
Di ruang tempat pengistirahatan para guru. Leon Reinhard terlihat duduk saling berhadapan bersama sosok pria dengan wajah mempesona dan ramah.
Dia memiliki rambut hitam tajam yang dibalut dengan kecupan mata yang indah dan menawan. Mata darahnya yang menyala, membuat siapapun yang mengawasi wajahnya terkesan secara instan.
Dia memiliki aura misterius, yang membuat tampak menarik dan menawan. Jas hitam yang ia kenakan, menambahkan kesan yang menonjol. Ia tidak lain adalah Nichola Silverbear.
“Jadi apa yang ingin anda bicarakan kali ini, Leon?”
Dengan senyuman yang tampak ramah, pria tersebut bertanya.
“Ini tentang beberapa murid di kelas F. Mereka tampak lebih agresif ketika Arthur Midnight menginjakan kaki.”
Keheningan berlalu untuk beberapa detik. Nichola menyerup teh hangatnya sebelum berbicara.
“Jadi begitu, ya? Tampaknya para monster itu telah menunjukan taringnya.”
“….”
“Apa kamu masih ingat tujuan kami para guru, Leon Reinhard?”
“Tentu saja aku masih ingat. Tujuan kami adalah menyingkirkan semua potensi bahaya dan memusnahkannya, dalam hal ini kelas F adalah salah satunya.”
Tersenyum mendengar jawaban itu, Nichola lanjut berkata, “Anda benar, kelas F. Kelas yang dikatakan kelas paling lemah, kelas di mana tempat para pecundang dan dipastikan mereka akan keluar jika melakukan kesalahan…”
Nichola menghirup napas dengan Panjang sebelum berkata. Dia seperti menyiapkan perkataan yang tegas.
“Tapi kenyataanya tidak seperti itu! Kelas F justru salah satu yang paling bahaya. Mereka semua memiliki kemampuan kelas atas, tapi sangat disayangkan kemampuan itu tidak bisa dikontrol dengan baik karena itulah aku sebagai kepala sekolah menaruh mereka di kelas F.”
Tidak seperti Nichola, Leon sendiri justru tampak sangat tenang. Dia melihat sang kepala sekolah- Nichola dengan santainya.
Normalnya, sebagai keluarga Reinhard akademi ini diwariskan ke Leon, tapi dia sendiri tidak minat.
“Ya aku tahu. Sebisa mungkin jangan biarkan mereka bertingkah seenaknya… terutama pengguna api amarah itu.”
Berkata demikian Leon, menatap dengan serius. Seolah menekankan bahwa pengguna api tersebut adalah sosok yang berbahaya.
Sekitar tiga tahun yang lalu sebuah kebakaran luar biasa terjadi. Menurut kabar api yang membakar segalanya sangat susah untuk dipadamkan, bahkan butuh beberapa penyihir kelas A ke atas untuk menghentikan kebakaran dari api tersebut.
Dan ada yang mengatakan bahwa pelaku kebakaran itu memiliki kemampuan disebut ‘api amarah’ dan yang paling mengejutkan adalah bahwa pelaku kebakaran tersebut adalah anak kecil.
“Api amarah, ya?”
Berkata lirih, Nichola menatap jendela ruangan dan menghela napas. Sungguh dia berharap tidak akan ada peristiwa seperti itu lagi.
...***...
Disisi lain, Max masih terlihat bernapas dengan terbata-bata.
‘Setidaknya aku tidak menggunakan kemampuan itu.’
Dia sedikit merasa lega, mungkin dia mengira setelah memberi pukulan ke Arthur adalah akhirnya. Tapi sangat disayangkan.
Itu tidak akan terjadi.
“Yang barusan adalah gerakan yang bagus.”
Membalikan badan dengan kecepatan kilat. Max terkejut bahwasanya Arthur dengan sangat cepat berpindah tempat, sebelum Max selesai berpikir, Arthur telah menebaskan pedang miliknya.
Crack
Beruntung, Max membawa dua belah pistol. Dengan pertahanan mantap, dia menahan tebasan itu menggunakan pistolnya. Walaupun dia dibuat mundur beberapa langkah.
Jarak diantara mereka sekarang mungkin adalah lima meter. Tapi Arthur dapat melesat dari jarak tersebut dalam satu tarikan nafas, ini merupakan kecepatan yang tidak bisa dibaca Max.
“Cih, dasar anak sialan!”
Klantang.
Dengan tebasan vertikal ke bawah, Arthur membuat salah satu pistol milik Max terlempar dan jatuh di jarak cukup jauh.
Dan tidak cukup dengan itu.
“Menyerah lah, Max.”
Arthur menaruh sebilah pedang tajamnya ke leher Max. Sebuah tanda ancaman untuk melakukan hal sesuai keinginannya, atau dia akan mati.
‘Glek.’
Merasakan pedang dingin di lehernya, membuat dia menelan ludah. Max teringat akan hal buruk yang pernah terjadi, sebuah peristiwa kebakaran beberapa tahun yang lalu. Masih membekas di hatinya.
*
Max Laurent, dia merupakan putra tunggal dari keluarga laurent yang terkenal akan penggunaan api tingkat tinggi. Salah satu kemampuan api yang diwariskan ke generasi adalah api amarah, sebuah api penghancur dengan tingkat kemampuan level tinggi. Dikatakan bisa menghancurkan apapun yang tersentuh.
Jalankan api amarah, api tingkat rendah saja sudah berhasil membuat tubuh Max terbakar dan menerima luka.
Tapi, Max tidak bodoh. Untuk mengurangi kelemahan itu dia menggunakan pistol sebagai perantara apinya, dan semua berjalan lancar.
Hingga pada suatu malam hari, sebuah penyerangan akan terjadi atas nama organisasi misterius.
“Jadi ini kerajaan Anggelisia, ya?”
Sosok misterius dengan jubah hitam berkata setelah menginjakan kakinya. Mata merah darah miliknya tampak menyala terang di kegelapan ini.
Swoosh
Sekitar empat sosok yang menggunakan jubah yang sama, tiba-tiba muncul di balik kegelapan. Mereka semua berlutut dan menunjukan rasa hormat ke sosok yang berada di depannya.
“Apa yang akan kita lakukan sekarang, Tuan Joker?”
Sosok yang dipanggil joker tersebut tersenyum atas pertanyaan tersebut. Mata merah darah itu semakin menatap tajam kerajaan ini.
“Tentu jawabannya sudah jelas. Kita serang kerajaan ini dan buat bos senang.”
Merasa terkejut. Salah satu orang yang berada di tengah berkata dengan tegas.
“Tapi tuan Joker perintah kita hanya untuk melihat keadaan, penyerangan dan penculikan akan dilakukan tiga tahun kedepan. Tepat pada saat Putri itu berumur tujuh belas tahun.”
“Tidak perlu menunggu tiga tahun ke depan, apa kamu meremehkan Tuan Joker ini?!”
“Tidak… bukan seperti itu.”
“Kalau begitu ikuti perintahku, tidak akan pernah ada kegagalan.”
“…Siap dimengerti.”
“Mari kita mulai permainan ini.”
Di sisi lain keluarga Laurent, sebagai pelindung kerajaan ini terlihat sedang melakukan sebuah rapat singkat. Semua mengenakan perlengkapan bertarung. Siap menerima penyerangan.
“Bagian pintu masuk telah diserang oleh seseorang dan sudah banyak warga yang menjadi korban, menurut saksi mata, katanya pelaku hanya berjumlah sekitar lima orang.”
Seorang yang terlihat seperti pelapor berkata sambil memperlihatkan video penyerangan.
Kerajaan yang sebelumnya makmur kini menjadi hancur, api berkobar di mana-mana dan banyak mayat warga yang tergeletak. Bagaikan lautan darah.
Dan disana terlihat jelas sosok lima orang penyerang yang terus menebas para warga.
“Hanya lima orang?”
“Benar-benar hal yang gila. Para penjaga di pintu masuk seharusnya bukanlah orang lemah, tapi. Sebenarnya siapa mereka?”
Melihat video itu membuat semua orang yang di sana menjadi geram, terutama Wilbrand Laurent kepala keluarga Laurent atau ayah dari Max.
Brak
Dia memukul meja yang menjadi pusat rapat. Terlihat dia sangat marah akan peristiwa yang terjadi.
“Benar-benar sebuah penghinaan, berani-beraninya mereka menyerang di saat malam hari seperti ini. Sebenarnya siapa mereka? Jangan bilang kalau para orang Midnight!”
“Untuk sekarang belum diketahui identitas mereka. Hanya saja, kemungkinan besar itu adalah kebenaran.”
Mengingat Midnight adalah keluarga musuh kerajaan Anggelisa, mencurigai mereka adalah hal wajar. Tapi apakah penyerang adalah mereka?
"Cih, siapapun itu. Tidak ada yang boleh menyerang kerajaan ini! Dengan segenap kemampuan mari lindungi kerajaan ini!”
Wilbrend berkata dengan tegas. Dia menyuruh semua orang untuk bertarung.
“Siap dimengerti!"
Mendengar perintah dari kepala keluarga, semua orang memberikan hormat. Lalu bersiap dengan perlengkapan dan pergi menuju medan pertarungan.
Menyisakan Wilbrend sendiri yang masih menatap video itu dengan seksama.
“Ayah, ayah. Apakah anda ingin pergi?"
Max kecil yang berumur 14 tahun membuka pintu. Dia terlihat ketakutan atas apa yang terjadi. Melihat anaknya, Willard berjalan dan mengelus kepalanya.
“Ya tentu saja.”
“Tapi… Tapi.”
“Tenang saja. Ayah pasti akan membuat semua orang menjadi kapok. Jadi tetaplah di sini.”
Setelah berkata demikian sang Ayah melepaskan tangannya dari kepala Max. Matanya sangat tajam sebuah tanda pembulatan tekad. Dia tanpa mengucapkan satu hal pun, langsung pergi menuju medan pertarungan.