Reincarnated Into Weak Noble

Reincarnated Into Weak Noble
Chapter 44. Keraguan Fiona



Arthur dan Fiona keluar dari ruangan tersebut dengan wajah yang sedikit berat. Pada akhirnya kedua orang tersebut memutuskan untuk bekerja sama dengan Rei Vezalius.


“Apa kamu yakin ini adalah pilihan yang bagus?”


Dengan menundukan kepala seolah ketakutan, Fiona bertanya demikian. Jujur sangat jarang bagi diri Arthur melihat sisi lemah dari Fiona, jadi entah kenapa timbul rasa tidak enak di hatinya.


“Iya ini adalah pilihan yang bagus. Apakah kamu punya alasan untuk menolak?”


Fiona seperti ingin mengatakan sesuatu, namun dia merubah pikirannya dan membendam kalimat tersebut di kepalanya.


“Tidak…”


Mengatakan hal tersebut Fiona menggelengkan kepala dengan gerakan yang lemah, seolah dia tidak memiliki rasa semangat.


Sebenarnya ada apa dengan gadis itu?


Arthur ingin menanyakan secara langsung, tapi Fiona sendiri tampak tidak ingin membahas lebih detail. Jadi dia menghargai keputusan tersebut.


“Yang lebih penting ayo kembali ke kelas F.”


Fiona sudah berjalan menjauh dengan wajah yang lebih lemah daripada biasanya.


Mereka berdua menghabiskan waktu di akademi hingga pelajaran selesai dan mod dari Fiona tidak berubah sama sekali dia tampak sangat lesu.


Setiap jam pelajaran Arthur terus menatap gadis tersebut dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan dia? Terus memikirkan tersebut, dia tidak memperhatikan pelajaran.


Hingaa..


Plak.


“Aduh!”


Leon Reinhard yang tepat pada saat itu mengajar, melempar kapur barus ke Arthur yang terlarut akan pikirannya tersebut, membuat dia mengaduh kesakitan.


Tidak seperti biasanya, kali ini tidak ada lagi tawa yang Arthur terima. Sepertinya ketika Arthur bertarung dengan Rei, membuat sedikit pandangan orang tentangnya menjadi lebih baik. Walaupun tatapan para murid di kelas F masih penuh kebencian.


“Berhenti melamun di pelajaran, Arthur Midnight!”


“Y-ya, maaf.”


Menundukan kepala Arthur mulai mengambil buku dan mulai fokus ke arah catatanya.


Leon menghela napas, dia sedikit melirik ke arah fiona. Dia juga menyadari akan ekspresi lesu gadis tersebut, namun itu bukan urusannya.


Setelah selesai dengan akademi mereka pulang seperti biasa, namun kali ini dengan diri Fiona yang lebih murung.


Di rumah pun sama saja, hingga malam hari saat Arthur ingin tertidur, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintunya. Menyadari seseorang ingin datang, dia memegang pedangnya. Bersiap akan siapapun yang akan datang.


Tapi sungguh diluar dugaan ternyata orang yang menghampiri dan membuka pintu adalah Fiona yang menggunakan pakaian tidurnya.


Menyadari itu, Arthur menaruh kembali pedang ke tempatnya dan menatap ke Fiona.


“Ada apa? Tidak bisa tidur?”


Arthur menyadari bahwa Fiona memiliki sesuatu yang ingin dipikirkan sehingga besar kemungkinan dia tidak tidur.


Fiona dengan jujurnya menganggukan kepala. Meskipun tampak canggung dan malu, dia berjalan dan duduk di kasur Arthur, berdampingan dengannya.


Suasana kembali menjadi hening, sungguh Arthur tidak tahu harus mengatakan apa dalam situasi seperti ini. Dia tahu harus menghibur Fiona, tapi mulutnya tidak bisa mengatakan apapun. Sungguh menyedihkan.


“…Aku takut…” Berkata dengan lirih Fiona memeluk bantal dengan erat.


“Takut dengan apa?”


Fiona memalingkan wajahnya ada sedikit keraguan sebelum berkata, tapi tampaknya Fiona memutuskan untuk bercerita.


“Aku takut dengan kemampuan ini. Melihat tujuh potongan iblis, sungguh hebat ya? Berkat kemampuan ini aku dijauhi banyak orang dan kerepotan.”


Ucapan Fiona barusan membuat hati Arthur menjadi sesak. Dia paham perasaan tersebut.


“Karena kemampuan ini, saat aku berumur empat belas tahun. Kerajaan diserang, banyak orang mati, dan korban paling banyak adalah keluarga laurent. Mereka sudah lenyap sekarang.”


Ini juga Arthur sangat memahami, rasanya membuat orang-orang yang tidak bersalah di sekitarnya mengalami bencana hanya karena mereka bersamamu.


“Dan sekarang aku harus mencoba mengeluarkan potensi dari kemampuan tidak jelas itu, tentu saja aku takut!”


Fiona berteriak seolah mengeluarkan segala emosi yang dia miliki, bersamaan dengan teriakan tersebut. Sebuah butiran air mata berjatuh dengan sempurna melalui kelopak matanya.


Dia pasti cukup menderita karena kemampuan miliknya, di dalam hati paling dalam pasti Fiona berharap untuk menjadi normal seperti gadis pada umumnya.


Ini juga berlaku bagi Arthur oleh karena itu. Dia sangat paham akan perasaan gadis tersebut.


“…Yang paling kutakuti adalah. Apa yang harus kulakukan bila kamu mulai membenciku…”


Kata-kata yang keluar dari Fiona terdengar agak goyah; bahkan volumenya terlalu rendah membuat Arthur tidak dapat mendengarnya dengan jelas. Namun meskipun demikian, setelah berpikir bahwa dia harus menghiburnya, dia mencoba mengatakan sesuatu padanya. Namun, mulutnya tidak bisa.


Tapi, sebagai gantinya tangan miliknya bergerak sendiri, dan Arthur menyadari bahwa kini dia sedang membelai rambut Fiona.


"Eh?"


“A-ah… maaf, tanganku bergerak sendiri!”


Menyadari bahwasanya dia telah terlalu lama dalam membelai kepala gadis itu, Arthur menjadi memerah dan dia dengan cepat menarik tangannya.


Fiona mengeluarkan sedikit ekspresi kecewa, seolah tindakan barusan adalah hal yang dia inginkan. Dia mencibirkan bibirnya.


‘Kenapa tidak melakukannya lebih lagi?’


Perkataan tersebut mengganjal di pikirannya ketika menatap Arthur yang kini tampak salah tingkah. Ini pertama kali bagi Fiona untuk melihat sisi ini dari Arthur, biasanya dia akan terlihat serius dan tidak menunjukan kelemahan.


Di dalam hati dia berpikir


‘Aku tidak menyangka dia punya sisi imut.’


Memikirkan hal tersebut, Fiona tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.


“Apa-apaan dengan senyuman itu!?”


Fiona menggelengkan kepala, merasa puas akan tindakan Arthur dan merasa lebih baik dia menghela napas. Kemudian menjatuhkan kepalanya ke pundak Arthur sambil tersenyum hangat dan ceria, dia berkata.


“Terima kasih.”


Awalnya Arthur ingin mengatakan sesuatu untuk menjauhinya, tapi melihat gadis tersebut yang kini menutup mata dan tertidur dengan lelap, membuat dia tidak tega.


Yah, tidur bukanlah masalah besar. Tapi yang jadi masalah adalah, dia tidur di pundaknya. Ini artinya dia tidak bisa bergerak seenaknya, atau nanti Fiona bisa terbangung.


‘Merepotkan.’


Sedikit melirik ke arah Fiona membuat hatinya menjadi segar. Dia yang sedari tadi lesu dan menyedihkan kini tersenyum sambil tertidur. Dia seperti bermimpi indah.


Meskipun tidak bisa tidur satu malam pun, bagi Arthur itu bukan masalah besar asalkan gadis kecil ini tersenyum dan tidur dengan tenang.


*


Pagi hari telah tiba. Perlahan Fiona membuka matanya. Ketika dia terbangun, pemandangan pertama yang dia lihat adalah Arthur yang tertidur tepat di sampingnya. Mereka saling berhadapan dalam jarak sangat dekat.


Fiona tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi. Tapi yang pasti, pipi Fiona langsung menjadi sangat panas dan dia terus mengingat tentang Arthur yang membelai rambut pirang nya. Dia juga ingat bahwa dirinya sendiri tertidur di pundak pria ini.


Dia menjadi semakin merona dan jantungya terus berdebar ketika  mereka berjarak sangat dekat. Fiona dapat merasakan napas yang menerpa wajahnya.


Tunggu. Dia kini punya firasat buruk..


‘J-jangan bilang Arthur melakukan sesuatu, ketika aku tertidur?’


Mencoba untuk mengecek dia melirik ke arah pakaiannya dan menghela napas, tidak ada hal mencurigakan.


'Lagipula tidak mungkin Arthur melakukan hal itu.'


Fiona sekali lagi mencermati Arthur. Matanya yang terpejam dan bibirnya yang tipis, memberi kesan yang lembut dan tenang. Ia tampak sangat k-keren dan anggun.


'Glek.'


Fiona menelan ludah. 'Aku adalah 'pengantin' kan? Jadi memberikan, c-ciuman di pipi bukan masalah yang besar.'


Fiona memajukan wajahnya ingin melakukan apa yang dia pikirkan.


Tapi sudah terlambat. Pria tersebut membuka matanya dan melemparkan senyuman kepada Fiona.


"Pagi, Fiona."


"P-p… pagi."


Dia berkata dengan nada sangat terbata-bata dan lirih, tidak bisa lagi menahan seluruh mukanya yang kini merona.


Sungguh betapa nakal dirinya karena mau melakukan hal seperti itu. 


Memikirkan itu lagi, membuat Fiona menjadi makin memanas, dia juga berkeringat dingin.


"Fiona kamu—"


"Aku tidak kena demam jadi tidak apa-apa!" teriak Fiona sekencang mungkin untuk menghilangkan rasa malu yang luar biasa ini.


"Eh?"