Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 37



Kini keheningan terjadi di gerbang akademi semua berkat kedatangan sosok gadis perempuan bernama Liliana Silveria. Dia membuat situasi antara Arthur dan Fiona menjadi makin berat.


“A-apa yang dimaksud kemarin malam!?”


Tentu Fiona yang masih dalam kondisi marah menjadi terkejut bukan main karena mendengar hal tersebut, kedatangan Liliana sangat tidak tepat pada waktunya.


“Tunggu bisa kamu jelaskan bagaimana yang terjadi!”


Menarik lengan baju Arthur, Liana bertanya. Dia tampak sangat shock karena Arthur mengenal gadis cantik seperti Liliana apalagi di malam hari. Ini tentu membuat pikiran Fiona mengarah ke hal negatif.


Tapi kondisi asli tidak seperti yang gadis itu pikirkan..


“seperti yang kuminta pada malam hari. Aku memintamu untuk menjadi pelayan!”


Dengan menyilangkan kedua lengan ke dadanya, dia membuat pose sombong yang menggambarkan dia merupakan orang yang patut dihormati.


Meskipun begitu jawaban Arthur sudah sangat jelas. Jujur dia tidak ingin mengatakannya dengan langsung, tapi mengingat akan percuma untuk kabur maka tidak ada pilihan lain.


“Maaf tapi kutolak!”


Ini merupakan hal yang diluar dugaan bagi seorang bangsawan sepertinya ditolak secara terang-terangan, mengingat bahwa seharusnya menerima tawaran seperti ini adalah hal yang seharusnya menjadi kebangaan kebanyakan orang.


Tapi, Arthur justru menolak dengan cepat. Hal ini membuat Liliana kesal namun disisi lain membuatnya menjadi semakin tertarik dengan sosok Arthur.


“Aku harap kamu tidak salah paham. Ini adalah perintah hal seperti keinginanmu tidak penting! Orang rendahan harus patuh kepada orang lebih berkuasa!”


Berkat ucapan dari Liliana Arthur menyadari satu hal. Liliana adalah seorang bangsawan yang sangat angkuh, jika mengingat kembali, dia bahkan menyuruh seorang pelayan menjilat sepatunya dan bukan hanya itu. Dari sikap dan segala nya Arthur tahu satu hal.


Jika dia ikut menjadi pelayannya, maka hanya ada penderitaan. Dia yakin seratus persen jika dia akan menjadi orang yang dimanfaatkan.


Arthur sudah hidup cukup lama, baik di kehidupan sebelumnya dan sekarang. Jadi dia pintar membedakan orang baik dan tidak.


Dan sejujurnya dia kecewa. Dia berharap jika sosok Liliana akan seperti Fiona yang tidak bisa jujur. Tapi berkat ucapan terakhir serta ekspresinya. Arthur bisa mengatakan dengan jelas.


Dia berbeda dengan Fiona.


Dengan pikiran tersebut Arthur menggigit bibir dan mengepalkan tangan. Menganggap seolah Liliana hanyalah udara yang lewat, dia mengabaikannya serta pergi begitu saja.


Fiona yang melihat sikap dari Arthur hanya bisa bingung. Dia mengerutkan kening dan menatap pundak Arthur, namun pada akhirnya, dia berjalan mengikutinya.


“Tunggu berani sekali kamu mengabaikanku! Aku benar-benar butuh perlindungan.”


Fiona menghentikan langkah dan menatap ke belakang dengan tatapan serius.


“Apa kamu serius mengabaikannya?” tanya Fiona ke arah Arthur.


Arthur tidak menanggapi, bahkan menoleh pun tidak. Dia benar-benar tidak peduli akan nasib gadis tersebut.


Arthur dan Fiona kini menghilang di kerumunan murid. Kini hanya ada Liliana di gerbang akademi.


Dia berdecak, merasa sangat terhina karena sikap dari Arthur. Dia serius atas perkataan bahwa dia butuh perlindungan, karena pada dasarnya seseorang


“Sekarang apa yang harus kulakukan?”


Menggertakan gigi, Liliana membuat ekspresi marah yang dapat membuat siapapun menjadi ketakutan. Bahkan beberapa murid yang ingin masuk sedikit gugup dan berjalan menunduk karena ketakutan.


 


***


Di kelas F seperti biasanya semua sangat hening. Hampir tidak ada satupun komunikasi yang terjadi di situ.


Memang keberadaan Arthur yang merupakan musuh kerajaan menarik perhatian dan banyak orang di kelas menjadi benci kepadanya, tapi berkat kejadian beberapa hari yang lalu. Sebisa mungkin hal seperti pertengkaran tidak terjadi.


Terutama Max, dia sudah berusaha sebisa mungkin tidak membuat masalah walaupun terlihat jelas bahwa ada ekspresi tidak mengenakan ketika dia menatap Arthur.


Sebuah hentakan kaki bergema dengan suara yang keras di lorong. Terlihat banyak murid berlari-lari dan berkumpulan di satu titik, yaitu toilet perempuan yang terletak tidak jauh di kelas F.


Beberapa suara, bisikan dan teriakan keterkejutan terdengar dengan jelas. Suasana hening di kelas F kini menjadi berisik berkat suara di luar tersebut.


Menyadari kebisingan yang mengganggu, Max memukul meja dan berkata dengan lantang.


“Ada apa dengan keributan di luar itu!?”


Tidak ada yang menjawab, hal wajar karena di kelas F sangat menjaga jarak. Bahkan meskipun di luar menjadi heboh dan sebagian kelas keluar untuk menyaksikan apa yang terjadi.


Kelas F hanya diam seolah tidak peduli. Ya semua kecuali…


“Bagaimana kalau kita mengeceknya, Arthur?”


Fiona dia satu-satunya orang yang tampak tertarik dengan situasi luar.


Arthur yang duduk di sebelahnya terdiam hanya menghela napas dan menggelengkan kepala. Dia pun juga masuk dalam kategori yang tidak peduli.


“Ehh! Apa kamu yakin? Entah kenapa aku punya firasat buruk tentang ini.”


Sebuah kejadian yang membuat para murid akademi berkumpul merupakan hal yang sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah. Karena itulah Fiona menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh.


Menanggapi perasaan Fiona, Arthur pada akhirnya mengalah. “Baiklah mari kita pergi.”


Ketika mereka membuka pintu kelas F terlihat sangat banyak siswa yang masih berada di lorong dengan perlahan Fiona dan Arthur berjalan menerobos keramaian.


Karena sedang berada di luar baik Fiona dan Arthur tahu apa penyebab kegaduhan ini tampaknya seorang gadis dikabarkan mengalami peristiwa pembunuhan dan mayatnya berada di kamar mandi perempuan.


Tapi baik Arthur maupun Fiona tidak mengetahui siapa korbannya.


Setelah melewati banyaknya orang akhirnya mereka berdua telah sampai di kamar mandi perempuan. Pemandangan yang ada di sana adalah, seorang gadis yang sangat mereka kenal tampak meninggal dengan luka yang parah. Dan dia adalah Liliana.


Darah dari mayat tersebut terus menetes, baju akademi yang seharusnya putih ternodai. Melihat dari luka tersebut, siapapun tahu bahwasannya kejadian ini baru saja terjadi.


“Menakutkan. Aku tidak menyangka ada orang yang berani melakukan hal seperti ini.:


“Membunuh anggota bangsawan apakah pelakunya adalah orang gila.”


“Apapun itu kita harus menjadi hati-hati.”


Semua orang yang melihat pemandangan ini menjadi ketakutan. Ini sedikit wajar, karena kebanyakan dari mereka adalah bangsawan. Jadi mereka takut apabila pembunuhnya akan menargetkan mereka.


‘Siapa sebenarnya pelaku ini? Pada pagi hari, dia menunjukan taringnya, sungguh orang gila.’


Meskipun terdapat mayat yang tergeletak, Arthur masih bisa tenang, tapi itu hanyalah terlihat di bagian luar.


Kalau boleh jujur Arthur sangat merasa bersalah, andai saja dia tidak egois dan mendengar cerita dari Liliana maka hal seperti ini pasti tidak terjadi.


Meskipun busuk, Arthur tidak menginginkan kematian gadis ini. Dia malah berharap bahwa suatu saat Liliana dapat berubah, namun…


Dia kini sudah mati.


Terhanyut akan pikirannya, Arthur membuka mata lebar. Teringat akan sesuatu yang penting.


Pada malam hari itu, seseorang menyerang Liliana. Jadi kemungkinan besar dialah orangnya.


Mengepalkan tangan Arthur berjanji untuk menemukan sang pelaku