seperti sebuah keajaiban perkataan tersebut membuat semua orang mentap terkejut. Perdamaian antara dua kerjaan, ucapan yang terlalu idealisme.
"Ingin damai? Jangan bercanda! Keluarga kalian membunuh Raja pertama— Jack Rosemary atas tuduhan Sablier yang hancur. Bahkan tanpa bukti yang jelas, dan kamu ingin kami berdamai!?"
Kejadian seperti Sablier dan pembunuhan semua adalah salah Elli, dialah penyebab segala kesalahan pahaman itu.
"Kejadian itu adalah kesalahan pahaman... Dan aku ingin membenarkan kesalahan pahaman itu."
"Kesalahan pahaman? Apa maksudnya itu!?"
"Untuk sekarang aku belum bisa menjelaskan seratus persen. Tapi percayalah jika Anda menerima penawaran ini pasti kedepannya keluarga kami akan menjadi bersatu tanpa adanya konflik."
Arthur belum bisa mengatakan segalanya tentang Elli, kebangkitan raja iblis, kenyataan Sablier, asal penyakit Umbral Plague, dan misi sebagai pewaris untuk menghancurkan tujuh fragmen tubuh raja iblis.
Jika dia menceritakan segalanya pasti dunia akan terkejut.
Menyembunyikan segalanya juga adalah tugas sebagai pewaris ke delapan.
Raja memegang dagunya berusaha berpikir dan mencerna segala hal yang dikatakan oleh Arthur dan pada akhirnya memutuskan pendapat.
"Baiklah, aku sudah mengatakan untuk memberikan apapun jadi aku tidak punya hak untuk membantah."
Meskipun terlihat seperti itu Raja tetap Raja dia masih punya harga diri, terutama untuk hal seperti janji.
"A- a- aku dan dia a- akan menjadi tu- tunangan?"
Tampaknya Fiona masih belum bisa menerima kenyataan, dia gemetaran dan berkomat-kamit.
"Ini tidak seperti..."
Fiona melirik ke arah Arthur dan dengan cepat memerah, matanya berputar dengan cepat dan detak jantung berdebar.
"I- i- itu... Aku..."
Sebelum bisa menjawab Fiona menjadi konslet, kepalanya beruap dan dia pingsan.
Dia sewajarnya hampir tidak pernah berkomunikasi dengan banyak orang dan kini menjadi tunangan untuk orang yang baru dia temui, tentu hal ini menyebabkan pikiran gadis tersebut konslet.
"Oi, Fiona!"
"Nona!"
Arthur dan paladin tersebut berteriak dengan kompak, tampaknya mereka tidak menyangka akan kejadian yang akan terjadi.
Sedangkan hal itu wajah penuh sinis dari Raja sedikit mengangkat bibirnya.
Arthur Midnight, ya? Ini tidak seperti aku mempercayainya, namun aku harap dia berhasil mengisi lubang di hati putriku..
"Oi, bertahanlah Fiona!"
Arthur menggoyangkan tubub gadis tersebut yang pingsan, dia menjadi sangat panik.
Raja berdiri dari singasananya dan berjalan ke arah Arthur.
"Bawa dia ke kamar."
Arthur hanya menganggukkan kepala dan menggendong gadis tersebut di pundaknya.
...***...
Di ruangan yang luas dan memiliki kesan mewah, Fiona tertidur lelap di kasur yang lebar serta putih sedangkan Arthur duduk di dekatnya mengamati keadaannya.
Tunggu sebentar jadi tempat ku istirahat adalah kamarnya Fiona..
Tepat seperti yang Arthur pikirkan, kamar Fioana adalah tempat di mana dia beristirahat sebelumnya.
"Apakah dia belum bangun?"
Raja membuka pintu kamar, tapi kali ini dia terlihat memakai baju normal.
"Ya, dia tampaknya sangat terkejut akan perkataanku... setelah ini aku harus meminta maaf."
"Itu tidak perlu!"
Arthur membuka mata lebar, dia menatap sang raja yang kini berdiri di sampingnya.
"Apa maksudnya?"
"Asal kamu tahu Fiona adalah orang yang hampir sama denganmu... dia tidak terlalu punya banyak orang yang mau menerima dia. Ini karena Fiona sendiri selalu menjadi pusat incaran penjahat."
"Anak-anak ketakutan apabila bersama dengan Fiona, katanya dia adalah anak pembawa bencana, jika ada yang mendekati dia maka orang tersebut akan menerima ketidak beruntungan."
Ini sangat mirip dengan yang dialami Arthur, maka dari itu dia mengigit bibir dan menatap Fiona dengan wajah penuh penyesalan.
Dia tidak pernah berfikir bahwa putri ketiga dari Rosemary bernasib sama seperti dia walaupun tidak separah dengan Arthur.
Setidaknya Fiona masih punya tempat untuk istirahat sedangkan Arthur jalankan tempat istirahat bahkan orang yang mau menerimanya hampir tidak ada.
"Jadi begitu Fiona pasti mengalami hal sulit," ucap Arthur.
"Ya, karena itulah aku sedikit berharap semoga kamu bisa mengisi hati yang kosong. Walaupun aku tidak percaya denganmu."
Hening. Setelah Raja mengatakan hal tersebut, suasana menjadi hening hingga akhirnya Arthur membuka mulut.
"Apa kekuatan Fiona? Kenapa dia sampai diincar oleh Vidice?"
Ini adalah hal paling mengganjal bagi Arthur karena itulah dia menanyakan hal tersebut.
Raja terdiam terdapat keraguan untuk beberapa detik, namun akhirnya dia memutuskan untuk menjawab.
"Apa kamu tahu tujuh fragmen raja iblis?"
Arthur membuka mata lebar, dia tentu tahu akan hal tersebut karena misinya sendiri adalah menghancurkan tujuh fragmen tersebut.
Jangan bilang kemampuan Fiona berkaitan dengan itu...