Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 30. Putri pembawa ketidak beruntungan



Jangan bilang kemampuan Fiona berkaitan dengan itu..


Kemungkinan besar pemikiran Arthur adalah kenyataan, tapi sebisa mungkin dia ingin membuang pikiran seperti itu jauh-jauh, namun jawaban dari raja membuatnya kecewa.


“Kemampuan Fiona adalah untuk mendeteksi tujuh potongan tersebut, karena itulah dia diincar oleh Vindice selain karena kemampuan yang dianggap bahaya mereka juga ingin memanfaatkan kemampuan itu. Dan karena itulah Fiona dijauhi oleh banyak orang. 'Putri gagal' 'pembawa ketidak beruntungan' itulah julukan dia."


"Padahal faktanya dia sendiri belum seratus persen membangkitkan kemampuan tersebut."


"Apakah anda tidak berusaha melakukan sesuatu akan hal itu?"


Arthur menggenggam kedua tangannya dengan erat, berdasarkan cerita dari raja dia mengetahui bahwa Fiona adalah orang yang akan sering ditindas karena perbedaan.


Sama dengan dirinya di kehidupan sebelumnya, kedua orang tua dia tahu fakta bahwa Ayato, atau sekarang Arthur dikucilkan. Tapi tidak ada tindakan dari mereka.


Hal inilah yang membuat Arthur menjadi sensitif, jika membahas topik penjauhan dan penindasan.


"Tentu saja sebagai orang tua aku khawatir!"


Suara yang biasanya elegan serta penuh kehormatan kini berubah menjadi luapan emosi, pada dasarnya dia tetaplah orang tua, wajar memiliki perasaan seperti khawatir kepada seorang anak, hanya saja sikap yang sangat memerankan raja dan kini berubah membuat Arthur terkejut.


"Aku ingin sekali melakukan sesuatu, tapi percuma! Bukannya membaik Fiona pasti akan lebih dijauhi. Mereka pasti akan merasakan perbedaan sosial yang amat berbeda, mereka mulai takut untuk mendekati Fiona yang notabenenya putri raja."


"Selain itu sebuah kenyataan bahwa Fiona tidak membawa keberuntungan, dulu pernah saat dia berusia empat belas tahun kerajaan ini diserang, banyak orang mati, beruntung kami berhasil melakukan sesuatu akan hal itu! Tapi,mendengar kabar bahwa target dari penyerangan adalah Fiona. Respon para warga tentang Fiona menjadi makin buruk, dia makin dijauhi."


"Tidak ada orang bodoh yang mau menerima seseorang yang kelak akan mengundang musuh serta kehancuran. Itulah kenyataan! Dan Fiona, anakku mengalami hal itu."


Sang raja mengutarakan semua perasaan emosi dalam satu kalimat, tentunya dia sendiri tidak memiliki niat untuk melakukan hal tersebut. Hanya saja mendengar pertanyaan dari Arthur membuat sang raja menjadi naik darah.


Mendengar semua keluh kesah dari raja memberikan kepuasan pribadi bagi Arthur, setidaknya orang tua dia peduli. Hal ini membuat Arthur tersenyum lega.


"Kamu memiliki orang tua yang baik, Fiona," gumamnya sembari menatap Fiona yang tertidur.


"... Sejujurnya ini pertama kali bagiku melihat seseorang yang mau mendekati Fiona, apakah kamu tidak takut? Vindice, organisasi di kerajaan spriggan yang terkenal mengincar dia, apa kamu tidak takut?"


"Tidak sama sekali… asal anda tahu? Putri anda sebelumnya mengatakan seperti ini 'aku akan bersedia menjadi tempatmu', Fiona sendiri adalah gadis yang sangat baik."


Raja tersenyum meskipun masih ada kebencian di hatinya karena remaja yang ada di hadapannya adalah musuh, tapi raja sebisa mungkin merubah pikiran tersebut.


Lagipula dia adalah tunangan anaknya…


"Tidak! Aku belum mengakuinya!"


Pundak Arthur melompat, dia menatap raja yang mengeluarkan aura membunuh dengan wajah pucat.


"A-apa yang anda maksud?"


"Ini tentang keinginanmu untuk 'bertunangan dengan dia! Ini hanya sedikit mengecek, jangan bilang kamu memiliki motif tersembunyi?" tanya sang raja dengan tatapan dan suara yang dingin.


Akan jadi munafik jika mengatakan tidak, setelah mendengar bahwa Fiona dapat melihat serta mendeteksi tujuh fragmen potongan raja iblis tentu dia makin tertarik dengan Fiona.


Tapi, sebelum itu juga Arthur sudah tertarik dengan keberadaan gadis bernama Fiona rosemary.


"Sejujurnya aku hanya tidak ingin terbunuh maka dari itu aku memilih 'tunangan' sebagai hadiah. Tapi fakta bahwa aku… tertarik dengan dia adalah k-kenyataan."


Raja memegang dagunya memikirkan sesuatu, melupakan kalimat terakhir. Arthur dapat menyadari rencana liciknya, jika saja Arthur tidak memilih Fiona sebagai tunangan maka sekarang dia sudah mati.


"Hah~ untuk sekarang aku serahkan dia padamu. Aku tidak seratus persen percaya, jika saja terjadi sesuatu ke Fiona maka kamu akan mati."


Dia hendak keluar dari kamar saat memegang ganggam pintu dia seperti teringat sesuatu.


"Ah, aku lupa. Arthur karena kamu akan berada di sini untuk waktu yang lama maka kamu wajib masuk akademi yang sama dengan Fiona anggap saja sambil melindungi dia."


Brak


Raja menutup pintu dan pergi setelah selesai berkata.


Arthur menghela napas, akademi dan sekolah tentu dia sangat benci dengan hal tersebut.


"Akademi ya? Aku punya kenangan buruk di sana," gumamnya.


Terlarut akan pikiran tersebut pandangan Arthur tertuju ke gadis yang sedang tertidur lelap di depannya.


Dia tampak damai dan tenang setelah berjuang keras dalam kehidupannya. Percikan cahaya yang lembut menutupi tubuhnya, menciptakan nuansa yang romantis. 


Arthur yang mengawasi tidur gadis cantik itu, tidak dapat menolak godaan untuk menatapnya lebih lama lagi.


Jika dilihat seperti ini dia cukup imut, walaupun sikapnya tidak bisa jujur..


Arthur menatap lebih dekat gadis cantik yang sedang tertidur lelap tersebut. Dia tampak lebih indah dari biasanya, dengan rambut pirang bersinar yang terurai dalam tidur. 


Arthur tersenyum dan mengawasi tidurnya dengan perhatian yang penuh. Dia menikmati pemandangan gadis cantik yang tidur dengan damai dan menyenangkan itu. 


Terlarut akan keindahan yang ia lihat. Fiona sedikit demi sedikit membuka mata, dia menguap dan mengucek matanya.


Ketika mata birunya terbuka lebar pemandangan pertama yang dia lihat adalah Arthur- remaja yang terlihat jelas mengawasi tidurnya.


Dia dengan cepat dapat merasakan pipinya mulai memanas hingga sekujur tubuh, dia baru saja menyadari bahwasanya Arthur menatap dirinya yang sedang tertidur lelap.


"A-apa kamu melihat aku yang tertidur?"


"Ya, seperti itulah," jawabnya dan menganggukkan kepala.


Semakin merasakan rasa malu yang luar biasa, dia menutupi semua wajah dengan kedua tangannya.


"Jangan pernah melakukan itu lagi! Memalukan."


Seperti biasa respon dari Fiona tidak pernah mengecewakannya, entah kenapa dia baru saja bertemu Fiona beberapa hari saja. Tapi dia dapat merasakan sesuatu yang hangat ketika bersamanya.


...***...


Di mansion yang sebelumnya pernah Arthur masuki. Terlihat sosok pria dengan rambut hitam serta memiliki mata merah berjalan ke lorong bawah tanah atau lebih tepatnya menuju penjara.


Dia memiliki aura tenang, elegan serta menghanyutkan dan yang paling penting mata merah miliknya sangatlah terlihat dingin.


Langkah pria tersebut berhenti. Dia melihat mayat dari seorang gadis, kepalanya terlihat terputus. 


Darah berceceran di mana-mana, dan tempat penjara tersebut terlihat berantakan tanda bahwa terjadi pertarungan besar di sana.


Mata merahnya menoleh ke kanan mencari seorang tahanan, tapi tidak ada.


Dia menghela napas.


Lagi-lagi gadis itu berhasil kabur..


Dia melangkah lebih dekat menatap dingin mayat gadis tersebut.


Tidak kusangka Feny bisa kalah, aku sudah memberikan phantom eye..


Tapi dia tetap kalah..


Pria itu menutup matanya, mencoba merasakan sesuatu di sekelilingnya. Selesai dengan aktivitasnya dia tersenyum.


Dia dapat merasakan energi yang paling dikenal di sisa pertarungan, dia sangat yakin bahwa ini adalah.


Shutaru, ya? Jadi pewaris kedelapan telah muncul..


Tidak heran Feny bisa kalah..


Ini semakin menarik..


Pria itu tersenyum lantas membalikkan badan, berjalan menjauh entah kemana.


...----------------...


Ilustrasi pria itu (????)


next villain