Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 27. Kegelapan hati



"Tenang saja aku berada di pihakmu."


Itulah yang kalimat yang dilontarkan oleh sosok misterius untuk Fiona. Sosok itu makin mendekati gadis pirang tersebut.


Fiona mundur beberapa langkah. Dengan tangan kanan yang menekan dadanya, perlahan dan perlahan. Namun langkah itu terhenti.


Seolah menerima ketidak beruntungan tanpa henti, dinding menghalanginya. Membuat Fiona terkunci tanpa bisa pergi kemanapun.


Sosok itu semakin mendekat, setiap langkah yang diberikan berhasil membuat Fiona mengeluarkan keringat dingin dan napas yang berantakan.


Tangan milik sosok misterius itu tampak mendekati Fiona, seolah hendak memegang wajahnya. Fiona merasakan ketakutan yang luar biasa sehingga dia memutuskan untuk menutup matanya.


Ketika tangan tersebut berjarak beberapa sentimeter dari wajah Fiona. Tiba-tiba sosok misterius itu membuka mata lebar, dia merasakan suatu bahaya yang menghampirinya.


Perlahan dia memegang pedangnya dan menatap lorong gelap tanpa seseorang.


Swoosh


Cring


Dengan sepersekian detik, muncul remaja berambut putih yang menyerang sosok tersebut. Namun seperti bukan apa-apa serangan itu ditahan dengan mudahnya


Remaja berambut putih itu tidak lain adalah Arthur atau lebih tepatnya Shutaru yang merebut tubuh tersebut.


"Hoo~ aku mendapatkan mangsa yang menarik..."


Shutaru tidak merespon. Seperti tidak peduli dengan sosok yang berada di depannya, daripada membalas ucapan dia lebih memilih untuk menebasnya dengan teknik pedang tingkat tinggi.


Bagaikan kilatan cahaya pergerakan mereka tidak bisa direspon dengan mata normal. Yang terlihat hanya dua bayangan yang saling saling bertabrakan.


Setiap pedang mereka bentrok terjadi suara yang amat nyaring, tidak berhenti di sana bahkan bangunan terlihat terombang-ambing oleh kedahsyatan kemampuan mereka.


Cring


Pedang mereka saling bergesekan, menciptakan percikan kembang api yang indah.Pertarungan yang nyaris seimbang membuat Fiona membuka mata lebar karena dia tidak bisa merespon pergerakan dua orang tersebut.


"Jadi... Ini kemampuanmu?"


Sosok misterius itu tersenyum ketika menahan tebasan dari Shutaru yang menguasai tubuh Arthur.


Perlahan, tapi pasti pedang merah yang ditahan itu mengeluarkan aura hitam pekat. Sosok itu membuka mata lebar merasakan perasaan yang tidak enak. Dengan gerakan cepat dia melompat ke belakang, namun tampaknya itu percuma saja.


< Dark Sword technique: First style: Drak slash >


Tebasan kegelapan menerjang sosok itu, dia hendak menghindari dengan melompat, namun percuma. Dia terkena serangan dari Shutaru dengan telak, hingga menciptakan kabut asap.


Perlahan tapi pasti kabut tersebut menghilang dan menampilkan sosok pria tampan dengan rambut pirang panjang dan mata biru yang menyala terang. Dia memiliki armor berwarna putih yang digunakan di perutnya.


“D- dia, jangan bilang Paladin!?” Fiona berteriak, dia tidak menyangka akan sosok besar yang di depannya.


“Seperti yang harapkan dari Nona Fiona, sudah kubilang bukan bahwa saya berada di pihakmu.”


“Apa maksudnya, aku tidak pernah bertemu denganmu. Aku hanya tahu bahwa kamu orang hebat, jadi mana mungkin aku percaya denganmu!”


“Ayahmu, sang raja yang menyuruh untuk menjadi pelindung bagi anda. Dan juga sosok di depanmu adalah ancaman! Sebelumnya aku sengaja mengundang dia ke sini untuk mati di tangan para Vindice, tapi tampaknya itu percuma.”


Paladin tersebut menodongkan pedang miliknya ke arah Shutaru yang diam saja. Dia tampak tidak tertarik dengan fakta bahwa sosok di depannya Paladin, atau mungkin dia sudah mengenalnya.


“Apa yang kamu katakan!? Jangan bertindak seenaknya… Arthur itu penyelamatku, jadi jangan bertingkah tidak sopan!"


Fiona berdiri di depan Arthur dan merentangkan kedua tangannya seperti sedang melindungi anak kecil.


"Jadi begitu aku tahu Nona memiliki perasaan positif ke dia, tapi tolong jangan lengah."


"A- aku tidak seperti sedang membelananya! Hanya saja aku tidak mau seseorang menghina. Jangan salah paham!”


Paladin itu hanya menghela napas melihat sosok putri yang tidak bisa jujur itu, sedangkan Arthur atau lebih tepatnya Shutaru yang sedang merebut tubuhnya hanya terdiam tidak mengikuti pembicaraan.


“Aku tahu perasaanmu tapi dia bahaya. Menyingkir dari situ.”


“Kenapa kamu menganggapnya bahaya!?” ucap Fiona membentak.


“Itu karena dia penderita umbral plague dan juga dia adalah keluarga Midnight, tidak ada alasan lain untuk keluarga Rosemary mendekatinya!”


Paladin itu membalas dengan nada tinggi, tidak mau kalah Fiona sekali lagi mengatakan bahwa itu semua hal bodoh. Mereka berdua terus berdebat di depan Shutaru.


Melihat pertengkaran ini membuat Shutaru tersenyum. Dia berkomunikasi bersama Arthur di alam bawah sadar.


{Woi, bocah. coba lihat itu paladin ingin membunuhmu. Apa yang akan kita lakukan? Jika kamu ingin dia mati maka sebagai naga hitam sepertiku, sosok paladin bukan apa-apa}


“TIdak boleh! Jangan lakukan hal yang tidak perlu, aku sudah tidak mau membunuh apapun lagi!”


{Kamu sangat naif, berbeda dengan saat kamu membunuh para penderita Umbral plague di Dungeon. Apa gadis pirang itu yang mengubahmu?}


“Ini tidak ada hubungannya denganmu! Yang lebih penting cepat kembalikan kesadaranku, jangan melakukan hal bodoh dengan tubuh orang.”


Shutaru menatap Fiona dengan seksama, gadis itu memang mencoba membela, namun Shutaru justru memiliki motif yang jahat, dia menyeringai.


{Baiklah kalau gadis itu penyebab perubahanmu, maka akan kubunuh}


Shutaru melangkah ke depan Fiona dengan pedang merah yang diseret di lantai, seringai jahat terlukis di wajahnya membuat siapapun yang melihat pasti menyadari niat jahatnya.


Shutaru mengangkat pedang hendak menebas tubuh belakang Fiona yang terbuka lebar.


Woi, berhenti! Jangan lakukan hal bodoh.”


Namun bukannya berhenti, Shutaru malah makin tersenyum. Dengan membunuh fiona, Shutaru berharap ke depannya Arthur dapat menjadi lebih layak untuk menyandang gelar pewaris ke delapan.


“Berhenti!”


Pedang itu semakin mendekat beberapa CM lagi akan berhasil merobek tubuh Fiona, tapi sangat beruntung Paladin itu merespon dengan cepat.


Dia berpindah tempat dan menahan tebasan itu. Shutaru berdesis kesal, dia gagal membunuh gadis itu dan waktunya kini mulai memudar.


Untuk meminjam tubuh mempunyai batas waktu dan sebentar lagi waktunya akan habis.


{Sial dasar manusia rendahan}


Shuataru ingin melawan Arthur di alam bawah sadarnya, agar dia tidak kembali lagi. Namun tekad Arthur lebih tinggi.


Kesadaran Shutaru mulai melemah hingga perlahan kesadaran itu berganti kembali ke Arthur. Matanya merahnya kembali menyala tanda bahwa Arthur telah kembali normal.


Tapi, tubuhnya juga menjadi penuh luka. Pertama bertarung dengan feny dan kini harus beradu pedang dengan sang Paladin. Tentu dia tidak punya kesempatan menang. Tadi Shutaru menggunakan tubuhnya untuk melawan paladin.


Tapi kini Arthur dapat merasakan sekujur tubuhnya remuk.


Sakit, sial dasar naga hitam itu..


Pandangan Arthur perlahan melemah. Dia mulai terjatuh di lantai. Sejujurnya menganti kembali tubuh yang sudah dikontrol adalah hal yang menguras tenaga karena itulah Arthur bisa pingsan.


“Arthur!’


Itulah perkataan Fiona ketika menatap Arthur yang terbaring. Sedikit demi sedikit mata Arthur tertutup rapat dan tertidur.